Dulu Jualan di Pinggir Jalan Sering Rugi saat Dikejar Satpol PP, Depot Nasi Campur di Surabaya Kini Punya 9 Cabang

Depot ini dibangun dengan dedikasi tinggi satu keluarga

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Dulu Jualan di Pinggir Jalan Sering Rugi saat Dikejar Satpol PP, Depot Nasi Campur di Surabaya Kini Punya 9 Cabang
Dulu Jualan di Pinggir Jalan Sering Rugi saat Dikejar Satpol PP, Depot Nasi Campur di Surabaya Kini Punya 9 Cabang (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kota Surabaya dikenal dengan kuliner Nasi Campur. Nyaris di berbagai sudut kota, menu makanan satu ini bisa dijumpai. Salah satu warung legendaris yang menjual menu ini ialah Depot Nasi Campur Pojok Tambak Bayan.

Cikal bakal depot nasi campur ini sudah ada sejak tahun 1967. Saat itu, Nasi Campur Pojok Tambak Bayan merupakan warung kaki lima di sudut Jalan Tambak Bayan, Kota Surabaya.

“Generasi pertama nenek buyut. Dulu awalnya jualan aneka kue basah terus merambah ke nasi campur. Generasi pertama hanya sebentar, sekitar 6-7 tahun. Kemudian diturunkan ke anaknya, lalu ke papa mertua, sekarang dilanjutkan anak-anaknya,” ujar Manajer Operasional Depot Nasi Campur Pojok Tambak Bayan, Herluinus Donny Utamin, dikutip dari YouTube Kisarasa, Jumat (7/6/2024).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Saat papa saya, generasi kedua, mulai banyak inovasi. Menunya ditambah, ada nasi kuning, dan lainnya,” ungkap Imam Supardi, generasi ketiga Depot Nasi Campur Pojok Tambak Bayan.

Sesuai namanya, menu andalan depot ini adalah nasi campur. Sejak pertama kali berjualan di pinggir jalan hingga sudah punya banyak cabang, depot ini masih mempertahankan menu originalnya.

“Nasi campur terdiri dari soon kecap, tahu bali, usik (sejenis kare), dan tahu semur,” jelas Donny.

Punya Banyak Cabang<br>
Dok. Istimewa

Saat ini, Depot Nasi Campur Tambak Bayan sudah memiliki sembilan cabang. Sebanyak tujuh cabang ada di Kota Surabaya, sementara dua cabang berada di Jakarta. 

Sejak dikelola oleh generasi keempat, depot ini buka setiap hari mulai pukul 05.30 WIB hingga 15.30 WIB.

“Zaman papa mertua malah sudah buka mulai jam 03.30 WIB. Mungkin dulu masih banyak orang jalan pagi, atau orang pulang dugem lapar butuh makan,” seloroh Donny.

Kini, depot nasi campur ini tak hanya terkenal di kalangan warga lokal Surabaya. Banyak wisatawan yang datang demi mencicipi kelezatan nasi campur di sini.
“Saya punya langganan orang Ambon, banyak yang dari luar kota ke sini,” imbuh Donny.

Manajer Operasional Depot Nasi Campur Tambak Bayan mengungkap titik terendah bisnis keluarganya.

“Saat jembatan dekat Jalan Tambak Bayan dibongkar, sepi, bahkan enggak ada pembeli. Saat itu, papa dulu baru ambil kredit rumah, sempat enggak bisa bayar karena ekonomi mandek,” ungkap Imam Supardi. 

Selain itu, saat masih berjualan di pinggir jalan, mereka harus kejar-kejaran dengan Satpol PP.

“Kalau ada Satpol PP atau hujan turun kan kukut, enggak bisa jualan,” imbuh Donny.

Rekomendasi