Wali Kota Depok, pendekar dengan jurus andalan Naga Ngerem

Kota Depok salah satu yang memiliki ratusan pendekar.

Anisyah Al Faqir
Oleh Anisyah Al Faqir - Reporter
Wali Kota Depok, pendekar dengan jurus andalan Naga Ngerem
pendekar kota Depok. ©2016 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Istilah pendekar dan centeng mengingatkan kita pada cerita-cerita zaman masa kolonial Belanda saat menjajah tanah Batavia. Seorang dianggap sebagai pendekar bukan hanya mahir dalam bela diri tapi juga dikenal kebijaksanaanya. Tak heran jika keberadaan pendekar selalu dijadikan musuh abadi penjajah kala itu.

Istilah pendekar masih lekat di tengah masyarakat betawi dewasa ini. Kota Depok salah satu yang memiliki ratusan pendekar. Akhir pekan lalu, Minggu (13/3), mereka berkumpul di halaman Balaikota. Pendekar-pendekar ini datang dari 78 perguruan pencak silat di Kota depok dan 40 perguruan silat di wilayah Jabotabek.

Di hadapan Wali Kota Depok, Idris Abdul Shomad, secara bergantian mereka unjuk gigi mempraktikan pelbagai ilmu bela diri yang dikuasai. Idris juga salah satu orang yang aktif di perguruan bela diri. Tahun lalu dia dinobatkan sebagai pendekar Depok oleh Lembaga Usaha Masyarakat Budaya dan Kesenian (LUMBUK) Kota Depok.

"Wali kota itu adalah pendekar, orang yang mumpuni dalam segala hal. Kalau sekarang ini posisi pendekar dipegang oleh Pak Wali. Kebetulan beliau memang yang mumpuni di berbagai bidang ilmu pengetahuan maupun kanuragan," ujar Ketua LUMBUK Kota Depok Norman Hasra dalam acara Syukuran Akbar Pendekar Kota Depok dan Deklarasi LUMBUK bersama 1000 Centeng Budaya di halaman Kantor Balaikota Depok, Minggu (13/3).

Norman menuturkan, Idris termasuk orang dihormati di kalangan pendekar dan perguruan silat Sibunder. Jurus andalannya, kata dia, Naga Ngerem. Salah satu jurus dari Silat Sibunder yang bisa menjatuhkan lawan dengan cepat, dalam hitungan detik. Tak hanya bermain silat, Idris juga dikenal pandai memainkan berbagai seni budaya khas betawi lainnya. Seperti Lenong Betawi, membaca Puisi, Gambang Kromong.

Ada pendekar, ada pula istilah centeng yang juga masih akrab di telinga warga Betawi. Di masa kolonial centeng merupakan sebutan untuk orang yang bertugas menjaga tanah atau wilayah yang dimiliki orang berduit. Tapi saat ini tugas centeng berubah yakni menjaga budaya. Depok memiliki sekitar 2.400 centeng.

"Centeng kan di zaman Belanda artinya penjaga. Penjaga tanah, kebon, wilayah," jelas Norman.

Rekomendasi