Mengenal Tenun Troso, Kain Unik Khas Jepara Masih Dibuat dengan Cara Tradisional

Tenun troso merupakan tenun ikat tradisional khas Jepara. Walaupun teknologi tenun sudah sedemikian majunya, tenun jenis ini masih mempertahankan cara-cara tradisional demi mempertahankan kualitas dan keasliannya.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Mengenal Tenun Troso, Kain Unik Khas Jepara Masih Dibuat dengan Cara Tradisional
Kain Tenun Troso. ©2023 liputan6.com

Jepara dikenal dengan berbagai kerajinannya. Selain ukir kayu, tempat itu juga memiliki kerajinan tenun. Salah satunya adalah kerajinan tenun troso.

Dilansir dari Liputan6.com pada Jumat (27/1), tenun troso merupakan tenun ikat tradisional khas Jepara. Sesuai namanya, tenun ini berasal dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan.

Lantas apa keunikan tenun ini? Berikut selengkapnya:

Di Desa Troso, hampir semua warga bermata pencaharian sebagai perajin tenun. Awalnya kerajinan ini dikenalkan oleh dua tokoh yang dihormati di desa ini, Ki Senu dan Nyi Senu. Nyi Senu adalah orang pertama yang memiliki keterampilan membuat kain tenun.

Pasangan suami itu kerap mengenakan kain tenun buatan mereka sendiri saat hadir di acara-acara besar. Kain itu membuat warga Desa Troso tertarik. Akhirnya Nyi Senu mengajari cara pembuatan kain itu kepada warga.

Perlahan, keterampilan ini semakin dikuasai warga dan diwariskan secara turun-temurun. Kerajinan ini lama-lama menjadi identitas warga Desa Troso dan menjadi sumber mata pencaharian.

Salah satu keunikan Kain Tenun Troso adalah pembuatannya masih menggunakan cara tradisional. Maka tak heran, karena juga mementingkan kualitas serta estetika, pembuatan kain ini memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Prosesnya dimulai dari pengetetan dan pewarnaan benang. Kemudian benang dijemur dan ditata sesuai motif. Setelah itu benang ditarik menggunakan alat bum satu per satu. Lalu dilanjutkan dengan proses pencucukan.

Setelah semua proses selesai, barulah kain dapat ditenun. Ada dua motif dalam pembuatan kain troso, yang pertama motif lompong (talas) dan motif daun cemara. Perlahan-lahan, motif itu dikembangkan warga dengan cerita atau filosofi yang berbeda-beda.

Rekomendasi