Peneliti Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Profesor Zainal Arifin menyampaikan kontaminasi zat paracetamol di Teluk Jakarta dapat menyebabkan gangguan reproduksi terhadap kerang. Hal ini disampaikan sehubungan publikasi temuan dari BRIN tentang kontaminasi zat paracetamol di Teluk Jakarta.
Dalam webinar, Zainal menyampaikan pemaparannya penyebab zat paracetamol dapat merusak reproduksi kerang karena kandungan paracetamol menurunkan persentase folikel dan gonad yang ada pada kerang.
Folikel diketahui merupakan kantung berisi cairan yang nantinya membentuk sel telur. Sementara gonad adalah organ pada kerang yang berfungsi sebagai reproduksi.
"Jadi ini kalau persentase efek dari paracetamol setelah mengalami exposure 24 hari mengalami penurunan lebih tajam. Ini artinya gangguan pada sistem jaringan untuk menghasilkan sel telur. Jadi kenapa kita sebut bahwa berdampak potensi kepada biota laut khususnya kerang," jelas Zainal, Senin (4/10).
Zainal menjelaskan, dalam proses penelitian kontaminasi zat paracetamol, peneliti menggunakan kerang biru berukuran 30-50 mm sebagai wadah penelitiannya. Kerang tersebut diuji menggunakan air artifisial atau air khusus yang menyerupai air murni laut.
Ada tiga perlakuan selama penelitian, yaitu kerang yang diuji dengan air 40 nanogram per liter, 250 nanogram per liter, dan 1.600 nanogram per liter.
Dari perlakuan tersebut, imbuh Zainal, parameter yang diukur adalah integritas membran, observasi histopatologi, dan analisi mRNA.
Atas rangkaian tes terhadap kerang, Zainal mengatakan belum ada data valid yang menunjukan kontaminasi zat paracetamol berdampak membahayakan bagi manusia. Meski ia tidak menegasikan ada dampak tertentu pada manusia meskipun kecil.
"Apakah ini berpengaruh kepada manusia belum tahu kita, mungkin sangat kecil pengaruhnya," tandasnya.
Sebelumnya, hasil penelitian tersebut masuk dalam publikasi LIPI yang diunggah pada 14 Juli 2021 melalui laman resminya lipi.go.id, terkait tingginya konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta, dengan judul: High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia.
Peneliti tersebut di antaranya Wulan Koagouw dan Zainal Arifin. Keduanya dari dari Pusat Penelitian Oceanografi itu menemukan dari empat titik yang diteliti di Teluk Jakarta, dua di antaranya, yakni di Angke terdeteksi memiliki kandungan paracetamol sebesar 610 nanogram per liter dan di Ancol mencapai 420 nanogram per liter.
Sementara itu, berdasarkan lampiran VIII PP Nomor 22 Tahun 2021, parameter baku mutu air laut mencapai 38 jenis yakni warna, kecerahan, kekeruhan, kebauan, padatan tersuspensi total dan sampah.
Kemudian, suhu, lapisan minyak, pH, salinitas, oksigen terlarut, kebutuhan oksigen biokimia, ammonia, ortofosfat, nitrat, sianida, sulfida, hidrokarbon petroleum total, senyawa fenol total, poliaromatik hidrokarbon, poliklor bifenil, surfaktan, minyak dan lemak.
Selanjutnya, pestisida (BHC, aldrin/dieldrin, chlordane, DDT, heptachlor, lindane, methoxy-chlor, endrin dan toxaphan), tri buti tin, raksa, kromium heksavalen, arsen, cadmium, tembaga, timbal, seng, nikel, fecal coliform, coliform total, pathogen, fitoplankton dan radioaktivitas.