Kasus COVID-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta terus melonjak. Bahkan pada Sabtu (13/2), jumlah pasien bertambah menjadi 1.065 orang.
Kepala Bagian Humas Pemda DIY, Ditya Nanaryo Aji mengatakan jika mengacu pada riwayat kasusnya, jumlah 1.065 itu terdiri atas 276 kasus periksa mandiri dan 789 kasus hasil pelacakan kontak kasus positif. Namun dari penambahan kasus itu, tidak ditemukan pasien yang meninggal dunia.
Lantas bagaimana kondisi COVID-19 di DIY? Berikut selengkapnya:
Advertisement
Dari hari ke hari, kasus COVID-19 di Bantul terus mengalami kenaikan. Pada tanggal 31 Januari, jumlah pasien COVID-19 yang diisolasi masih berada di angka 65 orang.
Namun per 12 Januari, jumlahnya melonjak jadi 1.088 orang. Dari jumlah tersebut, tidak ditemukan ada pasien COVID-19 yang meninggal dunia.
Berkaitan dengan kasus yang terus meningkat itu, Bupati Abdul Halim Muslih meminta masyarakat tidak perlu panik dan tidak perlu khawatir, namun yang penting pemakaian masker harus tetap dilakukan.
“Bagi masyarakat yang belum divaksinasi segera divaksinasi, agar menjadi tameng, memberikan perisai dari dalam untuk kemungkinan terpapar COVID-19, khususnya varian Omicron,” kata Abdul Halim dikutip dari ANTARA pada Sabtu (12/2).
Advertisement
Pada hari Sabtu (12/2), jumlah penambahan kasus COVID-19 di Kulon Progo adalah sebanyak 104 kasus. Jumlah itupun menjadi yang tertinggi sejak awal 2022. Juru Bicara Gugus Tugas COVID-19 Kulon Progo, Baning Rahayujati mengatakan, penambahan kasus COVID-19 ini berdampak pada keterisian tempat tidur rumah sakit rujukan COVID-19 dan jumlah rukun tetangga (RT) dengan kriteria zonasi.
Ia mengatakan, untuk saat ini, keterisian bangsal rumah sakit dengan pasien COVID-19 sebesar 6,4 persen dari total 125 tempat tidur yang tersebar di dua rumah sakit milik pemerintah dan tujuh rumah sakit swasta. Sedangkan keterisian bangsal rumah sakit dengan pasien COVID-19 dan suspek sebanyak 14,4 persen.
“Mayoritas pasien aktif di Kulon Progo melakukan isolasi mandiri,” kata Baning dikutip dari ANTARA.
Advertisement
Dari jumlah penambahan kasus COVID-19 di DIY pada Sabtu (12/2), Kabupaten Sleman menempati peringkat tertinggi dengan 506 kasus. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati mengatakan lonjakan kasus COVID-19 yang ada di Sleman disebabkan karena munculnya banyak klaster di tengah masyarakat.
Dari klaster tersebut, yang paling mendominasi adalah klaster sekolah, lalu ada pula klaster perkantoran di lingkungan Pemkab Sleman, dan ada juga klaster tenaga kesehatan yang ditemukan di satuan pelayanan kesehatan. Meskipun kasus melonjak, namun Khamidah menjamin pelayanan masih dapat dilakukan dengan baik.
“Oksigen, obat-obatan dan vitamin, kami pastikan kondisinya aman. Termasuk shelter isolasi untuk menampung pasien COVID-19 bergejala ringan sudah disiapkan di Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang,” kata Khamidah.