Kehadiran seorang anak dalam keluarga tidak semuanya mendapat kasih sayang dan perlindungan yang layak. Beberapa anak memiliki nasib kurang beruntung, seperti penelantaran, penyiksaan, dan tindak kekerasan. Perlakukan tersebut berdampak bagi perkembangan anak, baik dampak fisik maupun psikologisnya.
Dampak kekerasan anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak, sebab itu tindakan pencegahan dan perlindungan harus segera diambil untuk menghindarkan anak dari perilaku kekerasan.
Ketahui faktor penyebab kekerasan anak, bentuk-bentuk kekerasan anak, dan dampak kekerasan anak agar dapat mengambil langkah pertolongan yang tepat.
Advertisement
©2016 Merdeka.com
Sebelum mengetahui dampak kekerasan pada anak. Pahami terlebih dahulu pengertian kekerasan pada anak.
Kekerasan pada anak adalah tindakan merugikan yang dapat menyakiti fisik maupun emosional anak sehingga menimbulkan dampak secara fisik hingga kondisi kejiwaan terganggu atau tidak stabil. Hal tersebut menyebabkan kekerasan anak menjadi masalah serius yang masih terjadi di berbagai negara.
Pelaku kekerasan anak mungkin berasal dari orang-orang sekitar yang seharusnya berperan sebagai pelindung bagi anak tersebut, misalnya orang tua, kerabat, pengasuh, tetangga, bahkan guru. Oleh karena itu, kekerasan anak cenderung sulit diungkapkan karena adanya faktor stigmatisasi, ketakutan, dan kurangnya pelaporan resmi.
Apabila Anda mencurigai kasus kekerasan anak, maka segera bantu korban dengan beberapa cara berikut:
- Berikan dukungan emosional pada korban
- Sediakan lingkungan yang nyaman dan aman untuk korban
- Dapatkan bantuan profesional untuk membantu pemulihan korban
- Laporkan tindak kekerasan pada pihak berwajib atau lembaga terkait
Advertisement
Sebelum mengetahui dampak kekerasan anak, berikut faktor penyebab kekerasan anak yang perlu dipahami.
Kekerasan pada anak disebabkan oleh berbagai faktor, setiap kasus kekerasan anak memiliki sebab dan akibat yang kompleks dan dapat saling berkaitan. Sehingga penting untuk memahami faktor penyebab kekerasan anak agar dapat mencegah terjadinya kekerasan anak.
©2016 Merdeka.com
Berikut beberapa faktor penyebab kekerasan anak:
-
Keluarga
Beberapa alasan orangtua melakukan kekerasan pada anak antara lain karena adanya riwayat orangtua mengalami kekerasan saat kecil, imaturasi emosi, kepercayaan diri yang rendah, kurangnya dukungan sosial, dan minimnya pengetahuan terkait pengasuhan.
-
Lingkungan
Salah satu faktor adanya kekerasan pada anak adalah lingkungan. Seseorang yang tinggal dan dikelilingi dengan tindak kekerasan maka akan rentan melakukan atau mengalami kekerasan itu sendiri.
-
Budaya
Budaya atau tradisi di berbagai daerah bermacam-macam, beberapa budaya mungkin menganggap kekerasan terhadap anak sebagai cara untuk mendidik anak agar menjadi yang terbaik.
-
Pendidikan
Kekerasan pada anak dapat terjadi akibat kurangnya pendidikan dan kesadaran dalam menangani masalah keluarga tanpa kekerasan. Beberapa orang menganggap bahwa kekerasan dapat mengatasi masalah.
Advertisement
Banyak orang berkata tidak ada alasan satu pun yang dapat dijadikan sebagai dasar tindak kekerasan pada anak, sayangnya hal tersebut berbeda dengan realita.
Seringkali orang dewasa melakukan kekerasan dengan tujuan agar anak berperilaku baik atau disiplin, dengan cara membentak, mencubit, merendahkan, dan sebagainya. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan salah satu bentuk kekerasan anak.
©shutterstock.com
Dampak kekerasan anak diperoleh dari berbagai tindak kekerasan yang meliputi:
-
Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik merupakan segala bentuk kontak fisik yang dilakukan untuk melukai atau menyakiti anak. Kekerasan fisik memberikan dampak jangka panjang pada kesehatan anak, kesehatan mental, dan kehidupan anak di masa dewasa. Bentuk kekerasan ini termasuk memukul, menendang, menjepit, melempar, menjambak, dan sebagainya yang berakibat pada cedera tubuh pada anak.
-
Kekerasan Psikologis
Bentuk kekerasan ini salah satunya dengan kekerasan verbal, yakni kekerasan yang menggunakan kata-kata berupa ejekan, degradasi, mempermalukan, mengabaikan, mencemooh, kata-kata kasar, kritik yang berlebihan, tuntutan yang tidak wajar, pemutusan komunikasi hingga penghinaan.
Dampak kekerasan anak secara verbal akan berimplikasi pada masalah perilaku dan emosi anak, secara psikologis anak yang tumbuh dengan kekerasan verbal cenderung mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, menyalahkan diri sendiri dan emosi yang tidak stabil.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat setidaknya terdapat 11.952 kasus kekerasan anak sepanjang tahun 2021, dengan bentuk kekerasan seksual sebanyak 7.004 kasus atau 58,6% sebagai jenis yang paling banyak dialami oleh anak-anak.
Bentuk kekerasan ini melibatkan tindakan seksual yang dilakukan terhadap anak, misalnya pemaksaan untuk melakukan perilaku seksual atau melakukan pelecehan pada anak yang belum memiliki pengetahuan tentang seks.
©shutterstock.com
-
Eksploitasi
Eksploitasi anak merupakan praktik memanfaatkan anak untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu, beberapa kasus eksploitasi anak meliputi pekerjaan anak, perdagangan seks anak, dan menjadikan anak sebagai pengemis untuk mendapat keuntungan.
-
Trafficking
Trafficking merupakan salah satu bentuk kekerasan anak yang merupakan praktik mengangkut anak dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu demi mencapai keuntungan. Banyak anak yang menjadi korban trafficking seperti perdagangan seks atau dipaksa berkerja.
-
Penelantaran
Penelantaran merupakan salah satu kekerasan anak sebagai wujud kegagalan orang dewasa. Anak seharusnya mendapatkan perawatan yang memadai atau perlindungan yang cukup, dengan menelantarkan anak akan mengalami pengabaian fisik, emosional, dan tak terpenuhinya kebutuhan.
Advertisement
Advertisement
©2015 Merdeka.com
Dampak kekerasan anak bervariasi, bergantung pada tingkat kekerasan dan respon masing-masing anak. Perlu diingat bahwa dampak kekerasan anak sangat merugikan dan dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang, baik kesehatan fisik maupun mental anak. Berikut dampak kekerasan anak:
-
Fisik
Kekerasan pada anak dapat menyebabkan cedera fisik yang serius, seperti memar, luka, patah tulang, bahkan kehilangan nyawa. Dampak kekerasan anak secara fisik lebih lanjut dapat menyebabkan anak mengalami beberapa hal di bawah ini:
-
Luka pada tubuh, misalnya memar, luka gores, atau luka robek
-
Patah tulang, misalnya disebabkan karena adanya pemukulan, tendangan, atau lemparan benda berat
-
Cedera kepala, kekerasan fisik pada kepala dapat menyebabkan cedera serius misanya trauma pada otak
-
Rasa sakit kronis, kekerasan fisik seperti cedera dan memar mungkin dapat menyebabkan rasa sakit yang berkelanjutan
-
Psikologis
Dampak kekerasan anak menjadikan mereka tidak berdaya sehingga menyebabkan efek negatif terhadap perkembangan psikologisnya. Seorang anak yang mendapatkan kekerasan mungkin mengalami gangguan mental seperti:
-
Trauma psikologis, kekerasan pada anak memengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka sehingga mengalami trauma psikologis yang serius
-
Kecemasan dan ketakutan, respon anak terhadap kekerasan dapat menjadi sangat cemas dan takut, baik terhadap orang yang melakukan kekerasan maupun orang lain
-
Depresi, anak yang mengalami kekerasan dapat merasa sedih, putus asa, hingga kehilangan harapan hidup mereka sehingga dapat mengalami depresi
-
Gangguan tidur, tindakan kekerasan yang menghantui anak menyebabkan mereka mengalami kesulitan tidur atau tidak dapat tidur dengan nyenyak
-
Gangguan makan, dampak kekerasan anak berpengaruh pada perasaan yang mengakibatkan mereka kehilangan nafsu makan atau justru makan terlalu berlebihan sebagai mekanisme koping
-
Sosial
Anak yang mengalami kekerasan akan terhambat perkembangan sosialnya, seperti:
-
Kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, dampak kekerasan anak berpengaruh pada sikap anak yang menjadi penyendiri dan mengurangi kemampuan dalam berinteraksi dengan teman sebaya atau orang dewasa
-
Gangguan pengembangan sosial, kekerasan yang terjadi pada anak membuat mereka kesulitan dalam berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sosial di sekitarnya
-
Pengasingan diri, anak yang mengalami kekerasan dapat merasa terisolasi dan terpisah dari teman dan lingkungan sosial mereka
-
Rendahnya harga diri, perasaan rendahnya harga diri pada anak memengaruhi perkembangan sosial mereka. Bisa saja anak merasa tidak layak untuk bergaul dengan lingkungan atau ketakutan apabila dirinya tidak bisa diterima oleh orang di sekitarnya.
-
Perilaku menyimpang, kekerasan pada anak dapat membentuk perilaku menyimpang atau sikap agresif terhadap orang lain sebagai bentuk mekanisme koping. Dengan kata lain, dampak kekerasan anak berlaku jangka panjang pada perkembangan sosial anak.
-
Dampak jangka panjang
Efek jangka pandang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental, masalah sosial, dan masalah perilaku saat mereka dewasa. Dampak kekerasan anak tidak hanya dirasakan anak pada saat itu juga, namun juga berakibat pada kondisi mereka ke depannya.
Jika Anda mengetahui kondisi seorang anak yang mungkin menjadi korban kekerasan, segera ambil tindakan dengan mencari bantuan, misalnya berkonsultasi dengan psikolog, pihak berwajib, atau lembaga perlindungan anak setempat. Hal tersebut dilakukan untuk dapat memastikan anak terhindar dari tindak kekerasan yang lebih parah, mendapat perlindungan, dukungan, dan perawatan sehingga dampak kekerasan anak segera teratasi.