Warisan Budaya Islam di Klaten, Ini Fakta Menarik Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu

Tradisi itu berasal dari seorang tokoh syiar Islam di Klaten bernama Ki Ageng Gribig.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Warisan Budaya Islam di Klaten, Ini Fakta Menarik Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu
Warisan Budaya Islam di Klaten, Ini Fakta Menarik Tradisi Sebar Apem Yaa Qowiyyu (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di bawah terik sinar mentari, ribuan warga memadati pelataran Sendang Plampeyan, Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Setelah Salat Jumat, dua gunungan kue apem Lanang dan Wadon diturunkan ke pelataran Sendang Plampeyan untuk didoakan.

Seusai didoakan, sebanyak lima ton kue apem disebar oleh Pengelola Pelestari Peninggalan Ki Ageng Gribig dari dua bangunan menara.

Sementara di bawah masyarakat yang telah menunggu sejak pagi saling berebut untuk mendapatkannya.

Mereka rela menunggu karena percaya akan mendapat berkah dari tiap kue apem yang mereka dapatkan. Tradisi itu dikenal dengan nama Yaa Qowiyyu.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Mengutip ANTARA, tradisi menyebar apem Yaa Qowiyyu telah diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat Jatinom, Klaten. Tradisi itu dilestarikan untuk mengenang penyebar agama Islam di Jatinom, Ki Ageng Gribig.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Prosesi penyebaran itu diawali dengan kirab gunungan apem mengelilingi desa dan berhenti di Masjid Besar Jatinom. Gunungan itu ditaruh semalam di Masjid Besar Jatinom sebelum keesokan harinya disebar pada masyarakat.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut sejarah, tradisi itu muncul pertama kali saat Ki Ageng Gribig baru pulang dari Makkah usai melaksanakan ibadah haji. Saat itu ia membawa kue apem sebagai oleh-oleh untuk anak, cucu, warga, dan juga pengikutnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sebutan Yaa Qowwiyu berasal dari penggalan doa Yaa qowiyyu, Yaa Aziz qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin, yang artinya Ya Tuhan, berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin.

Pada Jumat (1/9), pelaksanaan tradisi apem Yaa Qowwiyu terasa spesial karena dihadiri oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Lebih spesial lagi, momen itu dimanfaatkan Ganjar untuk menyampaikan salam perpisahan.

Ganjar mengaku senang melihat keceriaan warga menyambut tradisi itu. Di hadapan ribuan warga, ia menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang terjalin selama ini. 

“Saya juga mohon maaf jika ada yang kurang berkenan di hati bapak ibu sekalian. Saya nderek pamit, karena besok tanggal 5 September sudah pensiun. Saya tidak tahu apakah tahun depan diundang lagi untuk acara ini,”

kata Ganjar, mengutip Jatengprov.go.id pada Jumat (1/9).

merdeka.com

Rekomendasi