Terkenal Indah dan Mistis, Ini Kisah Menarik Puncak B29 yang Jarang Diketahui
Merdeka.com - Puncak B29 di Lumajang menawarkan keindahan alam yang tidak perlu diragukan lagi. Wisatawan bisa melihat pemandangan Gunung Bromo dan kawasan sekitarnya dari puncak ini. Rutenya yang lebih mudah dijangkau membuat wisatawan banyak yang memilih kawasan ini untuk menikmati pemandangan salah satu gunung paling indah di Indonesia itu.
Dikutip dari visitlumajang.com, selain memiliki pemandangan indah yang tampak mata, Puncak B29 juga memiliki legenda menarik. Dikisahkan, salah satu keturunan Roro Anteng dan Joko Seger mendapat amanat untuk mendiami Puncak Songolikur yang sekarang disebut Puncak B29.
Anak yang ditugasi untuk mendiami kawasan itu bernama Joko Niti. Oleh karena itu, di kawasan Puncak B29 dibangun tugu pemujaan Joko Niti. Masyarakat setempat percaya, jika memanjatkan keinginan dengan sungguh-sungguh di tugu pemujaan Joko Niti itu, keinginannya bisa terkabul.
Letak Puncak B29

©2020 Merdeka.com/liputan6.com
Puncak B29 terletak di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kawasan wisata ini banyak digemari karena menyajikan pemandangan indah Gunung Bromo dari kejauhan.
Puncak B29 sering juga disebut sebagai Negeri di Atas Awan. Tak sedikit orang yang berkemah di sini untuk menjumpai matahari terbit.
Sejak dibuka pertama kali pada 2013, jumlah kunjungan wisatawan ke Puncak B29 selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Tempat Ritual

©2020 Merdeka.com/liputan6.com
Selain menjadi tempat wisata, oleh masyarakat setempat, Puncak B29 juga dijadikan tempat ritual dan penghormatan kepada para leluhur.
Di kawasan tersebut ada tugu Joko Niti. Masyarakat setempat khususnya Suku Tengger percaya, jika mereka melakukan ritus dengan penuh kepasrahan di tugu Joko Niti, keinginan mereka akan terkabul.
Munculnya Legenda

©2020 Merdeka.com/liputan6.com
Legenda Joko Niti dan Puncak B29 berawal dari sepasang suami-istri Joko Seger dan Roro Anteng. Pernikahan keduanya dikaruniai 25 anak yang disebut-sebut sebagai cikal bakal Suku Tengger.
Konon, salah satu anak Joko Seger dan Roro Anteng mendapat amanat untuk mendiami Puncak Songolikur. Anak itu adalah Joko Niti.
Untuk menghormati keberadaannya, dibuatlah tugu Joko Niti. Masyarakat pun percaya jika melakukan ritus di kawasan ini, keinginannya dapat terkabul.
Dalam kepercayaan masyarakat Tengger dan Jawa pada umumnya, waktu yang paling ampuh untuk melakukan ritual keagamaan yakni pada hari Jumat legi.
Penamaan Songolikur

©2020 Merdeka.com/liputan6.com
Roro Anteng dan Joko Seger merupakan pasangan yang melambangkan unsur penciptaan manusia. Dalam bahasa Jawa, Anteng berarti diam sementara Seger berarti bergerak.
Dalam hal ini, Joko Seger diibaratkan sebagai sel sperma yang bergerak. Sementara, Roro Anteng yang menjadi sel telur yang menjadi tujuan sperma. Dari kejadian tersebut, lahir 25 anak.
Dari peristiwa kelahiran juga terdapat unsur penciptaan lain, di antaranya unsur api, udara, tanah, dan air. Tujuan hidup manusia pun terbagi menjadi empat, meliputi ilmu pengetahuan, hidup berkeluarga, menjauhi sifat keduniawian, dan bersatu dengan Tuhan.
Angka empat dari tujuan hidup serta unsur penciptaan lain digabungkan dengan jumlah anak Roro Anteng dan Joko Seger sehingga hasilnya 29, yang dalam bahasa Jawa disebut Songolikur. Jadilah kemudian kawasan itu disebut Puncak Songolikur yang sekarang dikenal sebagai Puncak B29.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya