Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP, Jhonny Simanjuntak mengatakan ada keluhan dari seniman Taman Ismail Marzuki (TIM). Para seniman itu mengadu ke Fraksi PDIP bahwa mereka tidak dilibatkan dalam proses revitalisasi TIM.
"Seniman mengeluhkan mereka tidak diikutsertakan dalam revitalisasi TIM," kata Johnny, Rabu (23/3).
Kepada Fraksi PDIP, para seniman mengeluhkan dengan jumlah kursi, pencahayaan, dan konsep bangunan gedung pertunjukan TIM. Dari hasil revitalisasi yang ada, kursi di gedung pertunjukan mencapai 1.000 kursi. Jumlah ini dinilai para seniman yang hadir, terlalu banyak.
Seniman berpandangan, tujuan dari sebuah aksi teater adalah rasa intim antara para seniman dengan hadirin. "Daya tampungnya cukup 600 agar ada kedekatan antara penonton dengan pertunjukan teater itu sendiri," kata dia.
Jhonny menyampaikan, sebelum revitalisasi dilakukan, para seniman menyebutkan tidak pernah dilibatkan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk berdiskusi dalam sebuah forum. Memang, ujar Jhonny, terdapat diskusi forum yang melibatkan para seniman TIM, namun hasil dari diskusi tu diklaim tidak dieksekusi oleh Jakpro. Jhonny menyebutkan bahwa keinginan seniman agar konsep gedung pertunjukan TIM kembali ke konsep sebelumnya.
"Kembalikan ke konsep awal, usernya kan seniman, mereka yang paling tahu kebutuhan apa di sana," pungkasnya.
Seniman juga disebut keberatan dengan pengelolaan yang dikuasai Pemprov sepenuhnya. Idealnya menurut para seniman, pengelolaan TIM di basah Badan Layanan Urusan Daerah (BLUD) yang bersifat pelayanan publik, bukan semata-mata profit oriented.
"Zaman Bang Ali Sadikin kan seperti itu, seniman diberikan kesempatan mengelola. Karena TIM kan sebagai etalase seni dan tempat produksi seni," ucapnya.