Kisah Kyai Bonokeling, Sosok Misterius Leluhur Masyarakat Adat Banyumas
Merdeka.com - Di Banyumas, Jawa Tengah, ada suatu kaum yang memiliki budaya dan adat istiadat yang unik. Kaum itu bernama Wangsa Bonokeling. Mereka merupakan keturunan dari Kyai Bonokeling, salah seorang pemuka agama di sana.
Melansir dari Indonesia.go.id, asal usul Bonokeling sebenarnya masih misterius hingga kini. Kabar angin menyebutkan Kyai Bonokeling merupakan seorang patih di Kerajaan Pasirluhur yang menurunkan seluruh ajaran pada anak cucunya. Sosoknya dipercaya memiliki ilmu kebatinan tinggi yang dapat digunakan sebagai jalan bagi keturunannya untuk menggapai keselamatan dunia dan akhirat.
Kini, para keturunannya masih menjunjung tinggi berbagai tradisi yang diajarkan oleh Kyai Bonokeling. Lantas seperti apa sosok Kyai Bonokeling itu? Berikut selengkapnya:
Sosok Kyai Bonokeling

©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Dalam sebuah buku penelitian karya Ridwan yang berjudul “Islam Kejawen, Sistem Keyakinan, dan Ritual Anak Cucu Bonokeling”, Kyai Bonokeling merupakan bangsawan dari Kadipaten Pasirluhur yang saat itu menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Padjajaran.
Pada waktu itu, Kyai Bonokeling memilih untuk menepi dan membuka lahan tani di Desa Pekuncen, Banyumas dan mengajarkan cara bercocok tanam serta beternak kepada warga setempat. Selain itu, ia juga menyebarkan ajaran Islam dengan mengakomodasi tata nilai budaya lokal.
Jejak Kyai Bonokeling

©2020 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Menurut Ketua Komunitas Adat Bonokeling, Kyai Sumitro, jejak keberadaan Kyai Bonokeling dipercaya sama dengan usia Pohon Angsana Jawa yang tumbuh di wilayah Kedaton, sekitar 200 meter dari makam Kyai Bonokeling. Berdasarkan cerita leluhur, pohon itu ditanam Kyai Bonokeling sebagai tanda musim. Ketika daunnya berguguran, tandanya musim kemarau. Namun bila daun itu bersemi, tandanya itu musim hujan.
Karena begitu berartinya, ada larangan pada warga untuk memetik daun, menanam tumbuhan, apalagi menebang pohon itu. Hanya pada waktu-waktu tertentu, Kaum Bonokeling diperbolehkan membersihkan area pohon itu.
“Kedaton itu simbol alam keabadian. Manusia tidak boleh mengusik,” kata Sumitro mengutip dari Merdeka.com.
Lima Ajaran Kyai Bonokeling

©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Dalam hidupnya, Kyai Bonokeling membekali lima ajaran kepada kaumnya. Kelima ajaran itu disimbolkan dengan lima jari di telapak tangan. Kyai Sumitro menjelaskan, jari kelingking menyimbolkan pentingnya doa sebagai wujud keberadaan manusia yang fana serta percaya bahwa Tuhan yang memberi jaminan atas pengampunan. Sementara jari manis menyimbolkan rasa syukur yang diwujudkan dengan tradisi slametan.
Jari tengah adalah ilmu yang menjadi panduan untuk memilih baik dan buruk. Jari telunjuk adalah simbol kearifan untuk bersikap adil dan benar kepada semua manusia, alam semesta, tempat tinggal, dan diri sendiri.
“Puncaknya ibu jari yang artinya manusia harus pandai mengendalikan hawa nafsu,” kata Kyai Sumitro.
Larangan untuk Dikisahkan

©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid
Kyai Sumitro mengatakan, sosok Kyai Bonokeling memiliki berbagai versi cerita. Paling kentara adalah penulisannya yang selain “Bonokeling” ada pula penulisan lain yaitu “Banokeling” dan “Banakeling”. Sedangkan mengenai jati diri sosok tersebut, Kyai Sumitro mengatakan bahwa hal tersebut mengandung larangan untuk dikisahkan.
“Agama kami Islam. Tak perlu diberi embel-embel kejawen, aboge, atau belangkon. Kyai Banokeling itu ulama Islam di Jawa sebelum Walisongo,” kata Sumitro merujuk pada penyebutan-penyebutan tertentu yang merujuk pada para keturunan Kyai Bonokeling.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya