Di Candi Borobudur, terdapat sebuah pahatan relief yang menggambarkan budaya pertunjukan tari.
Bentuk tariannya bermacam-macam, ada tarian yang dilakukan seorang gadis, tari perang, dan ada beberapa penonton yang begitu asyik melihat pertunjukan tari itu.
Dilansir dari Borobudurpark.com, pertunjukan seni tari merupakan kesenian yang berkembang selama pembangunan Candi Borobudur. Penari profesional umumnya tampil di pasar atau berpindah dari satu desa ke desa lain.
Pertunjukan di pasar atau di desa seperti itu umumnya dikenal dengan nama “rara mabramana tintonton” yang artinya “gadis yang berkeliling desa untuk diawasi”. Saat ini para penari jalanan itu lebih dikenal dengan nama tledek atau tayub.
Tarian lain yang diukir di Candi Borobudur adalah tari perang. Tarian ini biasanya dimainkan oleh sepasang penari. Dalam relief, ada seorang pria tua berjenggot yang bertepuk tangan untuk menjaga irama tarian sang penari.
Foto: Borobudurpark.com
Advertisement
Pada umumnya, pertunjukan tari selama periode Candi Borobudur terbagi dua berdasarkan fungsinya. Yang pertama adalah pertunjukan dalam negeri atau pertunjukan domestik, dan yang kedua adalah pertunjukan ritual.
Borobudurpark.com
Pertunjukan domestik sendiri juga terbagi menjadi dua jenis pertunjukan tergantung kelasnya apakah ia menari untuk para bangsawan atau penduduk desa.
Akibatnya penari juga terbagi menjadi dua kelas sosial, yaitu penari kelas atas dan penari kelas bawah.
Dalam prasasti, disebutkan istilah “agensi I haji” dan “agensi agarang”. Istilah pertama mengacu pada penari yang dimiliki oleh raja, sedangkan istilah kedua mengacu pada penari biasa.
Advertisement
Dalam Bahasa Jawa saat ini, kelompok penari kedua lebih dikenal sebagai seniman “ambarang” atau barangan. Mereka adalah seniman yang tampil di pasar atau di desa dari satu rumah ke rumah lainnya.