Peringatan Hari Ibu Nasional Jatuh pada 22 Desember, Berikut Sejarah Lengkapnya

Selasa, 22 Desember 2020 06:10 Reporter : Edelweis Lararenjana
Peringatan Hari Ibu Nasional Jatuh pada 22 Desember, Berikut Sejarah Lengkapnya Ilustrasi Hari Ibu. ©Shutterstock/Sean Bolt

Merdeka.com - Di Indonesia, tanggal 22 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Ibu Nasional. Perayaan ini diselenggarakan dengan maksud dan tujuan menghargai sekaligus menghormati jasa-jasa dan perjuangan kaum perempuan Indonesia dalam hidupnya.

Peringatan Hari Ibu (PHI) juga sekaligus untuk mengenang peran para perempuan sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan para penjajah. Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk memperkokoh semangat semua komponen bangsa dalam mencapai kemajuan di segala bidang.

Dengan diselenggarakannya Hari Ibu Nasional, diharapkan hal ini dapat mendorong peningkatan peran serta kemitraan antara perempuan dan laki-laki dalam melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa untuk mengisi kemerdekaan.

Hakikat peringatan Hari Ibu Nasional setiap tahunnya adalah mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda akan arti dan makna Hari Ibu sebagai sebuah momentum kebangkitan bangsa. Juga penggalangan rasa persatuan dan kesatuan, serta gerak perjuangan kaum perempuan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Sebagai apresiasi atas gerakan yang bersejarah itu, Hari Ibu Nasional ditetapkan setiap tanggal 22 Desember sebagai hari nasional bukan hari libur oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959. Berikut ini sejarah lengkapnya:

2 dari 3 halaman

Sejarah Awal Mula Peringatan Hari Ibu

Peringatan Hari Ibu Nasional yang ditetapkan pada 22 Desember hanya berjarak beberapa pekan dari acara Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Ternyata, Kongres Pemuda tersebut adalah awal mula di mana para pimpinan perkumpulan kaum perempuan merasa tergugah semangatnya. Para perempuan ini ingin mempersatukan diri dalam satu kesatuan yang mandiri.

Atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan, pada tanggal 22-25 Desember 1928 mereka menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Salah satu keputusan dari Kongres tersebut adalah pembentukan organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

PPPI lantas menjadi wadah semangat juag kaum perempuan pada saat itu, bersama-sama dengan kaum laki-laki untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka sekaligus kaum perempuan yang maju.

Pada tahun 1929, PPPI berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII) dan pada tahun 1935, diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres ini berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia dan juga menetapkan fungsi utama perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa yang berkewajiban menumbuhkan serta mendidik generasi baru yang lebih sadar dan tinggi rasa kebangsaannya.

3 dari 3 halaman

Penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu

Pada tahun 1938, Kongres Perempuan Indonesia yang ketiga dilaksanakan di Bandung. Dalam Kongres ini dinyatakan bahwa tanggal 22 Desember akan ditetapkan sebagai Hari Ibu. Hal ini lantas dikukuhkan pula oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember adalah hari nasional dan bukan hari libur.

Tahun 1946, Badan ini berganti nama lagi menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang masih aktif hingga sekarang. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 Desember lantas dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia. Organisasi ini terus berkiprah dan menyuarakan aspirasinya sesuai dengan isu serta tuntutan zaman.

Bagi bangsa Indonesia, Hari Ibu tidak hanya diperingati untuk menghargai jasa-jasa seorang perempuan sebagai seorang ibu, melainkan juga jasa perempuan secara menyeluruh. Baik sebagai ibu dan istri, sebagai warga negara, warga masyarakat, serta abdi Tuhan yang Maha Esa dan pejuang dalam merebut, menegakkan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.

Peringatan Hari Ibu Nasional  diharapkan dapat membawa pengaruh positif bagi peningkatan kualitas hidup, pemenuhan hak dan kemajuan kaum perempuan. Di sisi lain, juga memberikan keyakinan yang besar bahwa apabila perempuan diberi peluang dan kesempatan, mereka akan mampu meningkatkan kualitas hidupnya serta mengembangkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Saat ini bahkan terbukti perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara, mampu menjadi motor penggerak dan motor perubahan (agent of change). Perempuan Indonesia masa kini adalah perempuan yang sadar dan memahami memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki.

Prinsip kesetaraan yang mendasari tentang pentingnya pembagian tugas, peran dan tanggung jawab yang seimbang antara perempuan dan laki-laki telah terjadi dari lingkup keluarga, masyarakat bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perempuan dan laki-laki keduanya adalah "partnership" sekaligus sumber daya insani yang menentukan keberhasilan pembangunan nasional.

[edl]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini