Mengintip Keunikan Kampung Hunian Ningrat Zaman Kolonial di Surabaya, Ada Makam Ini

Kampung Botoputih di Kecamatan Tikung, Kota Surabaya, Jawa Timur dikenal sebagai Kampung Ningrat. Ini fakta uniknya.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Mengintip Keunikan Kampung Hunian Ningrat Zaman Kolonial di Surabaya, Ada Makam Ini
Pesarean Botoputih Surabaya. ©2021 Merdeka.com/jawatimuran.disperpusip.jatimprov.go.id

Kampung Botoputih di Kecamatan Tikung, Kota Surabaya, Jawa Timur dikenal sebagai Kampung Ningrat. Banyak sejarawan yang menyebut Kampung Botoputih memiliki kaitan erat dengan sejarah Kerajaan Surabaya.

Penyebutan Kampung Ningrat merujuk pada banyaknya bangsawan yang tinggal di kawasan tersebut, sebagaimana dilansir laman resmi Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Jawa Timur (diakses 10 September 2021).

Pesarean Sentono Botoputih

Di Kampung Ningrat terdapat Pesarean Sentono Botoputih, makam beberapa tokoh lokal yang disegani masyarakat Kota Surabaya di masa lampau. Sebenarnya gerbang Pesarean Sentono Botoputih berada di Jalan Pegirian, namun kompleks makamnya berada di Kampung Botoputih Gang II.

Salah satu tokoh yang dimakamkan di Pesarean Sentono Botoputih adalah Pangeran Lanang Dangiran atau yang dikenal masyarakat Kota Surabaya dengan sebutan Kiai Brondong. Kiai Brondong merupakan putra Pangeran Kedhawung atau Sunan Tawangalun, Raja Blambangan yang bernama Menak Sumandi.

Penyebar Agama Islam

Sebelumnya, Pangeran Lanang Dangiran tinggal menetap bersama Kiai Kendil Wesi. Dari beliaulah ia mendapat pelajaran mengenai Islam. Selanjutnya, Pangeran Lanang Dangiran menikah dengan putri Ki Bimotjili dari Panembahan Cirebondan. Setelah pernikahan itu ia akrab disapa sebagai Kiai Brondong.

Kiai Brondong datang pertama kali ke Dukuh Botoputih Surabaya pada tahun 1595. Saat itu, ia dikenal sebagai muslim yang berperan menyebarkan agama islam di Kota Pahlawan.

Kiai Brondong meninggal pada tahun 1638 dalam usia 70 tahun. Ia meninggalkan tujuh anak. Dua di antaranya ialah Honggo Joyo yang menjadi tumenggung di Pasuruan dan Honggowongso  yang menjadi tumenggung di Surabaya pada masa pemerintah kolonial Belanda. Honggowongso yang dikenal sebagai Kanjeng Tumenggung Surabaya juga dimakamkan di  Pesarean Sentono Botoputih.

Rekomendasi