24 Agustus Pluto Tidak Lagi Menjadi Planet di Tata Surya, Begini Sejarahnya
Merdeka.com - Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa dalam sistem tata surya terdapat beberapa planet yang mengelilingi matahari. Beberapa planet ini meliputi planet Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan terakhir adalah Pluto. Dari planet-planet ini, Pluto disebut sebagai planet terkecil dalam tata surya.
Sayangnya, setelah 76 tahun status planet dipegang oleh Pluto, kemudian para ahli semakin mempertanyakan keberadaan Pluto di sistem tata surya. Keraguan-keraguan pun semakin muncul, bahkan, ada yang berpendapat bahwa Pluto tidak layak disebut sebagai planet karena tidak memiliki kriteria yang jelas seperti planet-planet lainnya.
Selanjutnya, hal mengejutkan terjadi pada 24 Agustus 2006, di mana ini menjadi peristiwa status Pluto tidak lagi menjadi planet dalam tata surya. Bukan secara tiba-tiba, penyataan ini merupakan hasil dari diskusi para ahli yang sangat intens, kemudian keluarlah kriteria baru yang lebih jelas dan pasti dalam penamaan sebuah planet.
Dari kriteria tersebut, para ahli mengakui bahwa kini sistem tata surya hanya terdiri dari delapan planet saja. Lalu seperti apa sejarah awal perdebatan status Pluto hingga dinyatakan keluar dari sistem tata surya. Dilansir dari laman BBC, berikut kami merangkum sejarah peristiwa 24 Agustus tentang status Pluto, bisa Anda simak.
Awal Mula Kontroversi
Sejarah peristiwa 24 Agustus tentang dilepasnya status planet pada Pluto, berawal dari astronom Amerika Serikat Clyde Tombaugh pada tahun 1930 menggunakan Observatorium Lowell di Arizona, bertanya-tanya apakah Pluto hanya menjadi benda es kecil pertama di luar orbit Neptunus.
Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Sabuk Kuiper, dan butuh waktu hingga 1992 untuk menemukan penghuni pertamanya. Objek Sabuk Kuiper (KBO) 1992 QBI terdeteksi oleh David Jewitt dan rekan menggunakan teleskop 2.24m Universitas Hawaii di Mauna Kea. Meskipun begitu, penemuan Objek Sabuk Kuiper ini masih menjadi perdebatan banyak pihak.
Kemudian, baru pada tahun 2002, diumumkan Objek Sabuk Kuiper dengan massa kira-kira sebanding dengan Pluto yang dinamakan Quaoar. Selanjutnya, diumumkan Objek Sabuk Kuiper selanjutnya dengan nama Sedna pada tahun 2003 dan Eris pada tahun 2005.
Pameran Delapan Planet
Menilik dua tahun sebelum diumumkannya penemuan Objek Sabuk Kuiper, Planetarium Hayden di New York menjadi pusat kontroversi ketika meluncurkan pameran yang hanya menampilkan delapan planet dalam tata surya, di mana Neptunus sebagai planet terakhir. Direktur planetarium Neil deGrasse Tyson kemudian menjadi tokoh vokal dalam diskusi publik tentang status Pluto.
Perdebatan status Pluto semakin menguat, setelah diumumkannya penemuan Objek Sabuk Kuiper, Quaoar, Sedna, dan Eris. Penemuan ini membawa masalah semakin mendekati titik kritis. Kemudian muncul satu pendapat dari ahli, di mana Eris tampak lebih besar dari Pluto, sehingga ini memunculkan sebutan informal sebagai “planet kesepuluh”.
Tentu dengan adanya hal ini, status Pluto semakin diragukan. Di mana ada planet lain yang lebih besar dari Pluto berada di orbit yang sama. Di satu sisi penemuan ini memberikan satu fakta besar, di sisi lain justru memperumit perdebatan.
Diskusi Praha 2006
Penemuan tersebut mendorong Persatuan Astronomi Internasional untuk membentuk sebuah komite yang ditugaskan untuk mendefinisikan apa yang membentuk sebuah planet, dengan tujuan untuk mengajukan rancangan proposal final di hadapan para anggota pada Sidang Umum IAU 2006 di Praha.
Di bawah rencana awal yang radikal, jumlah planet akan meningkat dari sembilan menjadi 12 , melihat Pluto dan bulannya Charon diakui sebagai planet kembar, dan Ceres dan Eris diberikan izin masuk ke dalam klub tata surya secara eksklusif. Namun gagasan itu mendapat tentangan.
Diskusi di Praha selama Agustus 2006 sangat intens, tetapi definisi planet versi baru secara bertahap mulai terbentuk. Baru pada tanggal 24 Agustus, hari terakhir majelis, para anggota memilih untuk mengadopsi resolusi baru yang menguraikan kriteria untuk penamaan sebuah planet.
Kriteria pertama, planet adalah benda angkasa yang berada dalam suatu orbit yang mengelilingi matahari. Kriteria kedua, planet adalah benda angkasa yang memiliki massa yang cukup untuk gravitasinya sendiri dan memiliki bentuk hampir bulat. Ketiga, planet adalah benda angkasa yang memiliki orbit sendiri dan bersih dari gangguan benda langit lain.
Merujuk pada tiga kriteria tersebut, Pluto memenuhi dua kriteria pertama, tetapi tidak untuk kriteria yang terakhir. Di mana Pluto belum mencapai dominasi gravitasi karena Pluto berbagi lingkungan orbitnya dengan Obyek Sabuk Kuiper es lainnya. Resolusi ini kemudian secara sah telah menghilangkan status planet pada Pluto yang telah dipegang selama 76 tahun.
(mdk/ayi)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya