FOTO: Potret Para Pemburu Hilal Awal Ramadan 1445 Hijriah di Atap di Masjid Al-Musyari'in

Kementerian Agama juga menggelar pemantauan hilal awal Ramadhan 1445 Hijriah di 134 lokasi di Indonesia.

Herman
Oleh Herman - Reporter
FOTO: Potret Para Pemburu Hilal Awal Ramadan 1445 Hijriah di Atap di Masjid Al-Musyari'in
FOTO: Potret Para Pemburu Hilal Awal Ramadan 1445 Hijriah di Atap di Masjid Al-Musyari'in (Merdeka.com)

FOTO: Potret Para Pemburu Hilal Awal Ramadan 1445 Hijriah di Atap di Masjid Al-Musyari'in

Sementara di DKI Jakarta, ada empat lokasi yang menjadi tempat pemantauan hilal.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kementerian Agama (Kemenag) akan menentukan awal Ramadan, dengan pemantauan hilal pada 29 Syakban 1445 H.

Hasil dari pemantauan hilal ini selanjutnya akan disampaikan dalam sidang isbat Kemenag, Minggu (10/3/2024). Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

Dalam memantau hilal untuk menentukan awal Ramadan 1445 H, tim memantau penampakan hilal dengan ketinggian sekitar 1,7 derajat. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

Dalam memantau hilal untuk menentukan awal Ramadan 1445 H, tim memantau penampakan hilal dengan ketinggian sekitar 1,7 derajat. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kementerian Agama juga menggelar pemantauan hilal awal Ramadan 1445 Hijriah di 134 lokasi di Indonesia. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

Di DKI Jakarta, ada empat lokasi yang menjadi tempat pemantauan hilal. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

Di DKI Jakarta, ada empat lokasi yang menjadi tempat pemantauan hilal. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Keempat lokasi itu di antaranya di Gedung Kanwil Agama DKI Jakarta, Masjid Hasim Asyari Jakarta Barat, Ponpes Hidayatullah Basmol Jakarta Barat dan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Cecep Nurwendaya mengatakan hilal di Indonesia belum berlihat berdasarkan Kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Cecep Nurwendaya mengatakan hilal di Indonesia belum berlihat berdasarkan Kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Menurutnya, hilal di Indonesia belum tampak dikarenakan  belum menyentuh 3 derajat.

Sementara, kriteria MABIMS menetapkan hilal di 3 derajat hingga 6,4 derajat. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

"Tinggi hilal di Indonesia minus 0,33 derajat sampai dengan 0,8 derajat. Jadi tidak ada yang mencapai 0,9 atau di bawah 1 derajat, sehingga tidak masuk Kategori MABIMS 3 derajat," tutur Cecep kepada peserta Sidang Isbat, Minggu (10/3/2024). Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

"Tinggi hilal di Indonesia minus 0,33 derajat sampai dengan 0,8 derajat. Jadi tidak ada yang mencapai 0,9 atau di bawah 1 derajat, sehingga tidak masuk Kategori MABIMS 3 derajat," tutur Cecep kepada peserta Sidang Isbat, Minggu (10/3/2024). Foto: Liputan
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Cecep menyebut, kondisi hilal di Indonesia masih rendah yakni kurang dari 1 derajat. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

"Di Saudi misalnya lebih dari 2 derajat di Amerika, Pantai Timur dan Pantai Barat 7 sampai 8 derajat. Jadi memang dalam satu hari terbenam matahari berbeda-beda. Kita berpusat pada Republik Indonesia," jelas dia. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia

"Di Saudi misalnya lebih dari 2 derajat di Amerika, Pantai Timur dan Pantai Barat 7 sampai 8 derajat. Jadi memang dalam satu hari terbenam matahari berbeda-beda. Kita berpusat pada Republik Indonesia," jelas dia. Foto: Liputan6.com / Herman Zakharia<br>
Dok. Istimewa
Rekomendasi