Mengenal Cosman Citroen, Sosok di Balik Bangunan-Bangunan Megah Kota Surabaya

Tak hanya dikenal di Surabaya, ia juga membangun sejumlah bangunan di Malang dan Semarang.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Mengenal Cosman Citroen, Sosok di Balik Bangunan-Bangunan Megah Kota Surabaya
Cosman Citroen, sosok di balik bangunan-bangunan megah Kota Surabaya (© 2024 merdeka.com/Wikimedia)

Kota Surabaya jadi saksi bisu pendudukan kolonialisme Belanda. Hal ini tampak dari bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang tersebar di berbagai wilayahnya. Terutama di pusat Kota Surabaya. Dua sosok yang berperan besar menentukan wajah Surabaya pada masa kolonialisme adalah Gubernur Jenderal Daendels dan Cosman Citroen. Keduanya punya kiprah besar di Surabaya pada kurun waktu berbeda. 

Masa Perubahan

Sebelum Citroen tiba di Hindia Belanda pada tahun 1915, arsitektur di Surabaya masih tercermin dari gaya imperial Belanda yang dipopulerkan Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808-1811. Baru  pada awal abad ke-20, kedatangan generasi kedua arsitek Belanda, termasuk Citroen, membawa perubahan signifikan dalam bidang arsitektur di Kota Surabaya. 

Profil

Profil
© 2024 merdeka.com/Instagram @lovesuroboyo

Pria kelahiran 26 Agustus 1881 baru tiba di Hindia Belanda pada tahun 1915. Dua tahun setelah kedatangannya, yakni pada tahun 1917 Citroen ditunjuk menjadi komite pelarangan pembangunan dan pelayanan riset arkeologi.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Google Maps

Mengutip Instagram @lovesuroboyo, Citroen juga merupakan pimpinan Museum Asosiasi Antik di Surabaya dan pernah bekerja sebagai advisor arsitektur di Kota Surabaya.

Maha Karya

Salah satu maha karya Citroen ialah Balai Kota Surabaya. Ia pertama kali membuat rancangan bangunan ini pada tahun 1915-1917. Akibat kendala biaya dan faktor lain pelaksanaan pembangunan pun terlambat. Pada tahun 1920, Citroen berhasil menyelesaikan tahap kedua pembangunan Balai Kota Surabaya, sebuah monumen dengan panjang 102 meter dan kedalaman 19 meter.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Google Maps

Mengutip Liputan6.com, biaya pembangunan Balai Kota Surabaya diperkirakan sekitar 1.000 gulden. Selanjutnya, Balai Kota Surabaya baru ditempati pada tahun 1927.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Pemkot Surabaya

Selain Balai Kota Surabaya, beberapa karya monumental lain garapan Citroen di Kota Pahlawan yakni Gereja GKJW Darmo, RS Darmo, dan Jembatan Gubeng.

Citroen juga merombak bekas gedung Societeit Concordia pada tahun 1917-1918, merancang rumah tinggal di Jalan Sumatra pada 1918, perbaikan gedung Suiersundicaat pada 1925. Selain itu juga membangun rumah dinas Wali Kota Surabaya pada 1927,  Christ Church di Jalan Diponegoro Kota Surabaya dan rumah tinggal di Jalan Kayoon Kota Surabaya.

Bangunan di Kota Lain

Bangunan di Kota Lain
Dok. Istimewa

Tak hanya dikenal mengubah wajah Kota Surabaya, Citroen juga terlibat aktif dalam perancangan sejumlah bangunan di Malang dan Semarang. Ia merancang interior Balai Kota Malang dan terlibat dalam pembangunan Lawang Sewu Semarang.

Citroen juga merancang Jembatan Kayu Kebon Dalem pada 1918, yang kini sudah dibongkar serta diganti dengan jembatan beton. Kemudian Jembatan Wonokromo pada 1932, viaduct kereta api di Jalan Pahlawan pada 1933.

Salah satu karya terakhir Citroen yang terkenal yaitu gedung kantor perusahaan Borneo Smatra Maatschappij di Jalan Veteran Surabaya. Citroen meninggal dunia pada 1935, dan dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur.

Rekomendasi