Mengenal Kesenian Ledek yang Hampir Punah di Klaten, Pertunjukan Tari Keliling Desa saat Malam Hari

Rombongan penari Ledek akan berkeliling desa di Klaten untuk mencari tanggapan. Biasanya warga akan menanggap agar usahanya lancar ataupun hajatnya terkabul.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Mengenal Kesenian Ledek yang Hampir Punah di Klaten, Pertunjukan Tari Keliling Desa saat Malam Hari
Mengenal Kesenian Ledek yang Hampir Punah di Klaten, Pertunjukan Tari Keliling Desa saat Malam Hari (Merdeka.com)

Sebelum tahun 2000, Ledek marak dijumpai di desa-desa wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ledek ini merupakan salah satu kesenian legendaris berupa pertunjukan tari keliling yang khusus tampil pada malam hari.

Suara perangkat gamelan mini termasuk gong jadi ciri khas hadirnya kesenian Ledek di perkampungan. Biasanya, saat instrumen mulai dimainkan warga dari segala penjuru desa akan berdatangan.

Para pemainnya berjumlah 4 orang, tiga di antaranya sebagai pemain musik gending serta satu sisanya seorang perempuan yang menari. Mereka tampil menggunakan pakaian tradisional, dan penarinya akan menjalankan tugasnya dengan lembut dan gemulai

Meski hampir habis masa jayanya, namun pelestari kesenian ini masih ada dan bisa dijumpai di desa-desa setempat bila beruntung.

Berangkat dari Tradisi Pertanian

Ledek khas Klaten
Ledek khas Klaten Youtube Stef Wandy

Mengutip penelitian yang ditulis oleh Widya Budi Prayogo dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Senin Universitas Negeri Yogyakarta berjudul “Kajian Tema Dan Amanat Legenda-Legenda Dari Kabupaten Klaten, Jawa Tengah” kesenian ini dikabarkan berangkat dari tradisi pertanian.

Ledek, biasanya dipentaskan pasca panen sebagai bentuk kegembiraan warga karena hasilnya amat memuaskan. Ledek dipentaskan pada malam hari karena siang harinya para warga sibuk melaksanakan kegiatan panen raya.

Adapun, asal usul Ledek disebut berasal dari wilayah Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Dipentaskan Pada Malam Hari Menggunakan Penerangan Lampu Cempor

Keunikan dari kesenian Ledek adalah penampilannya yang lazim dijumpai pada malam hari. Biasanya, rombongan sudah mulai berkeliling setelah petang hari sampai menjelang tengah malam.

Mereka akan berkeliling dari desa ke desa, dan mencari warga yang berniat menanggap penampilannya. Wilayah yang dituju adalah seluruh kecamatan di Klaten, termasuk Wedi, Bayat hingga Gantiwarno.

Untuk menarik perhatian warga, pemain musik sesekali menabuh kendang atau gong sehingga para penghuni rumah akan datang memenuhi titik pertunjukan. Saat pertunjukan dimulai, lampu cempor berbahan bakar minyak tanah lantas dinyalakan sebagai penerang.

Bisa Ditanggap Dadakan

Ledek Khas Klaten
Ledek Khas Klaten Youtube Hasym Wonosegoro Krakitan

Keunikan Ledek selain ditampilkan pada malam hari, adalah bisa ditanggap dadakan oleh warga yang melihatnya. Ledek pun akan bersedia menampilkan pertunjukannya di halaman rumah si penanggap dan akan diikuti warga-warga lain yang ingin menyaksikan.

Mengutip film dokumenter tentang Ledek Penari Terakhir di Klaten, biayanya mulai dari 50 ribu rupiah untuk satu lagu berdurasi panjang yang dimainkan. Ledek, warga yang masih ingin menyaksikan bisa kembali menanggapnya selama penari dan pemain musik masih berkenan untuk menampilkan pertunjukan Ledek.

Ditanggap agar Usaha Lancar

Selain sebagai kesenian pertanian, ternyata Ledek juga menjadi sarana permohonan dari warga di sana. Biasanya, warga setempat akan menanggap Ledek agar usaha yang dimiliki bisa lancar dan meraih kesuksesan.

Bahkan, warga yang memiliki keinginan memiliki kendaraan, sembuh dari sakit atau agar hewan ternaknya laku akan dengan senang hati menanggap Ledek agar harapannya terlaksana.

Saat ini, kesenian Ledek perlu dilestarikan sebagai salah satu kesenian khas yang ada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Rekomendasi