Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Diffuse Axonal Injury yang Dialami David, Begini Penjelasannya

Mengenal Diffuse Axonal Injury yang Dialami David, Begini Penjelasannya ilustrasi rumah sakit. Shutterstock/sfam_photo

Merdeka.com - Berita penganiayaan Cristalino David Ozora alias David (17) olehMario Dandy Satrio (20) masih ramai mewarnai pemberitaan media massa Indonesia. Pasalnya, hingga saat ini David masih belum sadarkan diri usai didiagnosa menderita Diffuse Axonal Injury.

David masih terbaring koma diRumah Sakit Mayapada Kuningan, Jakarta Selatan. Kondisi Diffuse Axonal Injury yang dialaminya adalah sebuah kondisi cedera otak traumatis yang umum terjadi pada korban kecelakaan lalu lintas. Ini adalah cedera yang memiliki dampak serius ke depannya, salah satunya adalah cacat.

Diffuse axonal injury (DAI) sendiri mengacu pada terkoyaknya serabut saraf penghubung panjang otak, atau akson. Juga dikenal sebagai cedera aksonal traumatis, kondisi ini terjadi ketika pukulan atau sentakan keras yang tiba-tiba terjadi ke kepala dan menyebabkan kerusakan pada otak.

Setelah tumbukan, otak bisa bertabrakan dengan bagian dalam tengkorak, yang bisa mengakibatkan robeknya serabut saraf. Cedera terjadi ketika otak bergeser dan berputar di dalam tengkorak. Berikut penjelasan selengkapnya mengenai Diffuse Axonal Injury yang penting untuk Anda ketahui.

Mengenal Apa Itu Diffuse Axonal Injury

Diffuse Axonal Injury atau DAI, yang juga dikenal sebagai cedera aksonal traumatis adalah sebuah kondisi yang terjadi ketika pukulan atau sentakan keras tiba-tiba terjadi di kepala sehingga  menyebabkan kerusakan pada otak.

Setelah tumbukan, otak bisa bertabrakan dengan bagian dalam tengkorak, yang bisa mengakibatkan robeknya serabut saraf. Cedera terjadi ketika otak bergeser dan berputar di dalam tengkorak.

Hal ini dapat memengaruhi kemampuan berbagai bagian otak untuk berkomunikasi dengan bagian lain, yang dapat menyebabkan masalah neurologis, koma, gangguan jangka panjang, atau kematian.

Mengutip Medical News Today, Diffuse Axonal Injury menggambarkan cedera yang biasanya diakibatkan oleh trauma tumpul di kepala dan memengaruhi fungsi otak. Secara khusus, Diffuse Axonal Injury adalah pemotongan atau robekan serabut saraf yang dikenal sebagai akson.

Trauma ini biasanya terjadi akibat pergeseran otak yang cepat di dalam tengkorak. Setelah tumbukan tiba-tiba, gaya mekanis menyebabkan serabut saraf meregang dan robek. Akson adalah bagian neuron yang panjang seperti benang yang menghantarkan impuls listrik. Mereka bertanggung jawab untuk komunikasi antara sel-sel saraf.

Dengan demikian, kerusakan akson dapat mengganggu kemampuan mereka untuk berkomunikasi dan membantu mengkoordinasikan fungsi tubuh, yang dapat menyebabkan kecacatan yang parah. Diffuse Axonal Injury adalah penyebab paling umum dari koma, kecacatan, dan keadaan vegetatif persisten.

Secara klinis, pakar kesehatan mendefinisikan Diffuse Axonal Injury sebagai kehilangan kesadaran yang berlangsung selama 6 jam atau lebih setelah cedera. Kondisi ini juga dapat menyebabkan perubahan perilaku, sosial, fisik, dan kognitif pada seseorang yang mungkin bersifat sementara atau permanen.

Penyebab dan Gejala Diffuse Axonal Injury

Diffuse Axonal Injuri sering terjadi pada kecelakaan traumatis berenergi tinggi di mana otak berputar atau bergerak maju atau mundur di dalam tengkorak. Jika terjadi cukup kuat, trauma dapat merusak akson, menyebabkan interkoneksi saraf ini tidak berfungsi atau terputus dan memengaruhi banyak area otak.

Diffuse Axonal Injury umumnya memengaruhi area otak yang mengandung akson antara lain  materi putih lobus frontal, materi putih lobus temporal, Corpus callosum, dan batang otak. Penyebab utama Diffuse Axonal Injury adalah kecelakaan kendaraan bermotor, kecelakaan terkait olahraga, kekerasan, jatuh yang tidak disengaja (sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua), dan sindrom bayi terguncang.

Usai kejadian berdampak traumatis, orang yang mengalami Diffuse Axonal Injury biasanya mengalami kehilangan kesadaran dan hasil pemeriksaan neurologis yang buruk. Para pakar kesehatan menggunakan Skala Koma Glasgow (GCS) untuk menilai tingkat gangguan kondisi ini.

Mereka menghitung nilai dengan menjumlahkan total dari tiga kategori berbeda untuk mendapatkan skor yang berkisar dari minimal 3 hingga maksimal 15. Skor yang lebih rendah menunjukkan tingkat penurunan yang lebih tinggi. Penderita Diffuse Axonal Injury biasanya memiliki skor GCS kurang dari 8 selama lebih dari 6 jam. Kategori untuk GCS meliputi:

Membuka mata

Spontan: 4Menanggapi pembicaraan: 3Menanggapi nyeri : 2Tidak ada: 1

Tanggapan lisan

Respon berorientasi: 5Percakapan yang membingungkan: 4Respons yang tidak tepat: 3Suara yang tidak dapat dipahami: 2Tidak ada: 1

Respon motorik

Mematuhi perintah: 6Gerakan yang terlokalisir terhadap rangsangan: 5Penarikan: 4Pembengkokan dan pelenturan otot yang tidak normal:3Pelurusan dan pemanjangan otot yang tidak disengaja: 2Tidak ada: 1

Presentasi klinis Diffuse Axonal Injury tergantung pada tingkat keparahan cedera otak. Dalam kasus yang ringan, penderita mungkin memiliki gejala yang menyerupai gejala gegar otak seperti muntah dan mual, kelelahan, sakit kepala, dan pusing. Sementara, penderita Diffuse Axonal Injury yang lebih parah dapat mengalami kehilangan kesadaran dan tetap dalam keadaan vegetatif.

Manifestasi neurologis lain dari kondisi ini dapat mencakup disautonomia. Istilah ini menggambarkan ketika sistem saraf otonom tidak bekerja sebagaimana mestinya. Gejalanya antara lain detak jantung istirahat cepat, pernapasan dangkal yang cepat, keringat berlebih, dan hipertermia.

Perawatan Diffuse Axonal Injury

Perawatan Diffuse Axonal Injury mirip dengan perawatan cedera kepala lainnya. Tujuan perawatan darurat adalah untuk menstabilkan kondisi orang tersebut dan mencegah kerusakan otak yang semakin parah. Biasanya, perawatan darurat yang dilakukan adalah:

  • memastikan bahwa jalan napas terbuka
  • memberikan akses ke ventilasi dan oksigen
  • menjaga tekanan darah
  • Setelah perawatan darurat, penderita memerlukan obat-obatan dan pembedahan untuk membantu mengendalikan gejalanya. Pasien juga mungkin memerlukan rehabilitasi. Bergantung pada tingkat cederanya, ada pasien yang perlu mempelajari kembali banyak tugas sehari-hari, seperti cara berjalan dan berbicara.

    Pakar kesehatan umumnya tidak mempertimbangkan prospek penderita Diffuse Axonal Injuri kronis untuk membaik. Cedera otak traumatis adalah penyebab utama kematian dan kecacatan permanen di seluruh dunia. Bukti menyoroti pentingnya menentukan skor GCS awal dan menstabilkan tingkat oksigen, glukosa, dan tekanan darah.

    Sebuah studi tahun 2020 yang tertuang dalam Brain Journal dari Oxford University Press juga menunjukkan bahwa cakupan dan lokasi Diffuse Axonal Injury dapat membantu memprediksi individu yang berisiko mengalami degenerasi saraf. Sejumlah kecil dari mereka yang mengalami cedera parah dapat sadar kembali dalam tahun pertama setelah cedera.

    (mdk/edl)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP