Akibat Pemanasan Global, Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Rob Pesisir Utara Jawa

Banjir rob yang terjadi di Semarang dan sekitarnya pada Senin (23/5) menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Bencana ini menarik perhatian pakar geomorfologi pesisir dan laut UGM Bachtiar W. Mutaqin. Dia mengatakan bahwa peristiwa rob di Semarang sebenarnya sudah memiliki riwayat yang lama.

Shani Ramadhan Rasyid
Oleh Shani Ramadhan Rasyid - Reporter
Akibat Pemanasan Global, Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Rob Pesisir Utara Jawa
Anak Pesisir Berenang saat Banjir Rob. ©2020 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Banjir rob yang terjadi di Semarang dan sekitarnya pada Senin (23/5) menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Walaupun sudah dibuatkan tanggul, toh banjir rob itu tetap terjadi dan tanggul penahan tak berdaya menahan gelombang pasang yang terjadi beberapa hari belakangan ini.

Bencana banjir rob di Semarang menarik perhatian pakar geomorfologi pesisir dan laut Universitas Gadjah Mada (UGM), Bachtiar W. Mutaqin. Dia mengatakan bahwa peristiwa rob di Semarang sebenarnya sudah memiliki riwayat yang lama.

Lalu kenapa peristiwa itu selalu berulang dan berulang kembali? Ini penjelasan Bachtiar:

Bachtiar mengatakan, banjir rob di Semarang memang sering terjadi. Tapi kejadian pada tahun ini menjadi berbeda karena bersamaan dengan puncaknya pasang air laut. Pada saat itu, jarak antara bumi dan bulan begitu dekat. Selain itu, ia mengungkapkan penyebab lain banjir rob yaitu penggunaan air tanah berskala besar yang mengakibatkan penurunan muka tanah.

“Pasangnya cukup tinggi, tanggulnya jebol, ya akhirnya kawasan di pesisir Semarang terendam. Sebenarnya fenomena ini sudah dimitigasi oleh pemerintah. Tapi karena muka laut memang cukup tinggi dan ada bangunan yang jebol, akibatnya banyak yang terendam,” jelas Bachtiar, mengutip dari ANTARA pada Selasa (24/5).

Menurut Bachtiar, kawasan pantai utara Jawa dikenal sebagai kawasan rawan rob. Peristiwa itu terjadi dipicu oleh pemanasan global yang menyebabkan naiknya permukaan air laut. Ditambah lagi, material tanah di utara Jawa memang belum solid.

“Ditambah banyaknya permukiman. Tidak hanya permukiman pribadi atau perorangan, tetapi juga skala industri. Sehingga dimungkinkan penggunaan air tanah. Akibatnya banyak permasalahan cukup kompleks, mulai dari kenaikan muka air laut, kemudian material tanahnya yang aluvial umurnya masih muda. Juga terkait dengan penggunaan lahan,” terang Bachtiar.

Lebih lanjut, Bachtiar menjelaskan kalau material tanah di utara Jawa terbentuk dari endapan sedimentasi sungai, sehingga material sedimen itu diukur dari skala geologi masih muda. Tak heran masih banyak tanah labil dan belum solid.

Oleh karena itu, penggunaan lahan di sana perlu diatur oleh pemerintah. Demikian pula yang menyangkut industri skala besar beserta penggunaan air tanah yang biasanya kapasitas penggunaannya jauh lebih besar dibanding pemakaian oleh masyarakat biasa.

“Kami berharap ada semacam moratorium atau peraturan yang melarang penggunaan air tanah pada skala industri atau seperti apa bentuknya, ini penting dilakukan,” pungkas Bachtiar, mengutip dari ANTARA pada Selasa (24/5).

Rekomendasi