Museum Batik Yogyakarta beralamat di Jalan Doktor Sutomo No. 13A, Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta. Museum ini dinyatakan sebagai museum batik pertama dan terlengkap di Yogyakarta pada tahun 1973 dan diresmikan pada tahun 1979.
Pada tahun 2001, museum ini mendapatkan sertifikat dari UNESCO sebagai warisan kultur dunia. Keberadaan museum batik Yogyakarta ini telah mengangkat derajat Kota Yogyakarta dengan diberikannya nama Kota Batik oleh WCC pada tahun 2014 lalu.
Dikutip dari Liputan6.com, Museum Batik Yogyakarta dibangun oleh pasangan Hadi Nugroho dan R. Ng. Jumima Dewi Sukaningsih. Museum itu dibangun karena keprihatinan para pengrajin batik dengan munculnya batik printing. Saat itu, kehadiran batik printing sangat terlihat.
“Karena itu nilai batik di tengah masyarakat mulai memudar. Batik bukan hanya selembar kain, tapi di dalamnya ada makna, doa, simbol, dan ada pula harapan,” kata Pemandu dan Pembatik Museum Batik Yogyakarta, Didik Wibowo, dikutip dari liputan6.com.
Advertisement
Waktu itu, banyak pengrajin batik cap dan batik tulis gulung tikar karena kemunculan batik printing. Padahal batik memiliki makna dan simbol filosofis, salah satunya adalah yang terkandung dalam batik Truntum.
“Visualnya seperti seperti bunga dan tersebar maknanya. Truntum itu panutan dan tuntunan, maka dia tidak boleh berlaku jelek dalam kehidupan karena menjadi panutan bagi orang lain. Ada motif tambal selain untuk selimut orang yang sakit. Motif tambal ini tidak boleh tinggi hati atau sombong,” kata Didik.
Di museum batik Yogyakarta, ada ratusan kain batik yang diambil dari berbagai daerah seperti Semarang, Kudus, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Demak, dan Madura. Bahkan ada beberapa karya masterpiece di museum itu, di antaranya batik tertua yang dibuat tahun 1800-an.
Kebanyakan karya masterpiece itu berasal dari Kudus. Di antara karya itu ada batik tiga negeri yang warnanya diambil dari tiga daerah berbeda.
Namun kebanyakan koleksi batik yang ada di Museum Batik Yogyakarta tidak punya nama. Didik pun tidak tahu pembatiknya berasal dari mana.
Apalagi pada masa kejayaannya, batik merupakan barang mahal. Satu kali pengerjaan kain bisa memakan waktu hingga tiga bulan lamanya.
“Batik tulis yang bagus itu standar harganya sekitar 12 gulden. Satu gulden setara 1 gram emas. Batik tulis yang halus itu pengerjaannya bisa sangat lama,” kata Didik.
Advertisement
Salah satu motif batik yang unik di museum itu adalah motif Madu Bronto. Motif batik ini cocok digunakan oleh orang yang sedang jatuh cinta.
“Madu itu manis dan bronto itu perasaan saat sedang jatuh cinta. Motifnya sogan cenderung ke kratonan, dipakai untuk jatuh cinta,” kata Didik.
Menurut Didik, masyarakat terutama generasi muda harus mencintai sejarah dan budaya sendiri. Minimal punya batik di lemari sebagai bentuk cinta kepada budaya.
“Kalau tidak mampu beli batik tulis dan cap minimal kita punya batik syukur kita tahu namanya. Faktanya agar ktia bisa terus melestarikan budaya ini. kalau kita tahu motifnya dan tahu maknanya, kita akan semakin mencintainya,” pungkas Didik.