Desa di Bojonegoro Ini Jadi Daerah Istimewa sejak Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro Sesepuh Wali Songo Pernah Tinggal di Sini

Desa ini dikenal sebagai pusat peradaban sejak zaman Hindu Buddha di Indonesia

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
Desa di Bojonegoro Ini Jadi Daerah Istimewa sejak Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro Sesepuh Wali Songo Pernah Tinggal di Sini
Desa di Bojonegoro Ini Jadi Daerah Istimewa sejak Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro Sesepuh Wali Songo Pernah Tinggal di Sini (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Gunung Jali Tebon di Desa Tebon, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro ini dikenal sebagai gerbang masuknya Islam ke kawasan pedalaman. Konon, Syekh Jumadil Kubro yang dikenal sebagai sesepuh para Wali Songo, pernah membuat permukiman muslim di kawasan.

Toleransi Beragama

Presiden ke-IV Indonesia, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam bukunya The Passing Over: Kebebasan Beragama dan Hegemoni Bernegara (1998) menyebut kawasan Gunung Jali Tebon sebagai cikal bakal toleransi beragama di Nusantara.

Syekh Jumadil Kubro membangun permukiman muslim untuk berdakwah. Saat itu, ajaran Islam masih asing bagi orang-orang di kawasan pedalaman.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Taman Budaya Yogyakarta

Jauh sebelum Gus Dur, Thomas Stamford Raffles dalam History of Java (1817) lebih dulu menyebut bahwa  Gunung Jali merupakan tempat Sayyid Jumadil Kubro.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip Raffles, saat Syekh Jumadil Kubro berada di Gunung Jali Tebon, ia pernah mendapat kunjungan dari  Sunan Ampel muda.

Daerah Istimewa

Mengutip Instagram @bojonegorohistory, sejak era Hindu Buddha di Nusantara Gunung Jali Tebon dikenal sebagai pusat peradaban.

Daerah yang berada tak jauh dari aliran sungai Bengawan Solo diistimewakan sejak zaman Kerajaan Majapahit.

Bahkan kerajaan-kerajaan sesudah Majapahit yakni kerajaan Singasari, Kahuripan, hingga Kerajaan Medang Kamulan mengakui kawasan Jali Tebon sebagai tanah perdikan yang bebas pajak. 

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/Unair

Keberadaan Gunung Jali tertulis pada sejumlah prasasti, yakni Prasasti Pucangan (1041 M) yang ditulis Raja Airlangga, Prasasti Maribong (1264 M) yang ditulis Raja Wishnuwardana, dan  Prasasti Canggu (1358 M) yang ditulis Raja Hayam Wuruk.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip situs jurnaba.co, Gunung Jali adalah titik temu tiga peradaban kuno: Ngloram (Kerajaan Medang Kamulan), Maribong (Kerajaan Singasari), dan Jipang (Kerajaan Majapahit).

Hingga kini, kawasan Gunung Jali Tebon dikenal sebagai tempat berziarah. Di sini ditemukan sejumlah makam, salah satunya makam Mbah Jimat.

Rekomendasi