Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejarah Topi Bambu Tangerang, Disukai Orang Eropa hingga Dijual Lebih Mahal

Sejarah Topi Bambu Tangerang, Disukai Orang Eropa hingga Dijual Lebih Mahal Kegiatan Bamboo Market Serpong. ©2019 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Kota Tangerang merupakan kota yang berada di pinggiran Jakarta dan masuk ke dalam Provinsi Banten. Di kota yang terkenal dengan beras ini dahulu kala pernah dikenal sebagai kota dengan kerajinan topi anyaman yang memukau.

Menurut sejarah, topi anyaman Tangerang pernah menjadi primadona yang terkenal hingga ke bangsa Eropa. Berikut sejarah panjang topi kebanggaan bangsa Eropa pada zaman dahulu.

Sejarah Topi Anyaman Tangerang

Awal kepopuleran Topi Anyaman Bambu dan Pandan bermula saat seorang saudagar asal negeri tirai bambu datang ke Jawa sekitar abad 19. Ia datang setelah melakukan ekspedisi dagang dari kota Manila Filipina.

Awalnya Ia datang untuk melakukan ekpansi dagang, namun melihat banyaknya bahan seperti bambu dan serat pandan lantas Ia memperkenalkan sebuah topi yang terbuat dari anyaman.

Setidaknya hal itu yang ditulis oleh konsulat perdagangan di Biro Perdagangan Luar Negeri dan Domestik dalam laporannya tanggal 31 Maret 1931 yang termuat dalam Commerce Reports Vol. 1.

Banyak Dibuat Masyarakat Setempat

topi bambu tangerang

GNFI 2020 Merdeka.com

Selanjutnya pasca kedatangan saudagar tersebut banyak dari masyarakat setempat yang beralih profesi. Mereka awalnya menjadi petani lalu berubah haluan menjadi pengrajin topi dari anyaman bamboo dan serat pandan.

Pada masa itu terdapat sekitar 200 ribu hingga 300 ribu anggota keluarga lelaki, perempuan yang membuat topi anyaman. Selain itu terdapat pula anak-anak dari lelaki dan perempuan tersebut yang ikut membantu dalam menyiapkan serat pandan dan bambu.

Kejadian tersebut dipicu dari pelemahan harga padi di neraca perdagangan Belanda sehingga membuat harga padi turun dan tidak laku di pasaran. Banyak dari para petani padi di kawasan Tangerang banting setir menjadi pengrajin Topi Khas Kota Beras tersebut.

Disukai Tentara Belanda

topi bambu tangerang

2020 Merdeka.com

Bahkan saking terkenalnya topi dari anyaman Bambu dan Serat Pandan tersebut sering digunakan oleh Tentara Belanda. Topi tersebut pun menjadi seragam wajib dari Pasukan KNIL atau Koninlijke Netherlands Indie Leger (prajurit Hindia Belanda yang bertugas di Indonesia pada zaman revolusi).

Hingga kini topi dari anyaman bambu atau pandan masih digunakan oleh kelompok Pramuka di Tanah Air.

Menjadi Icon Kabupaten Tangerang di Era Penjajahan Belanda

Dalam tulisan Margreet Van Till yang termuat dalam catatan pengamatan dalam Banditry in West Java : 1869 1942, menuliskan jika kepopuleran topi Jawa tersebut (sebutan untuk topi anyaman dari Tangerang) menjadikan Kabupaten Tangerang sebagai ladang pembuatan topi. Pada saat itu topi bambu tersebut pun dijadikan sebagai lambang Kabupaten Tangerang.

Diborong oleh Pengusaha Perancis

topi bambu tangerang

GNFI 2020 Merdeka.com

Topi anyaman tersebut terus berekspansi hingga terdengar oleh para pengusaha dari negara Perancis. Dari sana banyak pengusaha yang langsung berburu ke Kabupaten Tangerang untuk memborong topi anyaman dan dijual kembali ke Belanda dan Perancis dengan harga yang berkali lipat.

"Para perwira dan awak kapal uap Prancis membelinya dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga dua kali lipat. Banyak topi itu dibeli seharga dua gulden 50 sen di Batavia dan dijual seharga 12 franc di Marseilles, dijual kembali di Bordeaux seharga 30 franc, dan sekali lagi di Paris untuk harga 80 franc," tulis Wright dalam laporannya yang berjudul Twentieth Century Impressions of Netherlands India: Its History, People, Commerce, Industries, and Resources.

Pada masa kejayaannya, topi tersebut dibuat dengan jumlah yang sangat banyak hingga mencapai titik ekspor topi tertinggi. Awalnya pada 1982 dibuat berjumlah 23.538.000. Kemudian kembali ditingkatkan kapasitas produksinya menjadi 25.613.000 pada tahun 1929. Hal tersebut seperti yang tertulis dari laporan Commerce Reports Vol. 1.

Di Modifikasi di Amerika

Perjalanan panjang topi eksotis dari Tangerang tersebut akhirnya sampai ke negeri Paman Sam Amerika. Di sebuah kota di Amerika bernama St Louis topi-topi dari Kota Beras tersebut lantas diborong dan diperindah desainnya dengan sedikit mengambil bentuk dari topi Meksiko.

"Bentuk topi-topi buatan tangan diimpor dalam bentuk setengah jadi dari Meksiko, Jawa, dan Jepang," tulis Majalah Hearings, Vol. 5.

Setelah selesai, topi-topi itu dijual dengan harga tinggi. Para aktor dan aktris yang memakainya ikut mendongkrak popularitas topi tersebut.

Di banyak negara lain, Roy Rogers muda dan Dale Evans sekarang mengenakan topi buatan tangan orang Jawa atau Indian Mesksiko yang dibentuk ulang, dilukis, serta dipotong di St. Louis.

Topi Tangerang Era 1930-an Sampai Sekarang

topi bambu tangerang

Akun Instagram @topibambu 2020 Merdeka.com

Di tahun 1930-an mode trend pakaian sedikit bergeser menjadi lebih modern. Sehingga menurut abouttng.com kepopuleran topi tersebut sempat meredup dan kehilangan pangsa pasarnya. Di era sekarang telah muncul sebuah komunitas yang peduli akan keberadaan topi dari anyaman bambu dan serat pandan tersebut.

Pada 2011 lahirlah sebuah komunitas bernama Komunitas Topi Bambu yang dimotori oleh Agus Hassanudin. Ia bersama anggota komunitas dan sekitar 2000-an pengrajin topi bambu dari Tangerang berusaha mengangkat kembali kejayaan topi tradisional tersebut.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP