Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Keunikan Kawin Colongan Banyuwangi, Pasangan Saling Cinta tapi Orang Tua Tak Setuju

Keunikan Kawin Colongan Banyuwangi, Pasangan Saling Cinta tapi Orang Tua Tak Setuju Ilustrasi pengantin. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/manifeesto

Merdeka.com - Masyarakat Using di Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki tradisi pernikahan unik yang dikenal dengan sebutan Kawin Colongan. Pernikahan ini dilakukan atas dasar rasa saling cinta antara seorang laki-laki dan perempuan, namun orang tua mempelai perempuan tidak menyetujui hubungan keduanya.

Pada hari tertentu yang telah disepakati keduanya, calon pengantin laki-laki membawa lari gadis pujaan hatinya.

Pelaksanaan Kawin Colongan

Saat melakukan colongan alias mencuri sang gadis, laki-laki biasanya ditemani salah seorang kerabatnya. Namun, kerabatnya ini hanya bertugas mengawasi dari jauh.

Dalam waktu 24 jam, laki-laki harus mengirim seorang utusan yang dikenal dengan sebutan colok, yakni orang yang memberitahu keluarga pihak perempuan bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang mendapat amanah menjadi colok adalah orang yang memiliki kelebihan dan kepandaian, serta dihormati.

Colok ini memberitahu orang tua pihak perempuan bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah pihak laki-laki melalui ungkapan berikut, “Sapi wadon rika wis ana umahe sapi lanang, arane si X” (Sapi perempuanmu sudah ada di rumah sapi laki-laki, namanya si X”. Istilah sapi wadon merujuk pada calon pengantin perempuan, sementara sapi lanang merujuk pada calon pengantin laki-laki.

 

 

 

Bukti Keberanian

ilustrasi pengantin

©Shutterstock.com/Univega

Setelah mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua sang gadis yang awalnya kurang setuju akan berubah pikiran. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan anaknya.

Ayu Sutarto dalam buku Kamus Budaya dan Religi Using yang diterbitkan Lembaga Penelitian Universitas Jember (2010, hlm. 114-115) mengungkapkan bahwasanya colongan dalam masyarakat Using Banyuwangi tidak dianggap sebagai perbuatan salah. Alih-alih demikian, colongan justru menjadi bukti keberanian dan simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP