Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Sultan HB X Lewat Film Danapratapa, Menceritakan Perjalanan Hidup Raja Jogja

Mengenal Sultan HB X Lewat Film Danapratapa, Menceritakan Perjalanan Hidup Raja Jogja Danapratapa Kraton Jogja. ©YouTube/Kraton Jogja

Merdeka.com - Danapratapa merupakan sebuah proyek serial film dokumenter yang menceritakan tentang tradisi dan budaya Kraton Jogja secara singkat. Durasi film itu biasanya berkisar antara 15-20 menit. Salah satu episodenya menceritakan tentang kehidupan Sultan Hamengkubuwono X dari masa kecilnya sampai dia menjadi Raja Jogja.

Dalam video teasernya yang dimuat pada akun resmi Instagram Kraton Jogja, Sri Sultan HB X sedikit membagikan motto hidupnya yang juga menjadi motto hidup Masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di Jogja.

“Kehilangan harta sama saja tidak kehilangan apa-apa, kehilangan nyawa sama saja kehilangan sebagian, kehilangan harga diri sama saja dengan kehilangan segalanya. Maka jangan korbankan harga diri hanya untuk mendapatkan uang banyak,” kata Sultan dalam video teasernya itu.

Secara keseluruhan, film itu menceritakan tentang sosok Sri Sultan Hamengkubuwono X dari sudut pandang keluarga dan orang-orang terdekatnya. Di dalamnya juga terdapat perbedaan fungsi Sultan HB X antara sebagai seorang Sultan dengan sebagai seorang Gubernur. Berikut selengkapnya:

Suka Main Keneker Sewaktu Kecil

danapratapa kraton jogja

YouTube/Kraton Jogja

Dalam film dokumenter itu, Sultan bercerita mengenai masa kecilnya. Dia mengatakan kalau masa kecilnya tak ada bedanya dengan masa kecil anak-anak pada umumnya waktu itu seperti bermain layangan dan keneker. Namun diantara permainan itu, yang paling sering Sultan mainkan adalah keneker, yaitu permainan adu kelereng. Selain itu Sultan juga bercerita tentang pembantunya dari kecil yang tetap setia mengabdi padanya sampai saat ini.

"Saya paling sering bermain keneker karena bisa dimainkan malam hari setelah belajar. Saya punya pembantu dari kecil. Dia dulu anaknya abdi dalem. Tapi sekarang walaupun sudah tua dan punya anak, dia tetap ikut saya," ujar Sultan dalam film dokumenter itu.

Sosok Pendiam Namun Mudah Bergaul

danapratapa kraton jogja

YouTube/Kraton Jogja

Saat menginjak usia remaja, Sultan HB X yang waktu itu masih bernama Herjuno Daripto dikenal sebagai sosok yang sederhana. Sehari-hari dia naik sepeda dari rumahnya ke sekolahnya di SMA 6 Yogyakarta. Menurut Siti Riyalun, teman SMA Sultan, dia tidak pernah menunjukkan diri sebagai anak Sultan.

"Beliau itu aktif dalam kegiatan sekolah. Sosok yang pendiam tapi mudah bergaul," ujar Siti Riyalun.

Menjadi Mahasiswa Tua

danapratapa kraton jogja

YouTube/Kraton Jogja

Selepas menjalani masa SMA, Sultan HB X kemudian berkuliah di Fakultas Hukum UGM. Namun baru tahun menjalani kuliah ia harus berhenti sementara karena diminta membantu ayahnya, Hamengkubuwono IX, bertugas di Jakarta. Sebelas tahun kemudian dia baru melanjutkan lagi kuliahnya.

"Begitu ikut kuliah, saya bingung sendiri. Karena begitu lihat mahasiswa sudah nggak ada yang kenal. Tapi begitu lihat dosennya, lihat asistennya, lah, teman saya semua!" kata Sultan sambil tertawa.

Dinikahkan Oleh Sang Eyang

danapratapa kraton jogja

YouTube/Kraton Jogja

Sultan bertemu pertama kali dengan permaisurinya, GKR Hemas di sebuah gang dekat rumahnya. Pada saat itu GKR Hemas tidak tahu kalau dia anak sultan. Kemudian mereka makan bakmi bersama. Tanpa proses perkenalan lebih lanjut, mereka kemudian dinikahkan oleh eyang Sultan setelah sebelumnya mengajukan surat lamaran.

"Waktu itu dia datang dengan salah satu ajudan dari Kraton untuk mengajukan surat lamaran. Saya dinikahkan oleh putra sultan itu dan tidak pernah berpikir mau jadi apa. Semua berjalan seperti keluarga biasa. Bahkan kadang untuk beli susu saja kami tidak punya uang," ujar GKR Hemas dalam film dokumenter itu.

Mendidik Anak-Anaknya Agar Memiliki Mental Baja

danapratapa kraton jogja

YouTube/Kraton Jogja

Sri Sultan HB X mengajarkan anak-anaknya untuk berani menghadapi tantangan. Menurutnya, tantangan itu akan membentuk seseorang mempunyai mental baja. Menurut GKR Bendara, putri kelima Sultan, ayahnya mendidik putri-putrinya dengan membiarkan bagaimana rasanya jatuh namun kemudian mengangkatnya kembali.

"Kalau kamu punya tantangan, ya kamu hadapi, kamu selesaikan, jangan ditunda, jangan dihindari. Karena itu yang akan membajakan karakter seseorang. Karena pengalaman hidup," ujar Sultan.

Perbedaan Peran Sebagai Sultan Jogja dan Gubernur

sri sultan hb x bertemu raja belanda

2020 Merdeka.com/Purnomo Edi

Bagi Sultan HB X, bekerja sebagai sultan harus dijalani dengan keikhlasan, begitu pula dengan menjalankan fungsi sebagai gubernur. Namun secara protokoler, dia merasa lebih bebas menjadi sultan daripada menjadi gubernur.

"Kalau jadi sultan saya tinggal perintah sekretaris saya, masyarakat yang ingin bertemu sama saya tidak boleh dihalangi. Tapi kalau protokoler, bisa terjadi, entah siapa yang mau ketemu, oh, ini tidak perlu ke gubernur, cukup ke kepala dinas saja," kata Sultan sambil tertawa.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP