Mengenal Body Dysmorphic Disorder dan Gejalanya, Gangguan Obsesif pada Penampilan

Bisa jadi, orang yang sering mengalami perasaan dan pikiran tersebut, memiliki kondisi boody dysmorphic disorder. Body dismorphic disorder atau gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi kesehatan mental di mana Anda tidak dapat berhenti memikirkan satu atau lebih dari kekurangan atau cacat dari penampilannya.

Ayu Isti Prabandari
Oleh Ayu Isti Prabandari - Reporter
Mengenal Body Dysmorphic Disorder dan Gejalanya, Gangguan Obsesif pada Penampilan
Ilustrasi jerawat. ©Shutterstock

Bagi sebagian orang, kekurangan yang terdapat pada tubuh atau fisik menjadi salah satu hal yang cukup mengganggu. Mulai dari masalah jerawat, bentuk tubuh, berat badan, tinggi badan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, kekurangan yang terdapat pada fisik adalah suatu hal yang normal bagi setiap orang.

Meski begitu, tidak semua orang dapat dengan mudah menerima kekurangan tersebut. Bahkan, pada beberapa kasus tertentu, seseorang dapat merasa cemas atau takut secara berlebihan atas kekurangan yang ada pada tubuhnya. Misalnya, seperti orang yang sering mengeluh tubuhnya gemuk, walaupun orang lain masih menganggap kondisi tubuhnya normal.

Bisa jadi, orang yang sering mengalami perasaan dan pikiran tersebut, memiliki kondisi boody dysmorphic disorder. Body dismorphic disorder atau gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi kesehatan mental di mana Anda tidak dapat berhenti memikirkan satu atau lebih dari kekurangan atau cacat dari penampilannya.

Orang yang mengalami dismorfik tubuh sering kali merasa cemas dan terlihat kerap berulang kali memeriksa cermin. Bukan hanya itu, terdapat beberapa gejala body dysmorphic disorder lainnya yang perlu Anda perhatikan. Seperti adanya keyakinan kuat memiliki cacat pada tubuh, keyakinan orang lain selalu memperhatikan dan memandang negatif, dan lain sebagainya.

Berikut, kami merangkum tentang body dysmorphic disorder, gejala, dan penjelasan lainnya, bisa Anda simak.

Gangguan dismorfik tubuh adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang tidak dapat berhenti memikirkan satu atau lebih cacat atau kekurangan yang dirasakan dalam penampilan. Bahkan, cacat yang menjadi fokus dari seseorang tersebut hanya tampak kecil atau bahkan tidak disadari sama sekali oleh orang lain.

Ini terjadi tidak lain karena seseorang terlalu fokus pada penampilan dan citra tubuh yang dimiliki. Sehingga cacat sekecil apapun akan diperhatikan dan bisa sangat malu dengan kondisi tersebut. Berikut adalah beberapa gejala yang sering terjadi pada orang yang mengalami body dysmorphc disorder:

  • Keyakinan kuat bahwa Anda memiliki cacat pada penampilan yang membuat Anda jelek
  • Keyakinan bahwa orang lain memperhatikan penampilan Anda secara negatif atau mengejek Anda
  • Terlibat dalam perilaku yang ditujukan untuk memperbaiki atau menyembunyikan cacat yang dirasakan yang sulit ditolak atau dikendalikan, seperti sering memeriksa cermin, berdandan, atau mencungkil kulit
  • Mencoba menyembunyikan kekurangan yang dirasakan dengan gaya, riasan, atau pakaian
  • Terus-menerus membandingkan penampilan dengan orang lain
  • Sering mencari kepastian tentang penampilan Anda dari orang lain
  • Memiliki kecenderungan perfeksionis
  • Mencari prosedur kosmetik dengan sedikit kepuasan
  • Menghindari situasi sosial

Setelah mengetahui berbagai gejala, berikutnya akan dijelaskan tentang penyebab dan faktor risiko dari body dysmorphic disorder. Hingga kini, tidak diketahui secara spesifik apa yang menyebabkan gangguan dismorfik tubuh.

Seperti banyak kondisi kesehatan mental lainnya, gangguan dismorfik tubuh dapat diakibatkan oleh kombinasi beberapa masalah, seperti riwayat gangguan keluarga, evaluasi atau pengalaman negatif tentang tubuh atau citra diri Anda, dan fungsi otak yang tidak normal atau kadar kimiawi otak yang tidak normal. disebut serotonin.

Gangguan dismorfik tubuh biasanya dimulai pada awal masa remaja dan memengaruhi pria dan wanita. Faktor-faktor tertentu tampaknya meningkatkan risiko berkembangnya atau memicu gangguan dismorfik tubuh, termasuk:

  • Memiliki kerabat darah dengan gangguan dismorfik tubuh atau gangguan obsesif-kompulsif
  • Pengalaman hidup negatif, seperti ejekan masa kecil, pengabaian atau pelecehan
  • Ciri-ciri kepribadian tertentu, seperti perfeksionisme
  • Tekanan masyarakat atau ekspektasi akan kecantikan
  • Memiliki kondisi kesehatan mental lain, seperti kecemasan atau depresi

Setelah mengetahui penyebab dan faktor risiko, terakhir akan dijelaskan tentang risiko komplikasi dan cara pencegahan untuk kondisi body dysmorphic disorder.

Beberapa komplikasi yang mungkin disebabkan oleh atau terkait dengan gangguan dismorfik tubuh meliputi:

  • Rendah diri
  • Isolasi sosial
  • Depresi berat atau gangguan mood lainnya
  • Pikiran atau perilaku bunuh diri
  • Gangguan kecemasan, termasuk gangguan kecemasan sosial (fobia sosial)
  • Gangguan obsesif kompulsif
  • Gangguan Makan
  • Penyalahgunaan zat
  • Masalah kesehatan dari perilaku seperti memetik kulit
  • Nyeri fisik atau risiko cacat karena intervensi bedah berulang

Sementara langkah pencegahan, tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah gangguan dismorfik tubuh. Namun, karena gangguan dismorfik tubuh sering dimulai pada awal masa remaja, mengidentifikasi gangguan tersebut lebih awal dan memulai pengobatan mungkin bermanfaat. Perawatan pemeliharaan jangka panjang juga dapat membantu mencegah kambuhnya gejala gangguan dismorfik tubuh.

Rekomendasi