Beredar foto rapat yang tengah dipimpin istri dan adik Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Veronica Tan dan Harry Basuki. Bahkan, ini menjadi pembicaraan di media sosial.Basuki atau akrab disapa Ahok ini mengaku bingung, mengapa hal sepele bisa menjadi bahan pembicaraan. Karena buat dirinya dan keluarganya, tempat duduk bukan menjadi masalah yang krusial."Saya bukan orang yang ribut soal kursi atau tempat duduk. Untuk apa sih kursi? Bukan masalah buat saya. Nah ini suatu hal yang biasa. Bahkan ini juga jadi masalah dengan istri saya dan adik saya," ungkapnya di hadapan lurah yang hadir Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) se Jakarta di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (12/3).Menurutnya, bukan hal yang perlu dibicarakan saat istrinya memimpin rapat. Sebab, istri lurah dan camat juga biasa memimpin rapat untuk kegiatan sosial.Mantan Bupati Belitung Timur ini menjelaskan, penggunaan ruang rapat pimpinan (Rapim) atas perintahnya. Sebab ruang rapat TPUT yang biasanya digunakan sedang penuh."Mereka diundang, sama kaya istri bapak diajak ngurusin taman, ruangannya penuh. Ya udah saya suruh pakai ruang rapim, daripada kosong. Saya paling pakai ruang rapim seminggu sekali. Rugi dong kita," tegasnya.Ahok mengungkapkan, Harry seharusnya bisa duduk di mana saja. Tetapi Deputi Gubernur bidang Kebudayaan dan Pariwisata Silviana Murni meminta adik Ahok untuk duduk berdampingan dengan Veronica."Adik saya jadi pembicara, ibu Silvi suruh dia duduk di tengah. Terus difoto dikeluarin. Dan ini jadi masalah. Buat kami soal duduk itu enggak jadi masalah. Kalau kursi enggak ada masalah," jelasnya.Mantan politisi Gerindra dan Golkar ini menegaskan, sebagai bukti kursi bukan menjadi kendala sudah banyak. Sebab dia mempersilakan siapapun untuk duduk di kursi Gubernur DKI Jakarta sekadar untuk berfoto."Saya aja, orang mau duduk di kursi saya mau foto saya kasih itu duduk di kursi gubernur itu. Betul. Bagi saya bukan kursinya, bagi saya itu kerjanya," tutupnya.Sebelumnya, Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Sarwo Handayani memberikan penjelasan. Rapat tersebut tidak membahas mengenai program kerja Pemprov DKI Jakarta. Sebab yang dibicarakan adalah percepatan revitalisasi Kota Tua. Sarwo mengatakan, Veronica terpanggil untuk melakukan pembenahan terhadap salah satu warisan sejarah tersebut."Bu Veronica ini istilahnya merasa terpanggil aja setelah lihat Kota Tua dan Taman Fatahillah. Dia menyayangkan kok ada fasilitas yang bagus dan terkenal tapi berantakan, banyak kaki lima, trotoarnya jumpalitan, batu-batunya copot-copot," ungkapnya saat dihubungi merdeka.com, Selasa (10/3).Sarwo sempat menyayangkan pihak-pihak yang mempermasalahkan niat untuk penataan Kota Tua ini. Sebab ini dapat berdampak kepada SKPD terkait kembali enggan untuk diajak berdiskusi."Makanya saya juga heran kalau kami mau sama-sama menata kok dijadikan permasalahan gitu," katanya.Dia tidak membantah jika Veronica menjadi pemimpin rapat, karena menjadi penggagas perbaikan Kota Tua. Sedangkan Harry ikut dalam rapat bukan untuk memimpin, melainkan memberikan masukan. "Beliaukan (Harry) ahli wisata terus kasih masukan. 'Kalau mau nata kaki lima sebelah situ jangan sebelah sini'. Terus kami juga ngundang arsitek yang mau nyumbang saran dan ide," jelasnya.Mengenai pengerjaannya, mantan Deputi Gubernur bidang Tata Ruang ini menjelaskan, tidak ada sama sekali menggunakan uang bantuan perusahaan atau Corporate social responsibility (CSR). Sebab semuanya akan menggunakan APBD DKI Jakarta, melalui SKPD."Misalnya, kalau perbaikan jalan dari Dinas PU (Pekerjaan Umum). Jadi semua dikembalikan kepada tupoksi SKPD-nya, bukan dari dana CSR," tutupnya.
Heboh foto adik dan istri pimpin rapat, ini komentar Ahok
Ahok mengaku bingung, hal sepele bisa menjadi bahan pembicaraan.