5 Fakta Gua Siluman, Pesanggrahan Sultan HB II yang Kini Jadi Pembuangan Limbah
Merdeka.com - Gua Siluman merupakan sebuah situs sejarah berupa bangunan berbentuk empat persegi panjang yang terbuat dari semen. Hal yang unik dari gua ini adalah letaknya yang berada di bawah tanah. Di dalam bangunan itu terdapat mata air dan bekas tempat pemandian. Tak jauh dari sana terdapat kolam serta arca manuk beri yang sudah rusak.
Dulunya, Gua Siluman merupakan pesanggrahan atau tempat peristirahatan Sri Sultan Hamengkubuwono II (1750-1828). Namun proses pembangunannya konon sudah dilakukan sejak masa raja pertama Kerajaan Mataram Islam yaitu Panembahan Senopati.
Pada waktu itu Panembahan Senopati mendapat wangsit untuk memindahkan pusat kerajaan dari Kotagede ke wilayah Wonocatur tempat pesanggrahan ini dibangun. Ketika bangunannya belum jadi, Panembahan Senopati mendapat wangsit lagi untuk memindahkan pusat kerajaan ke daerah Pleret. Hal itulah yang membuat bangunan ini tak jadi digunakan. Berikut selengkapnya:
Banyak Ditumbuhi Lumut

©2020 brilio.net
Bangunan pesanggrahan Gua Siluman sebenarnya sudah tidak utuh lagi. Di bagian dalamnya terdapat lorong-lorong yang sudah banyak ditumbuhi lumut. Banyak bagiannya yang telah mengalami kerusakan.
Walau begitu, bentuk bangunan ini masih terlihat jelas. Di bagian atas pintu gerbangnya terdapat relief Burung Beri. Sementara itu di bagian bawah pintunya terdapat anak tangga yang menghubungkan bagian luar gua dengan lorong utama.
Alasan Dinamakan Gua Siluman

©2020 brilio.net
Salah seorang warga, Wahono, mengatakan gua ini dinamakan Gua Siluman agar tak sembarang orang bisa masuk ke tempat ini. Hal itu dikarenakan tempat ini pada awalnya khusus digunakan keluarga Kraton untuk bersemedi.
Namun kini anggapan itu tak ada lagi karena makin banyak orang yang menjadikan situs budaya ini sebagai tempat nongkrong.
“Konon dahulu banyak orang menganggap bangunan ini angker sehingga nggak sembarangan orang bisa memasukinya khususnya memasuki lorong,” kata Wahono dikutip dari Brilio.net.
Jadi Pembuangan Limbah

©Instagram/@raihan_ardianto
Walaupun memiliki nilai sejarah yang tinggi, namun keberadaan situs itu semakin terancam dengan aktivitas masyarakat setempat. Karena letaknya yang lebih rendah daripada pemukiman penduduk di sekitarnya, situs itu menjadi tempat pembuangan limbah rumah tangga di mana air dari rumah-rumah penduduk dialirkan ke ruang-ruang gua yang ada di situs tersebut.
Tak cukup sampai di situ, bahkan di tempat yang tak ditemukan struktur bangunan dimanfaatkan masyarakat sebagai kolam ikan. Padahal dulunya tempat itu merupakan lokasi pemandian khususnya bagi anggota keluarga Kraton.
Tempat Bertapa

©2020 Merdeka.com
Uniknya, walaupun digunakan sebagai tempat pembuangan limbah, masih ada saja orang yang sengaja datang ke tempat itu untuk bertapa. Mereka percaya bahwa tempat itu memiliki kekuatan supranatural.
Dikutip dari Kemdikbud.go.id, pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon, sering ada orang-orang yang datang ke tempat itu untuk melakukan ritual dengan berbagai macam tujuan. Beberapa di antaranya adalah untuk kekayaan, obat, atau keperluan lainnya.
Rata-rata dari peziarah itu mengatakan bahwa keinginan mereka terkabul setelah melakukan ritual di sana.
Direnovasi

©Instagram/@jendro_untoro
Karena kondisinya yang semakin memprihatinkan, mulai tahun 2017 dilakukan pemugaran oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemugaran dilakukan dengan renovasi terhadap ruang bawah tanah dan juga renovasi terhadap tembok yang membetengi tempat itu.
Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat tentang nilai-nilai historis situs itu juga dilakukan agar mereka juga bersedia ikut memelihara dan menjaga tempat itu. Hal itulah yang menjadikan tempat itu tidak kumuh lagi sehingga menarik wisatawan untuk datang.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya