Kisruh perebutan takhta di Kraton Kasepuhan Cirebon kian memanas. Hingga Rabu (25/8) siang, situasi di lingkungan kraton makin tak kondusif. Dua kubu yang berseteru, dari Sultan Aloeda II dan Sultan Luqman Zulkaedin memicu kerusuhan dengan saling lempar batu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Liputan6.com Rabu (25/8), bentrokan terjadi saat kelompok dari Sultan Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Arief Zulkaedin datang ke lingkungan kraton. Di waktu yang bersamaan, prosesi pelantikan Rahardjo Djali sebagai pelaksana perangkat Kraton Kasepuhan Sultan Aloeda II sedang berlangsung.
Kubu Sultan PRA Luqman diusir dan berlanjut dengan saling melemparkan batu. tak terelakkan hingga berlanjut ke pelemparan batu. Tak lama petugas kepolisian dan aparat TNI langsung terjun ke lokasi. Berikut 5 fakta kisruhnya perebutan tahta di Kraton Kasepuhan Cirebon.
Advertisement
Pelantikan Dianggap Ilegal oleh Pewaris Sebelumnya
Pada siang itu, Ratu Alexandra dari keluarga PRA Raja Luqman Arief Zulkaedin mendatangi lokasi kraton di tengah pelaksanaan pelantikan.
Ratu Alexandra berusaha membubarkan prosesi pelantikan, hingga aksi saling dorong dan adu argumen terjadi antara kedua belah pihak. Saat itu pihaknya menganggap jika penobatan tidak sah, lantaran pihak keluarga kraton yang bekuasa sebelumnya tak mengetahui hal ini.
"Mohon maaf ada apa ini. Kegiatan ilegal tidak ada izin bubar," kata Alexandra sambil berusaha mendorong barisan yang mengelilingi prosesi pelantikan.
Advertisement
Kraton Kasepuhan Hanya Punya Satu Sultan
Ketegangan mulai memuncak usai kedua pihak saling menyalahkan satu sama lain. Ratu Alexandra mengatakan jika Kraton Kasepuhan Cirebon diklaim secara sah hanya ada satu yakni sultan PRA Luqman Zulkaedin, yang merupakan penerus sultan PRA Arif yang meninggal tahun lalu. Atas dasar itu, pihaknya merasa berhak menegur aktivitas yang dianggap tak sesuai
"Di Keraton Kasepuhan itu sultan cuma satu. Tidak ada sultan dua. Kegiatan yang ada di keraton harus sepengetahuan sultan sepuh. Kegiatan ini tanpa ada pemberitahuan daei saya pengelola keraton. Kegiatan itu tanpa izin," ujarnya.
Advertisement
Kubu Rahardjo Siap Membuka Diri
Sementara itu, terkait pecahnya kerusuhan di lingkungan kraton, kubu Sultan Aloeda II Rahardjo Djali mengatakan jika perbedaan merupakan hal yang biasa. Pihaknya mengaku siap membuka diri untuk menyelesaikan polemik internal di Kraton Kasepuhan secara intelektual.
"Karena kita ini orang orang berpendidikan dan bermartabat. Jangan menyelesaikan masalah dengan cara premanisme," ujar Rahardjo.
Sultan Aloeda II mengatakan, jika di lingkungan Kraton Kasepuhan Cirebon berlaku hukum adat yang tidak memerlukan izin setiap bentuk aktivitasnya. Ini karena prosesi tersebut merupakan prosesi internal dari keluarga besar di Kraton Kasepuhan Cirebon.
"Di sini berlaku hukum adat dan tidak memerlukan izin siapapun. Dan pelatikan hari ini sah. Perjuangan masih panjang dan banyak yang harus kami kerjakan dan kami laksanakan dari amanah yang diterima orangtua kami," imbuhnya.
Advertisement
Siap Tempuh Jalur Hukum
Di kesempatan itu, kubu Rahardjo juga mengaku siap menyelesaikan permasalahan tersebut melalui jalur hukum jika tidak bisa dilakukan musyawarah.
Menurutnya, Kraton Kasepuhan adalah satu entitas yang berbeda dari entitas dari lain. Sehingga, struktur adat yang dikukuhkan bisa berkembang sesuai kebutuhan.
Untuk itu, pelantikan menandakan bahwa sultan beserta perangkatnya yang bekerja di Keraton Kasepuhan Cirebon telah siap untuk melakukan tugas-tugasnya.
"Kalau tidak puas mari selesaikan jalur hukum, karena kami akan melakukan perbaikan, agar bisa menarik wisatawan lebih banyak setelah lebih 20 orang dilantik dari patih sepuh patih dalam pangeran kumisi sepuh pangeran kumisi dalem," tandasnya.
Advertisement
Polisi dan Aparat TNI Masih Berjaga
Usai kejadian bentrokan dua kubu yang berebut takhta raja tersebut, setidaknya hingga Rabu sore kemarin, anggota kepolisian dan aparat TNI masih melakukan penjagaan.
Kapolres Cirebon Kota, AKBP Imron Ermawan mengatakan, sejumlah personel dari TNI/Polri akan ditempatkan di lingkungan kraton sampai suasana benar-benar kondusif.
"Kami TNI/Porli hadir d isini, untuk meluruskan sesuatu yang salah, dan menegakkan hukum kapeda yang terbukti bersalah. Dan jika adanya aduan warga yang menjadi korban, kita akan identifikasi, " kata Imron, Rabu sore (25/8/2021).