Di tengah Desa Mojolebak Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, tumbuh dua pohon beringin dengan ukuran sangat besar. Tak diketahui pasti berapa umur pohon-pohon tersebut. Masyarakat setempat menyatakan bahwasanya pohon tersebut sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka.
Tepat di bawah pohon tersebut, terdapat patung berbentuk sapi sedang duduk yang disebut Lembu Nandini. Patung itu diperkirakan merupakan peninggalan zaman Hindu atau bahkan zaman sebelumnya.
Masyarakat sekitar menyebut tempat tersebut dengan nama Punden Pendem. Selain masyarakat sekitar, orang-orang dari daerah lain juga menghormati tempat tersebut dengan melakukan lelaku di sana. Bahkan, setiap tahun diadakan bersih desa dengan pementasan wayang kulit semalam suntuk di sekitar patung tersebut.
Advertisement
Pernah Hilang
Patung Lembu Nandini pernah hilang dan kemudian ditemukan dalam kondisi leher terputus. Pencuri diduga memotong leher patung tersebut untuk mengambil emas yang ada di tubuh patung.
Sebelumnya, saat patung tersebut hilang, terjadi peristiwa tak mengenakkan di Desa Mojolebak. Salah satunya ialah satu keluarga ditemukan mengalami gangguan kejiwaan hingga meninggal lantaran gantung diri.
Tidak ada seorang yang mengetahui siapa pencurinya. Masyarakat resah lantaran hilangnya patung Lembu Nandiri bisa menjadi pertanda datangnya musibah yang akan menimpa Desa Mojolebak. Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, aparat desa serempat membentuk tim untuk mencari keberadaan patung Lembu Nandini. Namun, hingga sepekan lamanya, patung tersebut tak kunjung ditemukan.
Advertisement
Tingkah Tak Wajar
Di tengah upaya mencari patung Lembu Nandini, masyarakat dihebohkan dengan salah seorang penduduk bernama Ngatinah yang bertingkah seperti orang dengan gangguan jiwa. Lokasi rumah Ngatinah hanya berjarak beberapa meter dengan Punden Pendem. Kejadian itu membuat masyarakat menghubung-hubungkan peristiwa hilangnya patung Lembu Nandini dengan perubahan perilaku Ngatinah.
Perempuan itu disebut-sebut mengatakan bahwa patung Lembu Nandini harus segera ditemukan. Beberapa orang yang menyaksikan tingkah aneh Ngatinah mengatakan bahwa ia kerasukan. Suara yang keluar dari mulutnya bukan suaranya sendiri, melainkan suara penguasa gaib Punden Pendem.
“Majapahit mungkin artinya Trowulan. Sebab, di situ dulunya adalah pusat Kerajaan Majapahit. Bahkan, di Trowulan sampai sekarang masih banyak pembuat patung,” tutur seorang perangkat desa Mojolebak saat mengartikan maksud ucapan Ngatinah.
Setelah diskusi, waktu itu beberapa orang ditugaskan menuju rumah Mbah Rakso, salah seorang penduduk desa yang dituakan. Mbah Rakso mengajak komunikasi roh halus yang merasuki Ngatinah. Akhirnya, didapatkan petunjuk bahwasanya patung Lembu Nandini yang hilang ada di Majapahit. Penduduk berkesimpulan bahwa Majapahit yang disebut adalah daerah Trowulan, bekas istana Kerajaan Majapahit.
Setelah dilakukan pencarian di daerah Trowulan, patung Lembu Nandini masih belum ditemukan keberadaannya. Tokoh muda asal Desa Mojolebak, Supaat dan rekannya pulang dengan tangan hampa setelah melakukan pencarian hingga jam 12 malam.
Advertisement
Upaya Pencarian
Sesampainya di kampung halaman, Supaat mendapat laporan yang menghebohkan. Ngatinah yang sebelumnya bertingkah aneh dikabarkan meninggal dunia setelah gantung diri.
Supaat masygul dengan kejadian tersebut. Sesampainya di rumah, ia rehat sebentar sebelum akhirnya mendatangi rumah almarhum Ngatinah untuk melekan sebelum jenazahnya dikubur keesokan harinya.
Di rumah duka, Kepala Desa Mojolebak dan Mbah Rakso mendekati Supaat untuk menyampaikan sesuatu.
“Majapahit tak hanya identik dengan Trowulan, Pak Supaat. Bisa juga Majapahit itu adalah Tarik, tempat cikal bakalnya Majapahit berdiri,” tutur Kepala Desa Mojolebak waktu itu, dikutip dari Majalah Liberty edisi 1-10 Februari 2013 (hlm. 62-64).
“lya, perkiraan tersebut juga masuk akal. Desa Tarik memang ada, tapi kalau Tarik secara keseluruhan adalah sebuah wilayah kecamatan yang cukup luas. Di mana saya mesti mencoba memulai pencarian, Pak?” tanya Supaat yang dikenal sebagai tokoh muda pemberani dan cerdas.
Kepala Desa Mojolebak bergerak cepat meminta bantuan polisi untuk mencari orang-orang yang berkecimpung dalam bisnis barang antik di wilayah Tarik. Beruntung, hanya ada beberapa orang yang menjadi kolektor barang antik di daerah Tarik.
Advertisement
Kabar Gembira
Pagi harinya, usai pemakaman jenazah Ngatinah, kabar gembira akhirnya datang. Petugas kepolisian berhasil membawa kembali patung Lembu Nandini ke tempat semula.
Namun, saat ditemukan, leher patung Lembu Nandini tidak lagi utuh karena ada bekas pemotongan dengan gergaji.
Pencuri patung Lembu Nandini rupanya hendak mengambil emas yang ada di tubuh patung seperti dugaan banyak orang. Tapi begitu mengetahui keberadaan emas di tubuh patung Lembu Nandini hanya cerita belaka, pencuri kemudian menjual patung tersebut ke kolektor barang antik yang ada di Tarik, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Setelah mendapatkan nama dan alamat pencuri patung Lembu Nandini, polisi segera menangkapnya. Ternyata salah seorang dari dua pencuri tersebut adalah penduduk Desa Mojolebak sendiri.
Masyarakat Desa Mojolebak menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk sebagai bentuk rasa syukur ditemukannya kembali patung Lembu Nandini sekaligus sebagai upaya tolak bala. Mereka berharap tidak ada lagi musibah yang menimpa desa yang berada di pinggiran sungai Marmoyo, anak Sungai Brantas itu.