Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Makna Filosofis di Balik Tradisi Sekaten, Diwariskan sejak Zaman Wali Songo

Makna Filosofis di Balik Tradisi Sekaten, Diwariskan sejak Zaman Wali Songo Tradisi sekaten Yogyakarta. ©2015 Merdeka.com/arie sunaryo

Merdeka.com - Pada tiap menjelang Hari Maulid Nabi Muhammad SAW, acara Sekaten selalu digelar di Alun-Alun Utara Yogyakarta. Saat acara itu digelar, area Alun-Alun Utara akan dipadati pedagang dan pengunjung.

Selain itu di sana juga ada Pasar Malam dengan berbagai wahana permainan dan sirkus. Hanya saja selama masa pandemi ini, perayaan itu tak lagi digelar dalam rangka mencegah penularan COVID-19.

Di balik kemeriahannya, acara Sekaten memiliki nilai filosofis. Sudah ada sejak era Wali Songo, upacara Sekaten dulunya diadakan sebagai sarana penyebaran agama Islam. Dilestarikan oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta, upacara itu masih dijalankan hingga sekarang sampai pada puncak acara yaitu Upacara Garebeg Mulud.

Lantas apa makna filosofis yang terkandung dalam acara itu? berikut selengkapnya:

Penyelenggaraan Upacara Sekaten

006 isn

©2014 merdeka.com/kresna

Dikutip dari Jogjaprov.go.id, upacara Sekaten diadakan selama 7 hari dari tanggal 5 hingga tanggal 11 Mulud atau Rabiul Awal. Adapun tahapannya mulai dari Gamelan Sekaten yang mulai dibunyikan mulai jam 16.00 hingga jam 23.00 pada tanggal 5 Rabiul Awal.

Selanjutnya gamelan itu dipindah ke pagongan di halaman Masjid Besar pada tanggal 5 Rabiul Awal mulai jam 23.00. Pada hari-hari berikutnya, gamelan dibunyikan pada waktu malam dan siang hari, kecuali pada waktu salat dan Jumat.

Setelah itu tahap selanjutnya adalah hadirnya Sri Sultan beserta para pengiringnya ke serambi Masjid Besar untuk mendengarkan pembacaan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan pada 11 Rabiul Awal mulai jam 20.00 hingga 23.00. Tahap terakhir adalah dikembalikannya lagi Gamelan Sekaten dari halaman Masjid Besar ke keraton yang merupakan pertanda akhir upacara sekaten. Tahapan ini diadakan pada 11 Rabiul Awal mulai pukul 23.00

Makna Filosofis di Balik Upacara Sekaten

001 isn

©2014 merdeka.com/kresna

Penyelenggaraan upacara Sekaten mengandung suatu ajaran yang diwujudkan dalam bentuk simbol dan lambang yang terkandung makna di dalamnya. Sebagai contoh, pada tahap gamelan pusaka pertama kali dibunyikan, diselenggarakan upacara udhik-udhik, yaitu penyebaran kepingan uang logam oleh Sri Sultan. Pemberian kepingan uang logam oleh raja ini merupakan lambang dari pemberian anugerah berwujud harta dan berkat wujud tuah kekeramatan.

Selain itu, setiap bagian perangkat Gamelan Pusaka Sekaten memiliki namanya sendiri. Gunturmadu, salah satu nama perangkat, melambangkan turunnya wahyu. Nagawilaga, mengandung makna kemenangan perang yang abadi.

Yaumi, salah satu judul gending sekaten, mengandung makna hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Salatun, judul salah satu gending sekaten, mengandung makna berdoa menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu Dhindang Sabinah, judul salah satu gending sekaten, mengandung makna untuk mengenang jasa para mubaligh yang menyiarkan agama Islam.

Ngajatun, salah satu gending sekaten, mengandung makna kemauan hati untuk masuk Islam. Dan Supiyatun, salah satu gending sekaten, mengandung makna kemauan kuat untuk mencapai kesucian hati.

Upacara Garebeg Mulud

tradisi sekaten yogyakarta

©2015 Merdeka.com/arie sunaryo

Selain itu, dalam upacara Sekaten terdapat pula upacara Garebeg Mulud yang masih satu rangkaian. Dalam upacara ini terdapat rangkaian upacara berupa gladi resik, numplak wajik, dan garebeg mulud. Upacara gladi resik diadakan dari tanggal 1 hingga 8 Bulan Mulud. Upacara ini dilaksanakan oleh para prajurit Keraton sebagai persiapan upacara garebeg Mulud.

Setelah itu rangkaian selanjutnya adalah Upacara Numplak Wajik yang menjadi petanda permulaan pembuatan gunungan secara resmi. Upacara ini diadakan empat hari menjelang penyelenggaraan upacara garebeg, yaitu pada tanggal 8 Bulan Mulud.

Sedangkan tahapan terakhir adalah upacara Garebeg Mulud. Inti dari upacara ini adalah mengantarkan gunungan secara beramai-ramai dari kompleks Keraton menuju Masjid Besar. Ada enam gunungan yang dibawa yaitu Gunungan Kakung, Gunungan Putri, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, Gunungan Pawuhan, dan Gunungan Picisan.

Dilansir dari Jogjaprov.go.id, gunungan dalam upacara Sekaten melambangkan lingkungan hidup atau alam dan seisinya, kesuburan, kemakmuran, dan kehidupan. Gunungan Kakung melambangkan pribadi baginda raja, Gunungan Putri melambangkan pribadi permaisuri raja, Gunungan Dharat melambangkan para pangeran, Gunungan Gepak melambangkan putri baginda raja, serta Gunungan Pawuhan melambangkan cucu raja.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP