Tak terasa kini kita telah berhadapan lagi dengan bulan suci Ramadan. Meski dunia sedang dalam kondisi yang tak pasti akibat pandemi COVID-19, namun hal tersebut tak boleh meredupkan semangat dan suka cita dalam menyambut bulan puasa yang penuh berkah ini.
Bulan suci Ramadan adalah bulan penuh pengampunan, di mana semua umat Islam akan berlomba-lomba memperoleh pahala dan pengampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa yang telah diperbuat selama setahun kemarin. Untuk itu, Anda harus memulai bulan ini dengan persiapan yang matang.
BACA JUGA: Doa Dan Niat Puasa Ramadhan, Ketahui Batas Waktunya
Salah satunya adalah dengan mempelajari doa-doa yang berkaitan dengan amalan puasa, seperti niat puasa Ramadan. Selain itu, baik juga untuk mengetahui keutamaan bulan suci Ramadan agar Anda lebih terpacu lagi untuk mengumpulkan pundi-pundi kebaikan di bulan ini.
Berikut ulasan selengkapnya mengenai niat puasa Ramadan yang perlu Anda ketahui.
Advertisement
Niat puasa Ramadan bisa dilakukan untuk sebulan penuh. Namun, hal ini pasti masih asing bagi beberapa orang. Niat puasa Ramadan sebulan penuh yang dimaksud adalah, niat ini dibacakan pada malam pertama bulan Ramadan dengan mengumpulkan niat puasa selama sebulan penuh.
Seusai membaca doa niat puasa ini, Anda tak perlu lagi membaca niat puasa pada esok hari dan hari-hari selanjutnya. Membaca niat puasa sebulan penuh merupakan langkah antisipasi apabila nantinya Anda kelupaan membaca niat harian. Berikut bacaannya:
“Nawaitu shauma syahri ramadhaana kullihi lillaahi ta’aalaa”
Artinya: “Aku niat berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala."
Niat merupakan syarat sah bagi suatu ibadah, seperti puasa. Hal ini telah disepakati oleh para ulama. Bahkan, Imam Syafi’i, Ahmad, Ibnu Mahdi, Ibnu al-Madini, Abu Dawud dan al-Daruquthni menuturkan bahwa niat merupakan sepertiga ilmu. Sebuah ibadah tidak akan sah apabila tidak diawali dengan membaca niat.
Advertisement
Dalam madzhab Syafi’i, lafadz niat puasa Ramadan yang biasa dibaca setiap harinya adalah sebagai berikut:
"Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhisy syahri romadhoona hadzihis sanati lillaahi ta’aala."
Artinya: “Aku niat puasa pada hari esok untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Sementara, menurut Madzhab Hanbali (Hanabilah), bagi siapa yang di dalam hatinya telah terbersit keinginan untuk menjalankan puasa keesokan harinya, maka hal tersebut sudah dianggap sebagai niat.
Advertisement
Niat secara bahasa berarti ‘menyengaja’. Sedangkan secara istilah menurut mazhab Syafi’i adalah ‘bermaksud melakukan sesuatu disertai dengan pelaksanaannya’ (qashdusy syai’ muqtarinan bi fi‘lihi), dikutip dari uninus.ac.id.
Niat berfungsi sebagai pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain, atau dengan adat kebiasaan. Selain itu, niat juga berfungsi untuk membedakan tujuan ibadah seseorang, yaitu apakah beribadah karena berharap ridha dari Allah SWT ataukah pujian dari sesama manusia.
Sementara itu dalam hal pelaksanaannya, niat puasa Ramadan harus diucapkan pada waktu malam hari atau mulai saat ba’da maghrib sampai terbitnya fajar. Apabila dilakukan di luar waktu-waktu tersebut, niat yang dibaca tidak sah dan puasa yang dijalani juga otomatis tidak sah.
Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Imam ad-Daru Quthni yang berbunyi:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ {الدار قطني وصحيحه عن عائشة
“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar subuh, maka tidak ada puasa baginya.”
Terdapat juga dalam hadits daru Qathni yang lainnya, yakni:
لا صيام لمن لم يفرضه من اليل
“Tidak ada puasa bagi orang yang tidak meniatkan puasa semenjak malam.”
Meski demikian, keharusan membaca niat puasa di malam hari sampai sebelum terbit fajar ini hanya berlaku untuk puasa Ramadan saja dan tidak berlaku bagi puasa sunnah.