Warga Jaksel Kesal Kotoran Sapi Mencemari Perumahan
Merdeka.com - Warga Jalan Cikoko Barat III, Kelurahan Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, resah dengan limbah kotoran sapi yang ada di sekitar permukiman.
Salah satu warga, Hasan Alhabsy menceritakan, permasalahan limbah sapi ini sudah berlangsung selama 21 tahun atau sejak 2002. Namun tak kunjung menemukan solusi.
Dari pantauan merdeka.com, Minggu (25/6), kotoran sapi mulai muncul di jalan antara RT 05 dan RT 07 RW 05 Kelurahan Cikoko. Air selokan berwarna hijau tua kecokelatan. Seluruh selokan mampet, airnya tak mengalir. Bahkan, ada selokan yang menunjukkan genangan kotoran sapi dengan sangat jelas.
Bergeser ke RT 03, selokan di sana juga berwarna hijau pekat. Kotoran sapi mengalir hingga 300 meter jauhnya.

Hasan sudah berulang kali mengeluhkan persoalan kotoran sapi ini. Apalagi istrinya sedang hamil dan sangat sensitif akan bau. Sang istri harus dibawa ke rumah sakit karena demam tinggi.
"Atas dasar itu lah saya nelaporkan ke RT ke RW. Kan ibu hamil kalau demam sangat rawan, bisa keguguran, bisa janinnya cacat," ujar Hasan di lokasi.
Tak ada kemajuan, Hasan lapor ke pihak kelurahan. Dia juga menyambangi peternakan sapi.
"Saya datangi orangya juga. Tidak bisa diomongin baik-baik. Akhirnya dimediasi kelurahan," katanya.
Hasan mengatakan, peternakan sapi tersebut tak memiliki izin usaha. Hal itu terlihat dari surat Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda kepada Suku Dinas Lingkungan Hidup (Sudin LH) Jakarta Selatan usai meninjau lokasi tersebut.
Kemudian, pengelolaan limbah di sana juga dianggap tak memadai. Bahkan keberadaan endapan kotoran sapi dikonfirmasi dalam surat tersebut.
"Telah terdapat instalasi pengolahan air limbah menggunakan teknologi Anaerobic Digestion, akan tetapi kondisinya saat ini sudah tidak difungsikan," tulis surat tersebut yang diterima merdeka.com dari Hasan.
Menurut Hasan, pemilik peternakan merupakan orang lama di lingkungan permukiman. Akibatnya, banyak warga yang tak berani berkomentar.
"Menurut salah satu RT di sini juga dulu-dulu sampai diancam, dibawain golok," kata Hasan.
Hasan meminta saluran air dari peternakan itu ditutup sejak April. Namun, salurannya tak kunjung ditutup. Sehingga dia harus menutup sendiri terlebih dahulu dengan papan. Nahas, papan tersebut hilang.

Meski demikian, kini saluran air di depan sana sudah ditutup. Saluran air di tetangga depannya pun ikut ditutup.
Selain protes ke pihak RT hingga kelurahan, Hasan juga melaporkan kejadian ini ke JAKI. Berdasarkan tangkapan layar yang didapat merdeka.com, laporan itu diterima Kelurahan Cikoko pada 1 Mei 2023.
Laporan selanjutnya ditindaklanjuti pada 2 Juni 2023 dengan rincian pada 9 Mei, Sudin LH Jakarta Selatan dan OPD terkait membenarkan bahwa peternakan sapi belum melakukan pengolahan air limbah sebelum dibuang ke saluran warga.
Kemudian, pada tanggal 12 Mei, Kelurahan Cikoko berkoordinasi untuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sana.
Pada 3 Juni 2023, laporan Hasan di JAKI sudah dianggap selesai oleh Biro Pemerintahan. Hasan merasa heran karena permasalahan di lapangan belum selesai.
"Siapa itu yang bikin selesai? Bukan sudin apa tapi Biro Pemerintahan," ucapnya.
Hasan berharap, peternakan sapi tersebut berhenti beroperasi sementara sampai seluruh izin usaha dan pengelolaan limbah dapat disesuaikan dengan standar.
Jika itu semua sudah dipenuhi, ia pun tak masalah jika peternakan tersebut sudah beroperasi kembali.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya