Masjid Tua di Kebumen Ini Hanya Ditopang Satu Tiang, Begini Penampakannya

Sudah berdiri sejak tahun 1722 tiang penyangga masih terjaga keasliannya hingga sekarang.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Masjid Tua di Kebumen Ini Hanya Ditopang Satu Tiang, Begini Penampakannya
Masjid Soko Tunggal Kebumen (© 2024 merdeka.com)

Sudah berdiri sejak tahun 1722 tiang penyangga masih terjaga keasliannya hingga sekarang.

Di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kebumen, ada sebuah masjid bersejarah yang unik. Bangunan masjid itu hanya ditopang satu tiang penyangga.

Walau begitu, bangunan itu tetap kokoh berdiri. Padahal konon masjid itu adalah yang tertua di Kabupaten Kebumen.
Lantas seperti apa sejarah masjid itu?

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Karena hanya tersusun dari satu tiang penyangga, tempat ibadah itu dinamakan Masjid Saka Tunggal. Dilansir dari Kebumenkab.go.id, masjid itu didirikan pada tahun 1722 oleh Bupati Kendurenan, putra Adipati Mangkuprojo, seorang Wrongko Dalem Keraton Kartasuro.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Berdirinya Masjid Soko Tunggal tak bisa lepas dari sosok Adipati Mangkuprojo. Pada era 1700, Mangkuprojo merupakan tokoh yang gigih melawan penjajah. Karena terdesak ia kemudian melarikan diri dan memilih bergerilya di daerah Pekuncen.

Selain bergerilya, Adipati Mangkuprojo juga giat menyiarkan ajaran Islam. Ia wafat pada tahun 1719.

Sebelum meninggal, Adipati Mangkuprojo berwasiat pada putranya untuk dimakamkan di Pekuncen.

Untuk memperingati 1.000 hari meninggalnya Adipati, didirikanlah masjid tersebut. Konon kerangka masjid disusun di Keraton Kartasura, kemudian baru dibawa ke Pekuncen dengan berjalan kaki. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kerangka masjid terdiri dari satu batang saka dan empat buah danyang atau skur. Kerangka tersebut dibawa dari Keraton Kartasuro menuju Pakuncen dengan berjalan kaki.

Saka Tunggal sebagai penopang utama bangunan ini berbentuk segi empat dengan ukuran 30x30 cm. Saka itu tingginya 4 meter. Di ujung atas tiang penyangga tersebut terdapat empat batang kayu melintang sebagai penyangga utama bangunan masjid tersebut.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Di tengah-tengah saka terdapat empat skur untuk menyangga kayu-kayu yang ada di atasnya. Kayu yang digunakan sebagai saka menggunakan kayu jati pilihan. Selain saka tersebut, bangunan lain di masjid tersebut telah direnovasi.

Pada awal pendiriannya, atap masjid dibuat menggunakan ijuk dan dindingnya menggunakan tabak bambu.

Kurang lebih seabad kemudian, tahun 1822 dilaksanakan rehab bangunan atap di mana ijuk diganti dengan genteng. Tapi dindingnya masih menggunakan tabak bambu.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Baru kemudian di tahun 1922, dinding bambu diganti dengan bangunan tembok batu bata. Kini bangunan tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurut Imam Masjid Saka Tunggal, M. Jafar, saka Tunggal melambangkan keesaan Allah SWT sebagai sang pencipta Tunggal alam semesta. Makna itu diejawantahkan yaitu Masjid Soko Tunggal sebagai tempat untuk meyakini bahwa Allah itu Tunggal atau Esa.

Rekomendasi