Pandangan negatif terhadap sopir Kopaja tak lantas membuat orang meninggalkan profesi tersebut. Bagi sebagian orang, menjadi sopir Kopaja mempunyai kebanggaan tersendiri.Seperti yang Irwansyah dan 5 teman lainnya. Deru mesin dan pekatnya asap dari knalpot Kopaja memberikan kesan tersendiri bagi mereka. Meski demikian, mereka tak menampik adanya pandangan negatif terhadap profesi yang tengah dilakoni, salah satunya perilaku ugal-ugalan yang kerap dilakukan sopir lainnya saat berada di jalanan Ibu kota. Mereka mengakui faktor setoran menjadi salah satu pemicu sopir kadang memacu kendaraannya hingga berlebihan. Tekanan dari sang pemilik mobil yang terkadang membuat sopir amburadul mengendarai kendaraannya.Beruntung bagi mereka. Mempunyai bos yang tak menekan jumlah setoran sehingga mereka pun nyaman menjalani pekerjaannya."Enggak. Pemiliknya enggak maksa. Yah, memang ada targetnya, tapi kalau enggak bisa dapet segitu ya enggak apa apa. Enggak dimarahi. Ya segitu aja," ujar Irwansyah saat ditemui merdeka.com, di kawasan Terminal Blok-M, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).
Advertisement
Irwansyah pun mengaku belum pernah mendapatkan perilaku tak mengenakan dari sejumlah preman setempat yang menurut pandangan orang kerap meminta 'jatah' dari sebagian penghasilan yang ia dapat. "Wah, kalau itu enggak ada. Enggak ada preman-preman," tegasnya.Namun, hal sebaliknya dilontarkan Yusuf, salah satu penjual gorengan yang kerap mangkal di tempat tersebut. ia membeberkan jika para sopir bus selalu dimintai uang oleh segelintir preman pada waktu tertentu. Bahkan, ia pernah menyaksikan langsung dengan mata kepalanya sendiri. "Bener mbak. Biasa itu adanya di atas pukul 10.00 WIB gitu. Kelihatan. Kan saya jualannya di situ. Namanya juga preman, pasti sopir Kopaja takut kalau mau nolak didatangi preman," beber Yusuf.