Alasan Masker Scuba Tak Efektif untuk Cegah Covid-19, Ketahui Penjelasannya

Salah satu upaya untuk mencegah terpapar Covid-19 dengan menggunakan masker. Ada beragam jenis masker yang bisa menjadi pilihan, salah satunya masker scuba yang termasuk banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Namun, sayangnya banyak pihak menilai bahwa masker scuba tidak efektif untuk tangkal Covid-19.

Novi Fuji Astuti
Oleh Novi Fuji Astuti - Reporter
Alasan Masker Scuba Tak Efektif untuk Cegah Covid-19, Ketahui Penjelasannya
masker scuba dan buff. ©2020 Istimewa

Salah satu upaya untuk mencegah terpapar Covid-19 dengan menggunakan masker. Ada beragam jenis masker yang bisa menjadi pilihan, salah satunya masker scuba yang termasuk banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Namun, sayangnya banyak pihak menilai bahwa masker scuba tidak efektif untuk tangkal Covid-19.

Salah satu hal yang membuat masker scuba dinilai tidak efektif karena menggunakan bahan yang tipis dan elastis. Sehingga ketika ditarik, maka pori dari masker ini akan membesar yang berakibat memudahkan virus untuk masuk melalui pori-pori masker tersebut.

Sementara satgas Covid-19 dan WHO (World Health Organization) merekomendasikan untuk menggunakan masker kain tiga lapis. Di mana lapisan untuk menyerap, lapisan kedua untuk menyaring ada lapisan terakhir atau yang paling luar tersebut dari bahan polyester.

Berikut informasi lengkap mengenai alasan masker scuba tak efektif untuk cegah Covid-19 telah dirangkum merdeka.com melalui liputan6.com pada Rabu, (01/12/2021).

1. Berbahan Tipis

Alasan masker scuba tak efektif untuk cegah Covid-19 yang pertama karena menggunakan bahan neoprene yang tipis dan elastis. Di mana jika ditarik pori akan membesar. Padahal kita membutuhkan masker yang memiliki filtrasi yang bagus. Selain itu masker scuba yang termasuk masker kain ini hanya terdiri dari satu lapisan sehingga terlalu tipis untuk menangkal Covid-19.

2. Tidak Memiliki Kemampuan Menyaring Partikel yang Lebih Kecil
Alasan masker scuba tak efektif untuk cegah Covid-19 berikutnya karena masker scuba dinilai tidak memiliki kemampuan menyaring partikel yang lebih kecil. Merujuk pada penelitian ilmiah dalam jurnal ACS Nano belum lama ini mengungkapkan, kemampuan electrostatic atau menyaring partikel-partikel yang lebih kecil menjadi poin penting.

Bahan sutra atau silk empat lapis bisa menyaring banyak partikel, diikuti chiffon yang merupakan gabungan 90 persen poliester dan 10 persen spandeks. Lalu, flanel yang terdiri dari 65 persen katun dan 35 persen poliester.

Terkait ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Satgas COVID-19 merekomendasikan kain tiga lapis yakni lapisan dalam yang menyerap, lapisan tengah untuk menyaring, dan lapisan luar yang terbuat dari bahan seperti poliester.

3. Tak Ada Ruang untuk Bibir
Menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes masker scuba dinilai tidak memberikan ruang bagi bibir ketika seseorang berbicara. Sehingga kemungkinan besar kita untuk memperbaiki letak masker yang turun jadi lebih sering. Hal ini tak bisa dianggap sepele, sebab banyaknya sentuhan-sentuhan inilah virus Corona dapat masuk ke tubuh.

4. Bukan Masker
Masih menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, menyatakan bahwa masker scuba tidak bisa dikatakan sebagai masker karena tidak memiliki filtrasi yang cukup untuk menangkal virus Corona. Pentingnya masker untuk mencegah penyebaran virus Corona menjadikannya tidak bisa dibuat dari sembarang kain.

Rekomendasi