Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Perasaan Duka Bisa Sebabkan Gangguan Psikis, Ini Penjelasan Pakar dari UGM

Perasaan Duka Bisa Sebabkan Gangguan Psikis, Ini Penjelasan Pakar dari UGM Ilustrasi sedih. ©2018 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Ketika ditinggal oleh orang yang dicintai, manusia akan diliputi perasaan duka. Ketika diliputi duka, akan ada perubahan ekstrem yang mereka alami. Hal ini tak lepas dari sifat manusia yang merupakan makhluk yang memiliki kasih sayang.

Dilansir dari Ugm.ac.id, kasih sayang ini terbentuk dari adanya hormon oksitosin. Apabila kasih sayang terganggu, maka tubuh akan merasa terbebani dan menata ulang kondisinya.

Hal inilah yang diungkapkan pakar sekaligus Dosen Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D., dalam diskusi bertajuk “Jejak Cerita di Balik Ruang Konsultasi: Konseling Kedukaan” yang diselenggarakan oleh Unit Konsultasi Psikologi UGM pada Jumat (10/9).

Lantas bagaimana pemaparannya atas perasaan duka tersebut? Berikut selengkapnya:

Penjelasan Ilmiah tentang Perasaan Duka

ilustrasi duka cita istockphotocom

Liputan6 ©2021 Merdeka.com

Kusrohmaniah mengatakan bahwa kedukaan merupakan hal yang wajar terjadi. Namun apabila perasaan duka itu terjadi terus menerus, maka akan timbul sebuah gangguan yang kompleks. Gangguan yang bisa timbul akibat perasaan duka antara lain Post-Traumatic Disorder (PTSD), Mayor Depressive Disorder (MDD), complicated-bereavement, Prolonged Grief Disorder (PGD), hingga gangguan kepribadian.

Sementara itu Azri Agustin S.Psi, Psikolog Rekanan UKP UGM mengatakan bahwa pemulihan duka memang memerlukan waktu. Dia pun menjelaskan secara terperinci tentang tahapan kedukaan yang dialami seseorang.

Tahapan Perasaan Duka

010 tantri setyorini

©2018 Merdeka.com/Pexels

Azri mengatakan, tahap pertama dari perasaan duka adalah penolakan. Dalam tahap ini seseorang merasa bahwa kedukaan yang dialaminya tidak terjadi. Lalu tahap berikutnya adalah kemarahan, di mana muncul pertanyaan mengapa dia harus mengalami perasaan duka. Lalu tahap selanjutnya adalah tawar menawar, yaitu saat muncul pikiran untuk memutar waktu di mana peristiwa yang menyebabkan perasaan duka belum terjadi.

Tahap berikutnya adalah “depression” di mana seseorang merasakan kesedihan yang jauh lebih mendalam. Sedangkan tahap terakhir adalah penerimaan di mana seseorang sudah bisa mengelola kondisi diri dan dapat memaknai peristiwa yang ia alami.

Tidak Berjalan Linier

004 ita malau

©2018 Merdeka.com

Azri menjelaskan, yang menjadi poin utama dalam menjalani tahapan kedukaan adalah, masing-masing tahapan tidak selalu berjalan linier. Beberapa orang dapat merasakan satu tahap lalu kembali lagi pada tahap sebelumnya, namun ada pula yang melewati tahapan kedukaan secara linier dalam waktu yang singkat.

Dengan mengetahui tahapan kedukaan itu, Azri berharap seseorang dapat tahu kapan dia membutuhkan bantuan profesional sehingga mengurangi risiko terkena gangguan psikologis.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP