Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Magelang, merupakan salah satu desa yang berada di lereng Gunung Merbabu. Dilansir dari kanal YouTube BPNB DIY, desa yang jaraknya hanya 15 km dari puncak Merbabu itu hampir tak pernah sepi dari festival kesenian rakyat.
Berbagai kesenian seperti saparan, sadranan, tari topeng ireng, kuda lumping, dan tari soreng hampir selalu rutin dipentaskan secara massal. Dalam pentas kesenian itu, semua warga dilibatkan demi membangun semangat gotong royong dan kerukunan.
Dari banyaknya kesenian itu, tari soreng adalah salah satu yang paling populer. Dengan irama musik yang dinamis, cepat, dan menghentak, banyak warga desa yang menggemari tarian ini.
Tarian ini pun memiliki sejarah yang panjang. Seperti apa keistimewaan tarian ini? Berikut selengkapnya:
Advertisement
Menurut Penasehat Kesenian Tari Soreng, Taryono, kesenian Soreng sarat nilai sejarah. Mulai berkembang pada tahun 1920-an, tarian ini selalu diminati masyarakat di saat kesenian lain mulai ditinggalkan. Selain itu, dalam tarian ini, terselip kisah Aryo Penangsang dan para prajuritnya. Sebelum mementaskan tarian ini, para pemainnya pun harus melakukan ritual khusus.
“Istilahnya dengan mandi itu kita minta izin kepada yang memangku kesenian. Selain itu ada sesaji untuk memohon pada Tuhan Yang Maha Esa dan minta izin yang ‘memangku’ kesenian itu. Supaya pelaksanaan pentas ini yang pertama selamat, dan yang kedua, diminati oleh penonton yang sangat banyak,” kata Taryono dikutip dari kanal YouTube BPNB DIY.
Advertisement
Selain memiliki sejarah yang panjang, busana yang dikenakan para pemain Soreng cukup unik. Biasanya mereka menggunakan jarik bermotif parang berwarna putih dengan ikat kepala, celana panjen, stagen, sabuk cinde, dan kalung kaje.
Tari Soreng juga kaya makna simbolis. Biasanya, para pemain Soreng akan merias sendiri wajahnya. Namun tiap tata rias yang dipilih harus sesuai dengan karakter dan sifat tokoh yang akan dimainkan.
“Ada soreng patih, soreng rono, dan soreng rangkut. Masing-masing soreng punya fungsinya sendiri. Jadi yang membedakan hanya kostum dan ikat kepala,” jelas Taryono.
Advertisement
Sementara itu, Camat Ngablak Imam Wisnu Kusuma mengatakan kegiatan bertani telah mempengaruhi tradisi dan budaya warga Ngablak. Menurutnya, gerakan pada tarian itu banyak terpengaruh dari kegiatan masyarakat sekitar yang sehari-hari bertani di ladang.
“Karena dari dulu masyarakat di sini bekerja di sektor pertanian, saya kira gerakan keseniannya itu terkait juga dari kebiasaan masyarakat. Karena kebudayaan itu kan sumbernya dari kebiasaan,” kata Imam dikutip dari Magelangkab.go.id.
Advertisement
Biasanya, kesenian Soreng dipentaskan dalam rangka hajatan, atau dalam rangka mengikuti festival tari maupun lomba. Tarian inipun sudah ditampilkan di berbagai tempat. Bahkan pernah pula mengisi pentas saat peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia di Istana Negara. Tarian inipun juga beberapa kali memenangkan lomba kesenian tingkat nasional.
“Tarian ini sudah melanglang buana ke berbagai tempat. Bahkan sudah 4 kali pentas di Bali. Nah sekarang cita-cita saya dan teman-teman adalah gimana caranya kami bisa pentas ke luar negeri,” kata Slamet Santoso, pelatih Tari Soreng di Desa Bandungrejo dikutip dari kanal YouTube BPNB DIY.