Perbedaan bulimia dan anoreksia penting diketahui agar Anda tak salah mengenali kedua jenis gangguan makan ini. Ya, bulimia nervosa dan anoreksia nervosa adalah jenis gangguan makan yang berbeda. Keduanya memang dapat memiliki gejala yang sama, namun tetap memiliki ciri perilaku terkait makanan yang berbeda.
Gangguan makan sendiri adalah kondisi psikologis yang melibatkan citra tubuh dan makanan. Orang-orang yang menderita gangguan ini mengembangkan kebiasaan makan yang tidak sehat dan mengalami gejala mental serta fisik.Gangguan makan bukanlah pilihan gaya hidup, karena hal ini dapat sangat mengganggu emosi, pikiran, dan perilaku makan seseorang.
Waktu rata-rata timbulnya gangguan makan seperti bulimia dan anoreksia pada seseorang adalah di usia 18 tahun.Meskipun gangguan makan tidak spesifik menyerang satu kelompok usia atau jenis kelamin, namun umumnya kaum wanita adalah yang paling sering menderita gangguan makan.
Bulimia dan anoreksia adalah dua jenis gangguan makan terpopuler yang diderita. Agar tak salah memahami, berikut informasi selengkapnya mengenai apa saja perbedaan bulimia dan anoreksia serta penyebab utamanya yang penting untuk Anda ketahui.
Advertisement
Perbedaan Bulimia dan Anoreksia
Mengutip Healthline, perbedaan bulimia dan anoreksia yang paling utama adalah penderita anoreksia umumnya menggunakan strategi untuk menurunkan atau menghindari kenaikan berat badan, sementara penderita bulimia biasanya menggunakan strategi "membersihkan" makanan dari sistem tubuh mereka setelah episode makan besar.
Menurut Institut Kesehatan Mental Nasional (NIMH), penderita bulimia dan anoreksia terpaku pada berat badan, bentuk, dan makanannya. Beberapa perbedaan bulimia dan anoreksia yang lain di antaranya adalah;
1. Bulimia nervosa
Ciri utama bulimia adalah episode makan berlebihan yang berulang, yang setelah itu akan dimuntahkan kembali atau "dibersihkan" dari dalam tubuhnya. Sebuah episode dalam kategori bulimia melibatkan makan berlebihan dan upaya penghilangan kalori untuk mencegah penambahan berat badan.
Penderita bulimia umumnya menggunakan metode yang berbeda-beda. Misalnya, ada yang secara teratur membuat dirinya memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakan, menyalahgunakan obat pencahar, suplemen penurun berat badan, diuretik atau enema setelah makan sebanyak-banyaknya.
Bisa juga dengan menggunakan cara lain untuk menghilangkan kalori dan mencegah penambahan berat badan, seperti puasa, diet ketat, atau olahraga berlebihan. Orang-orang yang menderita bulimia mungkin memiliki berat badan normal atau sedikit kelebihan hingga kekurangan berat badan.
2. Anoreksia nervosa
Seseorang dengan anoreksia dapat menunjukkan perilaku berikut:
- makan sangat sedikit, menghindari makanan berkalori tinggi, atau melewatkan waktu makan sama sekali.
- tidak jujur tentang apa yang mereka makan dan berapa berat badan mereka.
- mengenakan pakaian longgar untuk menutupi kondisi tubuh yang kurus.
- minum obat untuk mengurangi rasa lapar.
- memiliki ritual seputar makan.
- sering menimbang berat badan.
- berolahraga berlebihan, yang dapat menyebabkan pingsan.
- melihat diri mereka kelebihan berat badan bahkan ketika sebenarnya mereka sangat kekurangan berat badan.
Beberapa orang mungkin memiliki subtipe anoreksia yang disebut anoreksia binge-purge. Orang-orang ini akan sangat membatasi asupan makanan mereka di sebagian besar waktu tetapi juga memiliki periode makan makanan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Setelah pesta makan, mereka akan "membersihkan" diri dengan minum obat pencahar atau diuretik atau membuat diri mereka muntah.
Anoreksia adalah kondisi kesehatan serius yang dapat menyebabkan kematian melalui bunuh diri atau komplikasi yang terkait dengan kelaparan. Menurut NIMH, penderita anoreksia sering mengalami kondisi kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan.
Advertisement
Penyebab Utama Gangguan Makan
Masih belum jelas apa yang menjadi penyebab utama gangguan makan seperti bulimia dan anoreksia ini. Namun, para ahli medis percaya gangguan makan disebabkan oleh kombinasi dari faktor biologis, psikologis, dan lingkungan yang kompleks seperti;
1. Faktor genetik.
Studi mengatakan bahwa seseorang lebih mungkin mengalami gangguan makan jika mereka memiliki anggota keluarga yang telah menderitanya terlebih dahulu. Ini mungkin karena kecenderungan genetik terhadap sifat-sifat yang terkait dengan gangguan makan, seperti perfeksionisme. Meski demikian, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah memang ada hubungan genetik dalam hal ini.
2. Kesejahteraan emosional.
Orang-orang yang pernah mengalami trauma atau memiliki kondisi kesehatan mental, seperti kecemasan atau depresi, lebih mudah mengalami gangguan makan. Perasaan stres dan rendah diri juga dapat berkontribusi pada perilaku ini.
3. Tekanan sosial.
Citra tubuh ideal yang populer di masyarakat saat ini, harga diri, dan kesuksesan yang disamakan dengan tubuh yang kurus semampai dapat melanggengkan keinginan untuk mencapai tipe tubuh tersebut secara membabi-buta. Hal ini juga dapat dipicu oleh tekanan dari media dan rekan-rekan sepergaulan.