Los-los bekas pedagang terbengkalai, diduga dimanfaatkan untuk tempat konsumsi sabu
Advertisement
Dari era Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) sampai Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, berbagai cara dilakukan untuk menertibkan permasalahan PKL tersebut.
Saat menjadi DKI 1, Jokowi berencana untuk merelokasi PKL ke Blok G. Dengan iming-iming membebaskan biaya sewa selama enam bulan bagi para PKL. Hingga akhirnya Blok G ditempati para PKL. Sayangnya, kawasan tersebut sepi pengunjung. Ahok yang menjabat sebagai gubernur saat itu berencana mengubah kawasan ini menjadi superblok.
Advertisement
Advertisement
Merdeka.com menelusuri Blok G untuk memastikan kabar tersebut Jumat (7/7).
Suasana di lantai satu pasar masih nampak normal. Pada lantai satu tampak aktivitas normal pedagang. Meskipun memang tampak sepi pembeli. Kebanyakan lantai 1 diisi oleh pedagang-pedagang pakaian.
Advertisement
Situasi juga nampak sepi dan kosong. Lantai tersebut tampak seperti gedung terbengkalai.
Beberapa lapak pedagang juga rusak dan banyak sampah berserakan. Los-los pedagang tersebut dipenuhi sampah botol plastik, manekin, kain dan lain-lain. Bau pesing pun menyengat dari tiap los. Membuat situasi tak nyaman dan jorok. Sumber pencahayaan hanya mengandalkan matahari. Sisanya sangat gelap.
Advertisement
Di bagian los nomor 149, terdapat sebuah botol plastik air mineral yang tutupnya dilubangi. Di atasnya ada dua sedotan plastik. Botol tersebut mirip dengan bong sabu.
Advertisement
Tak hanya itu, terdapat beberapa botol lem aibon di sana.
Kami bertemu Ali Jawas (60), yang sudah berdagang sejak 1987 di sana. Dia bercerita, pasar ini sudah terbengkalai selama 6-7 tahun. Para pedagang memutuskan meninggalkan Blok G karena sepi pembeli. “Tadinya (lantai) dua, tiga ini diisi sama pedagang pakaian. Tapi karena enggak ada pembeli, ditinggal, dijadikan tempat gembel, tempat tidur,” kata Ali ketika ditemui.
Ali mengaku sudah melaporkan hal ini kepada Perumda Pasar Jaya selaku pengelola gedung. Namun, ia baru mendapatkan respons pada April 2023. “Baru sekarang dia ada respons. Responsnya dia mau bangun makanya kita kemarin dipanggil ke blok A. Semua dipanggil. Blok A itu manajer, memimpin semua pasar yang ada di Tanah Abang blok A, Blok B, Blok M, Pasar Sabeni, Kebon Kacang, Gandaria itu semua dipegang sama dia,” ujar Ali.
Advertisement
“Tujuh tahun ini sudah lama kita didiamin (sama Pasar Jaya). Pasar Jayanya enggak ada respons sama sekali dari pas dibongkar zaman Ahok gak ada inian sama sekali, berantakan sekarang. Gubernur selanjutnya Pak Anies Baswedan memang enggak ada inian. Kita enggak salahin gubernurnya, karena mungkin enggak ada arahan dari sebelumnya,”
tambah Ali saat berbincang dengan kami.
Selain Ali, merdeka.com juga bertemu dengan pedagang lain. Ia mengatakan bahwa lantai dua dan tiga digunakan sebagai tempat nyabu. “Iya memang di lantai. Lihat-lihat saja ke sana,” katanya.
Advertisement
Advertisement
“Kita yang ke sana (DPRD). Ketemu ketuanya,” tambahnya.
Kapolres Jakarta Pusat Kombes Komarudin mengaku sudah mengecek ke lokasi sejak Kamis (6/7). Namun, ia tidak menemukan bukti Blok G menjadi tempat pengedar sabu. “Hingga saat ini tim masih melakukan pengecekan di lokasi tersebut. Dari kemarin sudah tapi belum membuahkan hasil,” kata Komarudin kepada merdeka.com. Komarudin mengungkapkan, lantai dua dan tiga dihuni oleh orang luar yang tidak memiliki tempat tinggal. Meski demikian, ia masih mencari informasi lebih detail.
“Jadi tim yang sudah diterjunkan ini bersifat tertutup. Untuk awalnya warga di sana (sekitar Blok G) melaporkan kalau itu tempat dihuni oleh orang-orang yang bukan asli di sana. Kan itu tempat sudah lama juga soalnya,”
Advertisement
tambah Komarudin.
Merdeka.com
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengaku akan meminta Wali Kota Jakarta Pusat Dhany Sukma untuk memeriksa langsung ke lokasi. “Ya nanti bersama Pak Wali, Polres, disuruh cek. Kalau itu menyangkut kriminalitas ya polres,” kata Heru.
Advertisement