Gunung Jali Tebon di Desa Tebon, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro ini dikenal sebagai gerbang masuknya Islam ke kawasan pedalaman. Konon, Syekh Jumadil Kubro yang dikenal sebagai sesepuh para Wali Songo, pernah membuat permukiman muslim di kawasan.
Advertisement
Toleransi Beragama
Presiden ke-IV Indonesia, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam bukunya The Passing Over: Kebebasan Beragama dan Hegemoni Bernegara (1998) menyebut kawasan Gunung Jali Tebon sebagai cikal bakal toleransi beragama di Nusantara.
Syekh Jumadil Kubro membangun permukiman muslim untuk berdakwah. Saat itu, ajaran Islam masih asing bagi orang-orang di kawasan pedalaman.
Jauh sebelum Gus Dur, Thomas Stamford Raffles dalam History of Java (1817) lebih dulu menyebut bahwa Gunung Jali merupakan tempat Sayyid Jumadil Kubro.
Mengutip Raffles, saat Syekh Jumadil Kubro berada di Gunung Jali Tebon, ia pernah mendapat kunjungan dari Sunan Ampel muda.
Advertisement
Advertisement
Daerah Istimewa
Mengutip Instagram @bojonegorohistory, sejak era Hindu Buddha di Nusantara Gunung Jali Tebon dikenal sebagai pusat peradaban.
Daerah yang berada tak jauh dari aliran sungai Bengawan Solo diistimewakan sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Bahkan kerajaan-kerajaan sesudah Majapahit yakni kerajaan Singasari, Kahuripan, hingga Kerajaan Medang Kamulan mengakui kawasan Jali Tebon sebagai tanah perdikan yang bebas pajak.
Keberadaan Gunung Jali tertulis pada sejumlah prasasti, yakni Prasasti Pucangan (1041 M) yang ditulis Raja Airlangga, Prasasti Maribong (1264 M) yang ditulis Raja Wishnuwardana, dan Prasasti Canggu (1358 M) yang ditulis Raja Hayam Wuruk.
Mengutip situs jurnaba.co, Gunung Jali adalah titik temu tiga peradaban kuno: Ngloram (Kerajaan Medang Kamulan), Maribong (Kerajaan Singasari), dan Jipang (Kerajaan Majapahit).
Advertisement
Advertisement