Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Diabetes Mengancam Kaum Muda, Simak Penjelasan Ahli Gizi Ini Agar Terhindar

Diabetes Mengancam Kaum Muda, Simak Penjelasan Ahli Gizi Ini Agar Terhindar Ilustrasi diabetes. ©Shutterstock.com/Piotr Adamowicz

Merdeka.com - Dua tahun lalu, Arif Yudhistira (33) tiba-tiba merasakan sensasi layaknya orang sakau. Saat itu ia sedang mengendarai motor dan mengaku seperti ‘terbang’. Di waktu bersamaan, ia mencurigai dirinya terkena diabetes. Kejadian itu dialaminya pada Maret 2019.

“Saya curiga mungkin saya kena gula darah. Mengingat bapak juga kena gula,” ujar Arif melalui pesan WhatsApp, Selasa, (2/2/2021).

Di hari yang sama, bapak dua anak itu pergi ke klinik untuk mengecek kondisi kesehatannya. Dari situ diketahui kadar gula darahnya lebih dari 400 mg/dL. Padahal, menurut Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI, batas normal kadar gula darah yakni kurang dari 100 mg/dL.

Sementara menurut Manager of Nutrifood Research Center, Felicia Kartawidjajaputra, M.Sc, seseorang dinyatakan diabetes jika kadar gula darahnya lebih dari 125 mg/dL.

Penyintas Muda

ilustrasi diabetes

©Shutterstock.com/Piotr Adamowicz

Selain Arif, Sekar Saraswati (33) juga terdiagnosa diabetes tak lama setelah melahirkan anak pertamanya. Diagnosa diabetes diterima Sekar pada akhir 2015, saat usianya baru 27 tahun.

Pengalaman hamil dengan vonis diabetes itu dijalaninya dengan berat. “Kehamilan saya berlangsung cukup berat karena ternyata ada diabetes di dalam tubuh saya. Namun, saya tidak tahu sehingga tidak diobati. Akhirnya anak pertama saya lahir prematur dan tidak lama meninggal,” ujar Sekar melalui akun YouTube manisnya darahku yang tayang pada 6 November 2019.  

Sebagai penyintas diabetes, Arif dan Sekar rutin mengecek kadar gula darahnya, baik secara mandiri maupun menggunakan jasa dokter profesional. Sejak 2019, Arif rutin mengecek kondisi kesehatan organ dalamnya dengan bantuan dr. Suhatman Syarif Ganie, Sp.PD, yang bertugas di Rumah Sakit (RS) Cakra Husada Klaten, Jawa Tengah. Sementara Sekar rutin melakukan pengecekan kesehatan pada Dr. dr. Fatimah Eliana Taufik, Sp.PD, KEMD, dokter endokrin di RS Mitra Keluarga Kemayoran, Jakarta Pusat.

Keduanya juga mengaku mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat. “Secara drastis diet gula dan makanan yang manis manis. Tiga hari kemudian gula saya normal kembali. Dan sejak itu saya harus kontrol gula dan pola makan,” terang Arif.

Sementara itu, selain fokus dengan pengobatan diabetesnya, Sekar juga berinisiatif membuat konten video berkenaan dengan manajemen diabetes yang diunggah ke akun YouTube manisnya darahku. Hingga kini, sudah ada 14 video yang diunggah Sekar. Di antaranya menceritakan perjalanan awalnya sebagai penyintas diabetes, membicarakan seluk-beluk diabetes dengan dokter endokrin, hingga yang terbaru yakni alasan ia membuat konten manisnya darahku.

“Saya melakukan minimal dua kali sehari pemeriksaan glukosa darah mandiri. Pertama di pagi hari sebelum makan, kedua di malam hari sebelum tidur. Saya suntik insulin supaya tidak komplikasi karena A1c saya sudah tinggi jadi hanya bisa pakai insulin untuk menurunkannya. Awalnya sih takut, tapi lama kelamaan sudah jadi rutinitas dan saya pengen hidup sehat dan hidup lebih lama, nggak takut lagi,” ujar Sekar dalam satu konten videonya.

Manager of Nutrifood Research Center, Felicia Kartawidjajaputra menyatakan bahwa pengecekan glukosa darah secara rutin penting dilakukan semua orang, tidak terbatas hanya pada penyintas diabetes. Pasalnya, kadang kala orang tidak merasa jika gula darahnya berlebihan.

Bukan Penyakit Lansia

diabetes pada usia muda

©2021 Merdeka.com/Dok. Felicia Kartawidjajaputra

Sekar dan Arif menjadi bukti nyata bahwasanya diabetes tidak hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga mereka yang usianya relatif muda. Dalam acara Health and Nutrition Webinar Series for Journalist “Tetap Sehat Mencari Berita di Masa Pandemi dengan #BatasiGGL” yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Nutrifood (25/1/2021), Felicia juga memaparkan persoalan ini.

“Ada yang bilang diabetes itu penyakit orang tua, kalau udah berapa 60-70 tahun ke atas, kalau yang muda-muda kayaknya enggak deh. Nah, tapi ternyata, dari Riset Kesehatan Dasar 2018 di Indonesia, kasus diabetes itu sudah mulai ada even di usia early 20.  Jadi itu bukan penyakit orang tua lagi. Orang-orang yang usianya 20 tahun, 30 tahun, yang masa-masa produktif itu sama,” tegasnya.

Lebih lanjut, lulusan Wageningen University & Research, Belanda itu menjelaskan kondisi awal seseorang yang menunjukkan ciri-ciri diabetes atau disebut prediabetes. “Prediabetes itu kondisi antara, jadi kadar gula darahnya sudah melebihi batas normal, tapi belum cukup tinggi untuk disebut diabetes,” terangnya.

Jika batas normal kadar gula darah puasa di bawah 100 mg/dL, seseorang yang mengalami fase prediabetes memiliki kadar gula darah puasa antara 100-125 mg/dL. Berbeda dengan diabetes yang menjadi penyakit seumur hidup, imbuh Felicia, fase prediabetes bisa dikembalikan ke kondisi normal.

Ia mengimbau orang-orang yang mengalami fase prediabetes untuk tidak cuek pada pola hidupnya. Pasalnya, jika tidak diperhatikan, dalam waktu 5-10 tahun mendatang fase prediabetes bisa meningkat menjadi diabetes.

“Satu lagi nih, kalau diabetes kan masih ada ciri-cirinya, misalnya ini orang kok badannya kurus ya atau sering buang air kecil, sering merasa haus. Walaupun itu mungkin nggak langsung ya, ciri-ciri diabetes itu muncul beberapa lama. Nah, prediabetes ini malah nggak ciri-cirinya sama sekali, nggak ada tanda-tandanya. Jadi hanya bisa diketahui kalau kita rutin cek gula darah,” ungkap perempuan yang aktif menulis jurnal seputar isu kesehatan itu.

Penjelasan Ahli Nutrisi

diabetes pada usia muda

©2021 Merdeka.com/Dok. Felicia Kartawidjajaputra

Lebih lanjut, Ahli Gizi RS Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Afifah Kurniati menjelaskan pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, lemak (GGL). Pembatasan GGL ini sesuai dengan prinsip Gizi Seimbang, di mana dalam gambaran Tumpeng Gizi, letak GGL berada di pucuk alias area sempit.

“Pembatasan konsumsi GGL telah diatur yaitu Gula: 4 Sdm (setara 54gram), Garam 1 Sdt (2000mg), Minyak/lemak 5 Sdm,” terang Afifah saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Senin, (1/1/2021).

Pasalnya, imbuh alumnus Poltekkes Semarang itu, konsumsi GGL yang berlebih akan berdampak pada kenaikan prevalensi penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, diabetes tipe 2, gagal ginjal, dan serangan jantung.

Pembatasan konsumsi GGL sesuai dengan Permenkes Nomor 30 tahun 2013, di mana pemberlakuan batasan disesuaikan dengan kebutuhan rata-rata orang dewasa di Indonesia. Lebih spesifik, pembatasan konsumsi gula 10% dari total kebutuhan kalori harian, garam 2000 mg/hari, lemak 20-25% dari total kalori harian.

“Kelebihan gula akan menyebabkan kadar gula dalam darah naik dan tidak terkontrol sehingga menyebabkan penyakit diabetes melitus. Kelebihan gula juga berimbas pada menurunnya sistem imun, karena gula sangat disukai bakteri jahat, dan akan membuat bakteri jahat menekan bakteri baik. Dan konsumsi gula berlebih dapat melemahkan kemampuan sel darah putih dalam melakukan fagositosis mikroorganisme berbahaya, sebagaimana kita tahu sel darah putih merupakan sistem imun tubuh,” ungkap Afifah.

Sementara itu, konsumsi garam berlebihan bisa menyebabkan hipertensi. Di mana jika tidak terkontrol hipertensi bisa penyakit jantung, stroke, gangguan syaraf, ginjal, hingga penyakit pembuluh darah tepi. Sama dengan kelebihan gula, konsumsi garam berlebih dapat mengakibatkan melemahnya sel darah putih melawan bakteri patogen.

Selanjutnya, konsumsi lemak berlebih terutama asupan lemak jenuh bisa menyebabkan arteriosklerosis, yakni penyempitan pembuluh darah akibat plak kolesterol. Arterioklerosis dapat menghambat aliran darah dan mengakibatkan penyakit jantung koroner.

Penjelasan Ahli Gizi

diabetes pada usia muda

©2021 Merdeka.com/Dok. Felicia Kartawidjajaputra

Dengan demikian, terang perempuan kelahiran Klaten itu, membatasi konsumsi GGL harian sangat penting dilakukan agar terhindar dari berbagai penyakit di atas. Salah satu langkah preventif yang bisa dilakukan ialah selalu membaca label pangan (nutrition fact) sebelum mengonsumsi makanan kemasan.

“Label pangan berfungsi untuk memberikan informasi nutrisi suatu produk, agar konsumen lebih bijak dalam memilih. Dalam bahasan GGL ini, lebih perhatikan pada kandungan: gula, sodium/natrium, dan lemak. Sesuaikan dengan kebutuhan harian,” ujar Afifah.

Dalam membaca label pangan, perlu diperhatikan porsi yang tertera dalam kemasan. Dalam satu kemasan makanan misalnya, apakah tertulis 1 serving atau bahkan 3 serving. Misalkan tertera 3 serving, artinya kandungan gizi yang tertulis pada makanan kemasan tersebut dalam 1 bungkus setara dengan 3x informasi nilai gizi.

“Misal nih, dalam 1 bungkus keripik kentang ukuran 75 gram tertera 4 serving, kandungan gizi persajiannya 100 kkal, lemak 6 g. Jadi kalau 1 bungkus habis sendiri, dan dihitung kalorinya jadi total sudah konsumsi 400 kkal dan 24 g lemak. Kadang kalau ngemil setidak berdaya itu tahu-tahu sudah menghabiskan 400 kkal yang hampir setara dengan 100 g nasi, 1 porsi sayur, dan 1 olahan lauk goreng,” imbuhnya.

Komposisi Makanan dan Minuman

Ahli Gizi RS UNS itu juga menjelaskan penting untuk mengetahui komposisi makanan dan minuman yang akan dikonsumsi. Di antaranya, mengetahui kandungan karbohidrat terutama gula, garam atau natrium, zat aditif untuk pengawetan makanan, ataupun lemak/minyak sebagai penambah citarasa.

“Dalam 1 porsi minuman boba 500 ml mengandung 374 kkal, 11 g lemak, 1 g protein, dan 67 g karbohidrat (gula sekitar 54 gram atau bisa hingga 5 sdm gula),” ujar Afifah memberi contoh.

Menurutnya, kalori yang terkandung dalam minuman kekinian itu cukup tinggi lantaran penambahan boba yang berbahan dasar tepung.

“Kita tahu tepung-tepungan masuk dalam kategori makanan pokok, sehingga memiliki kalori yang tinggi. Juga kandungan gula yang tidak kalah melimpahnya sehingga membuat cita rasa manis legit,” imbuhnya.

Mengonsumsi minuman manis secara berlebihan akan mengakibatkan kenaikan gula darah. Tidak hanya berlaku pada minuman kekinian, pola konsumsi lain seperti konsumsi es teh berulang kali dalam sehari, minuman soda, hingga alkohol juga bisa menyebabkan kenaikan gula darah. Selain minuman, mengonsumsi camilan atau makanan manis terutama jenis roti juga bisa menyumbang kenaikan gula darah.

“Produk rerotian seperti cheese cake bisa jadi terkandung lemak/kolesterol tersembunyi, dalam artian kita pun tidak sadar sudah makan lemak/kolesterol segitu hanya dengan sepotong kue. Semakin banyak menggunakan komposisi bahan margarin/mentega/minyak/santan akan semakin tinggi kandungan lemak dalam produk tersebut, dan semakin tinggi penggunaan kuning telur pada produk roti semakin tinggi kandungan kolesterol,” terang Afifah.

Afifah juga menjelaskan bahwasanya kandungan garam atau natrium tinggi tidak semata-mata dikarenakan penambahan garam dalam jumlah banyak, namun juga penambahan msg (mononatrium glutamat). Produk pangan yang memiliki kandungan natrium tinggi mudah dijumpai pada produk awetan, seperti produk olahan kalengan, kecap, dan keju.

Selain membatasi konsumsi garam, juga diperlukan sikap bijak dalam mengonsumsi produk pangan yang mengandung natrium tinggi.

“Oh iya, untuk snack makanan ringan yang rasanya relatif gurih dengan penambahan msg, bisa dilihat kandungan natriumnya tinggi. Termasuk produk mi instan juga (natrium yang banyak terdapat pada gurihnya bumbu),” pungkas Ahli Gizi RS UNS itu.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP