Melihat Cuaca Ekstrem di Bali, Suhu Dingin Merusak Tanaman, Suhu Panas Memicu Kekeringan Parah

Petani pun harus merogok kocek lebih banyak untuk menyelamatkan tanaman padinya.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Melihat Cuaca Ekstrem di Bali, Suhu Dingin Merusak Tanaman, Suhu Panas Memicu Kekeringan Parah
Melihat Cuaca Ekstrem di Bali, Suhu Dingin Merusak Tanaman, Suhu Panas Memicu Kekeringan Parah (Merdeka.com)

Para petani merugi

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Provinsi Bali dilanda cuaca ekstrem. Beberapa hari terakhir, wilayah Kabupaten Bangli dilanda cuaca dingin ekstrem hingga menyebabkan rusaknya tanaman. Sementara itu, Kabupaten Jembrana dilanda cuaca panas ekstrem.

Puluhan hektare sawah di Kabupaten Jembrana mengalami kekeringan parah akibat musim kering. Seperti dialami warga di Desa Subak, Kabupaten Jembrana.

Kekeringan terutama melanda sawah tadah hujan. Akibatnya, puluhan hektare tanaman padi terancam gagal panen. Petani pun harus merogok kocek lebih banyak untuk menyelamatkan tanaman padinya.

Mereka menggunakan pompa untuk menyedot air dari salah satu sumur bor. Pasalnya, air dari sungai sangat minim sehingga tidak cukup untuk mengairi sawah.

Biaya Membengkak<br>
Dok. Istimewa

Musim kemarau membuat modal petani merawat tanaman padi membengkak. Seorang petani di Desa Subak, Dendiem menuturkan, ia membutuhkan 12 liter bahan bakar per hari untuk menyedot air dari sumur dan dialirkan ke sawah.

Para petani di Kabupaten Jembrana khawatir jika musim kemarau maish berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dipastikan tanaman padi akan mati dan menyebabkan gagal panen.

Suhu Dingin<br>
Dok. Istimewa

Suhu dingin pada malam hingga pagi hari terasa di sejumlah wilayah di Indonesia beberapa hari terakhir. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu dingin menerjang wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Peneliti Pusat Studi Lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Alif Noor Anna, mengungkapkan saat musim kemarau, minimnya tutupan awan menyebabkan sinar matahari langsung mencapai permukaan bumi. Kondisi ini menyebabkan peningkatan suhu, sehingga pada siang hari matahari terasa lebih terik.

“Sementara, tanpa tutupan awan pada malam hari memungkinkan radiasi panas dari permukaan bumi terlepas ke atmosfer tanpa halangan. Akibatnya ada penurunan suhu yang signifikan,” ungkapnya, dikutip dari laman UMS.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/freepik wirestock

Peneliti Pusat Studi Lingkungan  UMS itu menambahkan, angin yang tenang pada malam hari menghambat pencampuran udara, membuat udara dingin terperangkap di permukaan bumi.

Rekomendasi