Syekh Maulana Ishaq menikah dengan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, setelah berhasil menyembuhkan putri kesayangan raja itu dari penyakit ganas yang diderita sekian lama.
Dua tahun setelah pernikahan keduanya, Dewi Sekardadu mengandung janin Sunan Giri. Sementara itu, ayahnya, Raja Blambangan mulai gelisah lantaran tidak sepaham dengan agama yang disiarkan menantunya. Syekh Maulana Ishaq diusir dari Kerajaan Blambangan.
Advertisement
Diusir dari Kerajaan Blambangan, Syekh Maulana Ishaq melakukan dakwah agama Islam hingga ke pesisir Lamongan. Sebelum pergi meninggalkan kerajaan, ia berpesan kepada sang istri, jika kelak ingin menemuinya agar berjalan menyusuri pesisir pantai utara Pulau Jawa. Pasalnya, Syekh Maulana Ishaq akan melanjutkan dakwah keagamaannya di sekitar sana.
“Setelah menempuh perjalanan jauh, Dewi Sekardadu akhirnya bertemu dengan suaminya di desa ini,” terang H Askur, juru kunci makam Syekh Maulana Ishaq, dikutip dari Majalah Derap Desa, November 2018.
Advertisement
Syekh Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu pun berpisah kembali setelah bertemu di pesisir Lamongan. Sang suami hendak melanjutkan dakwah agama ke daerah lain.
Tempat pertemuannya dengan sang istri di pesisir Lamongan sangat membekas di hati Syekh Maulana Ishaq. Ia pun berpesan kepada dua muridnya, kelak saat meninggal dunia agar dimakamkan di tempat di mana ia bertemu lagi dengan Dewi Sekardadu, yang sekarang dikenal sebagai Desa Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Masyarakat pesisir Lamongan pun mengenal Syekh Maulana Ishaq dengan banyak nama, di antaranya Resi Mualana Ishaq, Prabu Anom, dan Raja Pendito. Masyarakat Desa Kemantren membangun makam Syekh Maulana Ishaq. Makam tersebut dipugar pada tahun 2012. Selain makam, tidak ada peninggalan-peninggalan kuno di tempat tersebut.