Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Dulunya terdapat tiga buah candi di atas situs ini.

Di kawasan Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, terdapat sebuah tembok tua yang ukurannya cukup besar. Masyarakat sekitar menyebut tembok besar ini “Watu Kelir”.

Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng
Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Watu Kelir diperkirakan memiliki panjang sekitar 600 meter dan tinggi lima meter. Tembok ini ditemukan bersamaan dengan ditemukannya kawasan candi di Dieng. Namun dari total panjang 600 meter, kini peninggalan tua itu hanya tersisa panjang 50 meter.

Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Kondisi bangunan ini juga tidak terawat. Apalagi keberadaannya sudah beralih fungsi menjadi pemukiman atau ladang pertanian warga.

Mengutip Instagram Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Wonosobo, situs Watu Kelir berada di ketinggian 2.080 mdpl dengan orientasi arah menghadap barat atau menghadap kompleks percandian Dieng.

Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng
Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Penampakan situs ini berupa susunan batu andesit yang dibentuk menyerupai dinding sepanjang 67 meter. Dinding tersebut dibangun menempel dan mengikuti pola atau sisi tebing bukit “Siti Hinggil”, terutama sisi yang menghadap barat.

Pada bagian tengah Watu Kelir terdapat dua struktur tangga yang dikenal dengan sebutan Ondo Budho (tangga suci) yang masing-masing setinggi 8,5 meter dan 4 meter.

Keberadaan struktur tangga kuno itu masih difungsikan sebagai akses menuju puncak bukit yang dikenal warga dengan istilah puncak Siti Hinggil. Sedangkan konstruksi talud situs Watu Kelir berfungsi sebagai penahan pergerakan tanah.

Mengutip Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo, keberadaan Situs Watu Kelir di Era Kolonial dapat diketahui dari catatan arsip Belanda berupa laporan perjalanan H.C Cornelius saat mengunjungi Dieng pada tahun 1814.

Kemudian diteruskan oleh H.N Sieburgh yang membuat sketsa lukisan tentang keberadaan tiga bangunan candi di atas situs Watu Kelir yang diidentifikasi bernama Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, dan Candi Pandu.

Dari data tahun 1837 itu, dapat digambarkan bahwa dulunya Situs Watu Kelir digunakan untuk situs keagamaan dengan memperhatikan dewa yang dipuja yang kemudian diletakkan di dalam bangunan candi di atas struktur situs Watu Kelir.

Namun saat peneliti berikutnya, Isidore van Kinsbergen melakukan perekaman data di Dieng tahun 1857, keberadaan ketiga candi itu sudah tidak ditemukan.

Dalam catatan J.F Scheltema saat perjalanannya menuju Dieng pada tahun 1880, ada nama “Watu Rawit” di Desa Dieng yang disusun dari balok besar membentuk dinding dan di tengahnya terdapat tangga.

Sekarang situs itu telah berubah menjadi puskesmas dan rest area.

Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Lalu ada juga nama “Benteng Budha” sebagai istilah lokal untuk sesuatu yang berhubungan langsung dengan zaman Hindu-Budha.

Menguak Fakta Situs Watu Kelir, Pintu Gerbang Menuju Kompleks Percandian Dieng

Terlepas dari kondisinya yang memprihatinkan, keberadaan situs Watu Kelir memiliki arti khusus bagi sejarah antara lain sebagai penanda salah satu bentuk karya arsitektural saat perkembangan masa klasik di wilayah klasik dan tanah Jawa.

Menguak Fakta Artefak Kuno di Situs Kerto Bantul, Diduga Peninggalan Majapahit
Menguak Fakta Artefak Kuno di Situs Kerto Bantul, Diduga Peninggalan Majapahit

Artefak serupa juga ditemukan di Situs Trowulan, Mojokerto

Baca Selengkapnya icon-hand
Tak Bisa Dipindah, Begini Nasib Situs Yoni yang Terdampak Jalan Tol Jogja-Solo
Tak Bisa Dipindah, Begini Nasib Situs Yoni yang Terdampak Jalan Tol Jogja-Solo

Selain Situs Yoni tersebut, diperkirakan masih ada benda-benda peninggalan sejarah lain yang terkubur di sana.

Baca Selengkapnya icon-hand
Situs Liyangan di Temanggung Akan Jadi Cagar Budaya Nasional, Ini Faktanya
Situs Liyangan di Temanggung Akan Jadi Cagar Budaya Nasional, Ini Faktanya

Banyak hal menarik yang bisa diteliti di Situs Liyangan.

Baca Selengkapnya icon-hand
Kamu sudah membaca beberapa halaman,Berikut rekomendasi
video untuk kamu.
SWIPE UP
Untuk melanjutkan membaca.
Sederet Fakta yang Perlu Diketahui dari Piala Dunia U-17
Sederet Fakta yang Perlu Diketahui dari Piala Dunia U-17

Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-17. Banyak hal yang perlu diketahui.

Baca Selengkapnya icon-hand
Fakta Baru, Eks Kepala Bea Cukai Makassar jadi Bos di Perusahaan Berkelas Dunia
Fakta Baru, Eks Kepala Bea Cukai Makassar jadi Bos di Perusahaan Berkelas Dunia

Andhi Pramono juga disebut sebagai makelar barang di luar negeri dan memberi karpet merah kepada pengusaha yang bergerak di bidang ekspor-impor.

Baca Selengkapnya icon-hand
Menguak Fakta Jalur Kuno
Menguak Fakta Jalur Kuno "Ondo Budho", Jalan Utama Para Peziarah Menuju Dieng di Masa Lalu

Bukti jalur kuno itu ditemukan terpisah-pisah. Tugas berat para peneliti untuk menyusun teka-teki yang tersebar di kawasan pegunungan.

Baca Selengkapnya icon-hand
Sejarah Pakaian Dalam dan Fakta Unik yang Menyertainya
Sejarah Pakaian Dalam dan Fakta Unik yang Menyertainya

Penasaran seperti apa? Intip sejarah dan beberapa fakta menarik dari pakaian dalam!

Baca Selengkapnya icon-hand
Mengagumi Indahnya Situ Cipanten Majalengka, Airnya Jernih Berwarna Biru Alami
Mengagumi Indahnya Situ Cipanten Majalengka, Airnya Jernih Berwarna Biru Alami

Berwisata di Situ Cipanten, betul-betul membuat nyaman.

Baca Selengkapnya icon-hand
Perempuan Situbondo Meninggal Tertimbun Lumpur di Belakang Rumah, Ini Fakta di Baliknya
Perempuan Situbondo Meninggal Tertimbun Lumpur di Belakang Rumah, Ini Fakta di Baliknya

Sulastri (58) ditemukan meninggal tertimbun lumpur di belakang rumahnya di Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo.

Baca Selengkapnya icon-hand

Baca Juga