Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Asrama SMKN 61 Pulau Tidung mangkrak setahun, ortu siswa protes

Asrama SMKN 61 Pulau Tidung mangkrak setahun, ortu siswa protes Asrama SMKN 61 Pulau Tidung. ©2014 Merdeka.com/Iwan Maway

Merdeka.com - Setelah dibangun sejak 2013 lalu, asrama gedung Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 61 Jakarta, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan tak kunjung ditempati oleh ratusan siswa sekolah tersebut. Bahkan, para orangtua siswa justru harus merogoh koceknya lebih dalam sebesar Rp 300 ribu per bulan untuk mengontrak rumah di sekitar sekolah.

Hal tersebut tidak terlepas, dari ratusan siswa terpaksa mengontrak sejumlah rumah penduduk karena mereka merupakan bukan warga asli Pulau Tidung.

Salah satu orangtua murid Kelvin Mahesa (16) kelas X asal Pulau Payung, Ratna (35) mengatakan, dirinya harus mengeluarkan koceknya lebih banyak sebesar Rp 700 ribu untuk keperluan anaknya selama bersekolah di SMKN 61.

"Uang kontrakan saja Rp 300.000 per bulan, belum lagi biaya hidup dia di sana selama sebulan sekitar Rp 400.000 sebulan," ujar Ratna, Jumat (8/8).

Ratna juga merasa biaya hidup keluarganya semakin membengkak, terlebih lagi sang suami hanya seorang nelayan di Pulau Payung.

"Sebagai nelayan, suami saya tidak selalu membawa uang. Kadang dapat uang Rp 100.000 per hari, kadang tidak dapat uang karena hasil tangkapan ikan kosong," keluh Ratna.

Ratna berharap, secepat mungkin gedung asrama yang sudah jadi sejak 2013 lalu untuk segera dapat ditempati sebagai mana fungsinya agar biaya hidup keluarganya tidak begitu memberatkan.

"Sayang kalau sudah dibangun, tapi asramanya tidak difungsikan sebagaimana mestinya," harap Ratna.

Hal senada juga diungkapkan Husnayah (40), orangtua siswa kelas X SMKN 61 Jakarta, Andi Kusnaedi (15). Husnayah mengaku anaknya tidak nyaman tinggal di rumah kontrakan warga sehingga kesulitan belajar.

"Kadang kalau kunjungan wisatawan sedang membludak, anak saya malah tidur beralaskan tikar. Padahal biasanya menggunakan kasur. Warga sana lebih mengutamakan wisatawan daripada penduduk pulau sendiri," kata warga Pulau Payung itu.

Selain itu, Husnayah wanita beranak dua tersebut mengaku, dirinya terpaksa mengontrak rumah warga sekitar sekolah untuk anaknya tersebut karena jarak rumah ke sekolah terlampau jauh dengan harus menempuh perjalanan 30 menit. Belum lagi dirinya juga harus merogoh koceknya lebih dalam untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar untuk mengantar anaknya setiap hari bila tidak mengontrak rumah warga.

"Setiap Sabtu Minggu saya selalu menjemput anak saya, lalu Minggu sorenya kami antar kembali ke Pulau Tidung. Untuk bolak-balik perlu membeli solar hingga Rp 100.000," tandasnya. (mdk/gib)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP