Ketahui Jarak Sosial, Karantina, Isolasi Diri, dan Lockdown untuk Cegah Virus Corona

Senin, 16 Maret 2020 07:00 Reporter : Ani Mardatila
Ketahui Jarak Sosial, Karantina, Isolasi Diri, dan Lockdown untuk Cegah Virus Corona ini negara yang lockdown karena coronavirus. liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Setelah World Health Organization (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai pandemi, banyak tindakan preventif yang mulai dilakukan termasuk membatalkan konser, seminar, pertandingan olahraga bahkan wisuda.

Dalam hal membantu membatasi penyebaran virus corona, karantina mandiri dan isolasi diri pada orang yang terinfeksi dan berpotensi terinfeksi sangat membantu. Tetapi, menurut beberapa ahli, itu mungkin tidak cukup untuk tindakan pencegahan yang lebih luas, maka di situlah konsep jarak sosial sangat dibutuhkan.

Berikut penjelasannya seperti yang dilansir dari lama Health.

2 dari 4 halaman

Apa yang Dimaksud dengan "Jarak Sosial"?

indocomtech 20162016 Merdeka.com

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jarak sosial didefinisikan sebagai "keluar dari kerumunan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak (sekitar 6 kaki atau 2 meter) dari yang lain jika memungkinkan."

Organisasi itu menambahkan pula bahwa, dalam hal kerumunan yang dimaksud tersebut termasuk ruang publik yang ramai seperti pusat perbelanjaan, bioskop, dan stadion.

Meskipun begitu, sulit bagi kebanyakan orang untuk mengetahui apa arti sebenarnya "jarak sosial" dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari mereka. Pertanyaan seputar pergi bekerja, toko kelontong, dan bahkan pergi ke gym banyak yang muncul. Tetapi, langkah-langkah seperti ini untuk orang sehat tidak harus secara drastis dilakukan, seperti memutuskan sama sekali tidak meninggalkan rumah.

"Bagi kebanyakan orang, menjaga jarak sosial berarti tidak melakukan perjalanan yang tidak penting, berusaha untuk mengingat seberapa banyak kontak yang mereka miliki dengan orang lain, bekerja dari jarak jauh, dan tidak menghadiri pertemuan massal atau mengambil bagian dalam kegiatan yang mungkin membuat mereka terkena virus," kata pakar penyakit menular Amesh A. Adalja, MD, sarjana senior di John Hopkins Center for Health Security, mengatakan pada seperti yang dilansir pada Health.

Namun, rekomendasi itu sedikit berubah jika Anda adalah bagian dari populasi lansia atau yang sistem kekebalannya terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Dr. Adalja mengatakan mungkin bijaksana untuk sedikit lebih ketat membatasi kontak Anda dengan orang lain seperti menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan membatasi kontak dengan orang lain lebih jauh.

Namun secara keseluruhan, Dr. Adalja mengatakan bahwa hal itu adalah untuk mengetahui risiko kesehatan pribadi Anda sendiri dan menggunakan akal sehat. "Berhati-hatilah saat Anda keluar dan waspadai risiko paparan yang Anda hadapi," katanya.

3 dari 4 halaman

Apa Bedanya dengan Isolasi Diri dan Karantina Mandiri?

rumah sakit karantina pasein corona di aceh2020 AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDIN

Pada dasarnya, ketiga istilah ini jarak sosial, isolasi diri, dan karantina mandiri membahas satu hal: membatasi kontak pribadi dan sosial, tetapi pada tingkat yang berbeda.

Menurut CDC, isolasi diri memisahkan orang sakit dari mereka yang tidak sakit, dan itu bisa terjadi di bawah pengawasan medis atau tidak. Karantina mandiri, di sisi lain, mengacu pada memisahkan dan membatasi pergerakan mereka yang belum sakit, tetapi telah terpapar virus untuk melihat apakah mereka menjadi sakit.

Prosedur untuk mereka yang mengisolasi diri atau mengkarantina diri untuk COVID-19 adalah serupa, yang menurut CDCyaitu untuk tinggal jauh dari masyarakat umum dan bahkan membatasi kontak dengan yang tinggal bersama dengan mereka yang tidak terinfeksi virus.

CDC juga merekomendasikan mereka yang mengisolasi diri atau mengkarantina diri untuk memantau gejalanya dengan hati-hati (dan tetap berkomunikasi dengan dokter Anda jika gejalanya memburuk), istirahat yang cukup dan tetap terhidrasi, cuci tangan atau sering gunakan pembersih tangan sesuai petunjuk, hindari berbagi barang-barang pribadi dengan orang lain di rumah Anda, bersihkan permukaan rumah tangga secara teratur, dan bahkan cobalah untuk membatasi diri ke satu ruangan dan tidur sendirian, jika Anda sakit.

Meskipun masyarakat umum yang sehat disarankan untuk tidak memakai masker, mereka yang sakit dengan COVID-19 dan berada di sekitar orang harus melindungi orang lain dengan mengenakan masker.

"Meskipun penting untuk menganggap serius virus corona, dan mengambil tindakan yang sesuai untuk kesehatan Anda sendiri dan kesehatan orang lain, sesuai saran otoritas kesehatan masyarakat, penting juga untuk menghindari panik dan menjaga segala sesuatunya dalam perspektif," kata Adam Splayer, MD, seorang ahli jantung bersertifikat.

"Anda hanya bisa hidup dalam gelembung dan semua virus, termasuk coronavirus, masih akan ada ketika Anda mengudara," tambahnya.

Jadi sekali lagi, lindungi diri Anda dan orang lain secara masuk akal yaitu dengan mencuci tangan Anda, jangan menyentuh wajah Anda (terlalu banyak), jauhi orang lain jika Anda sakit, dan batasi situasi yang membuat Anda merasa tidak nyaman pada saat ini. Pada dasarnya, menurut Dr. Splayer: "Jadilah cerdas, aman, dan hati-hati."

4 dari 4 halaman

Apa itu Lockdown?

monas ditutup akibat virus corona2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Dalam istilah bahasa Inggris, lockdown atau kuncian merupakan situasi di mana orang tidak diizinkan masuk atau meninggalkan gedung atau area secara bebas karena sebuah keadaan darurat.

Lockdown merupakan protokol darurat yang biasanya mencegah orang meninggalkan suatu area. Protokol ini biasanya hanya bisa diajukan oleh seseorang dalam posisi otoritas seperti pemimpin negara atau daerah.

Dalam kasus COVID-19, lockdown dilakukan untuk mengunci akses masuk dan keluar sebuah daerah atau negara untuk mencegah penyebaran COVID-19. Lockdown mengharuskan sekolah, tempat umum, transportasi umum, bahkan industri ditangguhkan sementara.

Protokol lockdown juga meminta masyarakat untuk tetap berada di rumah dan membatasi segala aktivitas di ruang publik. Upaya lockdown akibat COVID-19 pertama dilakukan oleh pemerintahan China, khususnya di Provinsi Hubei.

Lockdown juga dilakukan di Korea Selatan tepatnya di Daegu. Negara lain juga menyusul penerapan kebijakan lockdown ini seperti di Italia, Denmark, Filipina, dan Irlandia.

Baca juga:
Ada Virus Corona, PNS Bisa Bekerja di Rumah Sampai 31 Maret 2020
Ditutup Sementara, Museum Gajah Disemprot Disinfektan
Gaikindo Tunda Pameran GIIAS 2020 di Surabaya
KPAI Minta Tindak Tegas Sekolah DKI yang Tak Laksanakan Belajar di Rumah
KAI DAOP 7 Kembalikan Biaya Tiket Bagi Penumpang Suspect Virus Corona
AP II Tes Suhu Tubuh Pekerja dan Direksi di Kantor Pusat dan 19 Kantor Cabang

[amd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini