Tak Punya Gadget, Begini Kisah Siswa MI di Lebak yang Terpaksa Belajar di Rumah Guru

Menurut Kepala MIN 1 Lebak Pipin Bahyudin, tidak optimalnya pelaksanaan sekolah di rumah tersebut akibat banyak dari kalangan siswanya yang tidak memiliki perangkat penunjang seperti Android dan laptop.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Tak Punya Gadget, Begini Kisah Siswa MI di Lebak yang Terpaksa Belajar di Rumah Guru
Ilustrasi buku. ©Shutterstock.com/Shai_Halud

Satu tahun pelaksanaan belajar daring di rumah akibat pandemi Covid-19. Rupanya kondisi ini masih belum bisa dirasakan maksimal oleh sejumlah murid dan guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri, MIN 1 (setara sekolah dasar) pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Menurut Kepala MIN 1 Lebak Pipin Bahyudin, tidak optimalnya pelaksanaan sekolah di rumah tersebut akibat banyak dari kalangan siswanya yang tidak memiliki perangkat penunjang seperti Android dan laptop.

"Proses pembelajaran di rumah guru itu karena siswa di sini kebanyakan tidak memiliki laptop dan gadget Android," terang Pipin, Selasa (16/3), seperti melansir dari ANTARA.

Warga Mengeluhkan Jaringan Internet

Dari hasil supervisi yang dilakukan pihak sekolah di lapangan, kebanyakan para orang tua murid menolak pembelajaran via daring lantaran keterbatasan sinyal telekomunikasi di wilayahnya.

Sehingga pembelajaran pun terpaksa dilaksanakan di rumah tenaga pengajar, dengan melakukan pembatasan 10-15 siswa per kelas yang datang.

Pipin mengungkapkan, jika sebenarnya kegiatan belajar mengajar di rumah guru secara tatap muka tersebut justru lebih efektif. Terlebih dari hasil penilaian para siswa diketahui melaksanakan pembelajaran secara penuh.

"Kami melihat pembelajaran di rumah di tengah pandemi COVID-19 itu cukup efektif dan siswa belajar penuh," ungkapnya sembari menjelaskan.

Dilakukan Secara Konvensional

Kemudian menurut Pipin, pelaksanaan pembelajaran tersebut dilakukan secara konvensional dengan mengandalkan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Jumlah siswa di MIN 1 Lebak sendiri saat ini tercatat sebanyak 300 siswa, dengan total tenaga pengajar sebanyak 32 orang. Mereka memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan tugasnya sehingga tetap mengadakan pembelajaran dari rumah mereka.

"Pembelajaran di rumah guru itu dilengkapi papan tulis serta buku pelajaran," tambah Pipin 

Orang Tua Bersama Anak Rela Menempuh Perjalanan 1,5 KM

Berdasarkan hasil pantauan, setiap harinya sebagian siswa tersebut harus menempuh jalan kurang lebih sejauh 1,5 kilometer bersama orang tua untuk belajar di rumah para tenaga pendidik.

Munawaroh (40), salah seorang wali murid asal Leuwidamar mengaku senang mendampingi anaknya dalam mengikuti pembelajaran di rumah guru dibandingkan secara daring dari rumah.

Menurutnya pembelajaran di rumah via daring sangat tidak efektif mengingat keterbatasan perangkat penunjang yang dimiliki seperti Android dan laptop, terlebih anaknya yang masih duduk di kelas 1 MIN itu belum bisa membaca dan menulis.

"Kami datang ke rumah guru dengan jarak tempuh 1,5 kilometer bersama anak untuk belajar di sini," ucap Munawaroh kepada wartawan.

Membentuk Sistem Belajar Secara Berkelompok

Menanggapi keadaan tersebut, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Lebak, Ahmad Firdaus mengatakan jika pihaknya terus berupaya untuk memaksimalkan kegiatan sekolah di masa pandemi seperti sekarang.

Kendati pelaksanaan sekolah daring dinilai tak efektif, pihaknya saat ini tengah fokus mengembangkan pembelajaran sistem berkelompok yang disediakan guru maupun orang tua murid, dengan didatangi oleh para tenaga pengajar dari jenjang MI, MTs dan MA.

“Kami berharap pembelajaran berkelompok dapat meningkatkan prestasi akademik di tengah pandemi Covid-19," katanya menjelaskan.

Langkah tersebut diharapkan bisa membantu, mengingat penerapan belajar daring banyak menemui kendala karena sebagian besar siswa tidak memiliki gadget (Android).

Selain itu, mereka juga merasa sangat keberatan jika harus membeli kuota, terutama siswa dari latar belakang ekonomi rendah. 

Rekomendasi