5 Fakta Unik Surabaya Kota Minyak pada Masa Kolonial, Lebih Dulu Terkenal daripada Negara Timur Tengah

Salah satu kilang minyak tertua di Indonesia ada di Surabaya

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
5 Fakta Unik Surabaya Kota Minyak pada Masa Kolonial, Lebih Dulu Terkenal daripada Negara Timur Tengah
5 Fakta Unik Surabaya Kota Minyak pada Masa Kolonial, Lebih Dulu Terkenal daripada Negara Timur Tengah (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Industri perminyakan di Hindia Belanda ternyata sudah lebih dulu dimulai sebelum negara-negara Timur Tengah memulai eksplorasi minyak bumi. Industri minyak di Hindia Belanda sudah dimulai sejak tahun 1888, sementara negara Timur Tengah baru memulainya 20 tahun kemudian di Iran.

Seorang insinyur Belanda, Andrian Stoop menemukan minyak dan gas bumi pertama di Indonesia pada tahun 1886, tepatnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 

Mengutip repository.upnjatim.ac.id, Andrian Stoop mengadakan penelitian minyak bumi di Jawa dan mendirikan DPM (Dutsche Petroleum Maatschappij) pada
tahun 1887. Pengeboran pertama dilakukan di Surabaya.

Pada 28 April 1888, sumur
minyak Koeti resmi beroperasi
dengan kedalaman 172 meter dan
menghasilkan minyak mentah
8,000 liter per hari.

Pada tahun 1888 DPM membuat kilang minyak kecil di Desa Medang (sekarang Kendangsari,
Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya), lokasinya di pinggir jalan besar.

Mengutip its.ac.id, kilang ini mulai beroperasi dari tahun 1889 sampai dengan 1892. Produk dari Kilang
Minyak Medang dijual dengan merk Java Petroleum.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Selanjutnya, pada tahun 1890 didirikanlah penyaringan minyak di daerah Wonokromo.

Pada masa perang dunia kedua (Maret 1942) Jepang berusaha menguasai
Pulau Jawa dari tangan Belanda, salah satu caranya dengan menguasai aset penting seperti ladang minyak.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/freepik standret

Demi mengadang Jepang menguasai aset-aset penting, kolonial Belanda menghancurkan berbagai objek vital seperti gedung pemerintahan, gedung militer persenjataan, hingga kilang minyak di Wonokromo.

Pasca ditinggalkan oleh BPM, peralatan pengeboran berubah dari pengeboran modern menjadi pengeboran tradisional. Saat itu terdapat 8 sumur minyak.

Kondisi Terkini
© 2024 merdeka.com/its.ac.id

Gambar di atas merupakan tangki minyak residu 202 di Kilang Minyak PPSDM Cepu, eks Kilang Minyak Wonokromo.

Rekomendasi