Di tengah maraknya produk impor dengan harga murah, masih ada pebisnis lokal yang berjuang mempertahankan nilai seni dan kreativitas dalam produknya. Kreatifafa merupakan UMKM asal Yogyakarta yang usahanya bergerak dalam bidang buku pop-up handmade.
Kreatifafa hadir sebagai bukti bahwa karya anak bangsa mampu bersaing di pasar global. Bermula dari jualan sederhana di car free day (CFD) dengan modal tikar, kini Fatchul dan Fathur berhasil mengantarkan produknya hingga ke pasar global seperti Malaysia, Singapura hingga Arab.
Namun, perjalanan bisnis yang dijalankan pasangan suami istri ini tidak lah mudah. Persaingan dengan buku impor yang lebih murah menjadi tantangan berat. Ditambah dengan keterbatasan tenaga produksi dan modal, Kreatifafa harus terus berinovasi agar bisa bertahan.
Di balik usaha bisnisnya, Kreatifafa turut melibatkan Bank BRI dengan mengikuti kelas-kelas pelatihan yang tentunya sangat bermanfaat bagi kelangsungan bisnis. Lalu, bagaimana mereka bisa berkembang hingga mendapatkan dukungan dari Bank BRI sehingga bisa menjadi UMKM naik kelas yang berdaya saing tinggi? Berikut kisah selengkapnya.
Advertisement
Perjalanan Awal Membangun Bisnis
Dunia bisnis bukanlah hal pertama bagi pendiri Kreatifafa. Sekitar tahun 2017-2018, pasangan suami istri ini sudah berkecimpung dalam dunia bisnis atau berdagang. Pada tahun itu, mereka mencoba menjual berbagai produk, mulai dari buku online hingga tas batik.
Awal mula mereka berjualan dari lapak sederhana di area CFD di Bandung dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain hingga menemukan titik berjualan strategis di Buah Batu. Kawasan itu dipilih karena sering dikunjungi wisatawan luar daerah. Pada saat itu mereka berjualan hanya menggunakan tikar, sementara pedagang lain sudah memakai tenda. Mereka berjualan tas batik yang dibeli di Pasar Beringharjo Jogja.
“Karena orang Bandung menyukai Jogja dan sebaliknya. Ini yang membuat produk kami diminati,” cerita Fatchul ketika ditemui di kantor Kreatifafa pada Sabtu (15/2/2025).
Meskipun sudah memiliki pengalaman berjualan, namun mereka menyadari bahwa memulai bisnis buku terutama buku pop-up anak menjadi tantangan tersendiri. Menurut Fatchul (31), berdagang dan berbisnis adalah dua hal yang berbeda. Di mana bisnis memerlukan strategi yang lebih matang dalam pemasaran dan produksi.
Ketika memulai bisnis Kreatifafa pada tahun 2020, tantangan terbesar yang dihadapi adalah persaingan dengan buku impor dari China. Produk impor yang dijual dengan harga murah di platform e-commerce menjadi kendala bagi pelaku UMKM khususnya dalam menjual buku handmade yang harganya lebih tinggi.
“Challenging banget, karena kita harus bersaing dengan buku impor yang harganya bisa hanya Rp40 ribu. Sebenarnya kalau kami punya modal besar, bisa juga produksi di China. Tapi kami percaya bahwa setiap karya ada penikmatnya,” cerita perempuan lulusan Madina Institute South Africa.
Advertisement
Memberdayakan UMKM dan Masyarakat Sekitar
Pada proses produksi mereka masih mengandalkan tenaga manusia, karena buku pop-up tidak bisa sepenuhnya dibuat dengan mesin. Setiap bagian perlu melewati tahapan yang detail, mulai dari pencetakan, pemotongan hingga perakitan dilakukan secara manual oleh tim.
Dengan menggunakan uang beasiswa sebagai modal awal untuk memulai berbisnis, tak heran jika pasangan suami istri ini cukup khawatir dengan adanya buku-buku impor tersebut. Namun, mereka tetap percaya diri untuk selalu berkarya dengan tidak mengurangi kualitas.
Meskipun masih menggunakan dana pribadi hingga saat ini, namun mereka tidak pernah kesulitan untuk selalu memproduksi buku-buku yang berkualitas. Selain dari hasil penjualan buku, pendanaan lain didapat dari perolehan berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional.
Selain unggul dalam karya buku pop-up, Kreatifafa juga memiliki konsep bisnis berbasis kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat. Mereka menggandeng berbagai UMKM di Indonesia untuk memproduksi merchandise seperti boneka rajut, tas sulam, hingga coaster kayu jati. Kreatifafa bekerja sama dengan perajin dari berbagai daerah, mulai dari Sleman, Malang, hingga Wonosari. Dari hasil kolaborasi, secara tidak langsung mereka menerima dana tambahan.
Lebih dari sekadar bisnis, Kreatifafa juga memberikan peluang bagi perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Kreatifafa ingin karyanya tidak hanya memberikan dampak bagi tim. Oleh karena itu, Kreatifafa turut membantu orang-orang yang membutuhkan.
“Pendekatan ini membuat produk Kreatifafa memiliki nilai lebih, bukan hanya dari segi estetika, tetapi juga dari segi sosial dan ekonomi,” jelas Fatchul.
Melihat tingginya minat masyarakat terhadap produk kreatif, Kreatifafa terus berekspansi ke berbagai bidang. Salah satu proyek terbarunya adalah pengembangan board game dan animasi yang bekerja sama dengan mahasiswa ISI Yogyakarta. Tidak hanya itu, mereka juga merancang mainan anak berbahan kayu dengan menggandeng UMKM lokal.
Selain itu, proyek Kreatifafa Film juga sedang dalam tahap pengembangan, nantinya akan menjadi bagian dari ekosistem kreatif yang lebih luas. Ada juga Kreatifafarm yang merupakan kebun kopi di Temanggung, Jawa Tengah. Kreatifafarm juga memberdayakan masyarakat sekitar Temanggung yang nantinya bisa dijadikan tambahan pemasukan bisnis.
"Kami ingin karya kami tidak berhenti di satu bidang, tetapi bisa berkembang ke berbagai sektor industri kreatif," kata Fatchul.
Advertisement
Ingin Memiliki Toko Buku dan Ruang Kreatif
Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung dunia literasi dan kreativitas, Kreatifafa berencana membuka toko buku dan ruang kreatif yang akan digunakan untuk berbagai kegiatan, seperti workshop, parenting, dan edukasi anak-anak. Langkah ini sejalan dengan visi Kreatifafa untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya industri kreatif di Indonesia.
"Kami ingin tempat ini menjadi pusat berkumpulnya komunitas kreatif, tempat belajar, dan berbagi pengalaman," ungkap Fatchul.
Melalui Kreatifafa, ia ingin memberikan pengalaman membaca yang berarti bagi banyak orang, sebagaimana dirinya dulu mendapatkan pengalaman serupa. Perjalanannya mungkin masih panjang, tetapi satu langkah kecil yang dimulai sejak tahun 2018 dari rumah kecil di Ujungberung, Bandung kini telah menjadi sebuah gerakan yang berdampak bagi banyak anak.
Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, Kreatifafa terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi industri kreatif Tanah Air. Keberhasilan ini membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing di tingkat global, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal untuk berkembang bersama.
Advertisement
Strategi Pemasaran dan Ekspansi Internasional
Untuk memasarkan produknya, Kreatifafa tidak hanya mengandalkan toko buku. Kreatifafa bisa ditemukan di restoran, kafe, hingga melalui jaringan reseller yang sudah tersebar di seluruh Indonesia. Strategi pemasaran ini memungkinkan Kreatifafa bisa dijangkau ke pasar yang lebih luas dan tidak hanya bersaing dengan produk lain di toko buku konvensional.
Selain itu, kini Kreatifafa sudah berhasil menembus pasar global dengan beberapa kali mengirimkan produknya ke Malaysia dan Singapura. Kreatifafa juga aktif mengikuti pameran buku bergengsi seperti Patjar Merah. Buku pop-up dari Kreatifafa dijual di pasaran dengan harga Rp169 ribu hingga Rp199 ribu. Dalam kurun waktu sebulan, Kreatifafa bisa meraup omzet hingga sekitar Rp30 juta.
“Ke depan kami ingin lebih fokus di marketplace agar lebih mudah diakses,” tambahnya.
Advertisement
Dapat Dukungan dari Bank BRI untuk Meningkatkan Skala Bisnis
Sebagai UMKM yang sedang berkembang, Kreatifafa mendapat dukungan dari Bank BRI melalui program binaan Rumah BUMN Yogyakarta (RuBY). Dengan mengikuti berbagai kelas dan program yang diadakan RuBY, baru-baru ini Kreatifafa berhasil lolos seleksi untuk mengikuti pameran BRI UMKM EXPO(RT) di ICE BSD, Tangerang yang diadakan pada 30 Januari sampai 2 Februari 2025 lalu.
“Awalnya ikut kelasnya, lalu lolos seleksi dan ikut pameran. BRI support banget, mulai dari transportasi, hotel hingga business matching. Banyak orang yang melirik produk kami saat pameran,” cerita Fatchul.
Mengutip situs BRI, Direktur Commercial, Small and Mediaum Business BRI, Amam Sukriyanto menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum strategis UMKM untuk memperluas jangkauan pasar hingga pasar global. BRI UMKM EXPO(RT) ini mencerminkan keseriusan Bank BRI dalam mengembangkan UMKM Indonesia melalui pembinaan, pemberdayaan, dan mendorong ekspor produk UMKM lokal ke pasar global.
“Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar dan bertemu dengan potensial buyer internasional. BRI berkomitmen memajukan UMKM melalui pembiayaan, pendampingan dan akses pasar global,” kata Amam dalam keterangannya, mengutip situs BRI.
Tahun ini, BRI UMKM EXPOR(RT) memiliki tema “Broadening MSME’s Global Outreach” yang memiliki tujuan untuk mendorong UMKM agar lebih aktif terlibat di pasar internasional, meningkatkan daya saing, serta membuka peluang bisnis baru. Acara ini melibatkan sekitar 1.000 lebih UMKM dari penjuru daerah dan pembeli internasional untuk mendukung UMKM Indonesia go global.
Rangkaian kegiatan BRI UMKM EXPO(RT) 2025 mencakup expo, business matching, UMKM Award, entertainment, dan art installation. Produk UMKM yang ditampilkan pada pameran terbagi menjadi lima kategori, yaitu home decor and craft, food and beverage, accessories and beauty, fashion dan wastra serta healthcare/wellness.
Keikutsertaan Kreatifafa dalam event BRI UMKM EXPO(RT) menjadi titik balik dalam perjalanan bisnis mereka. Di sana, produk mereka habis terjual dan mendapat apresiasi luar biasa dari pengunjung. Bukan hanya sekadar memberikan dukungan finansial, namun BRI juga membantu mengembangkan jaringan bisnis. Mereka dipertemukan dengan pelaku industri kreatif lainnya.
Pada event BRI UMKM EXPO(RT), dukungan yang diberikan BRI berupa tersedianya berbagai solusi digital inovatif. Untuk memudahkan pengelolaan transaksi pembeli dalam melakukan pembayaran non-tunai, BRI menyediakan fasilitas yang bisa dimanfaatkan seperti QRIS dan mesin EDC yang dilengkapi dengan berbagai fitur canggih guna membantu pengelolaan laporan keuangan agar lebih efisien dan terorganisir. Kolaborasi antara UMKM dan Bank BRI membuktikan pentingnya peran lembaga keuangan dalam mendukung ekosistem UMKM kreatif khususnya di wilayah Yogyakarta.