Sumedang kembali menunjukkan bakat dari para musisi tradisionalnya yang luar biasa. Simpay Panaratas, musisi tradisional asal Kota Sumedang, Jawa Barat yang biasa membawakan lagu-lagu daerah sukses berkolaborasi dengan musisi Prancis kenamaan yang berlokasi di Aula Recital DL Bach, Jakarta.
Pada konser yang bertajuk “Le Concert Impromptu Meets Simpay Panaratas” dan digelar pada Sabtu (8/2), sebanyak 5 orang musisi Sumedang berkolaborasi dengan musisi asal Prancis dengan membawakan karya dari Beethoven dan Desbussy serta lagu tradisional Sunda.
Konser tersebut dibuka dengan komposisi musik dari Les Indes Galantes, yang dilanjutkan dengan sajian etnik Sunda karya Nano S. Ngalagena. Lalu kedua jenis musik tersebut kemudian saling berkolaborasi dan menampilkan bunyi-bunyian yang harmonis dan khas dalam 14 segmen pertunjukan.
Advertisement
Kolaborasi tersebut disempurnakan melalui eksplorasi bersama kesebelas musisi dalam komposisi lagu klasik berjudul "Danse Des Sauvages" dan tentunya lagu dari budaya Sunda yang terkenal yaitu "Sunda Sabilulungan".
Gelaran tersebut juga dihadiri oleh komposer kenamaan Indonesia, Dedy Hernawan yang memimpin jalannya ansambel dari kelompok musik Sunda Simpay Panaratas melalui gestur yang menghibur dan mampu mencairkan suasana konser tersebut.
Kelompok ansambel Sunda dari Sumedang tersebut turut diisi oleh Devi Anggitaningrum pada gamelan dan tarawangsa yang merupakan instrument dawai tradisional Sunda. Lalu Bunga Dessri Nur Ghaliyah pada alat musik biola dengan sekop Sunda yang khas, Julaeha pada drum dan kecapi (sitar), Dikdik Pebriansyah pada terompet dan seruling bambu dan terakhir diisi oleh Yossef Fadhilah di tarawangsa.
Sejak tampil di acara internasional pada tahun 1991, Le Concert Impromtu telah diakui sebagai ansambel instrumen angin paling terkenal di Prancis. Kuintet tersebut juga didirikan sebagai langkah melestarikan musik tradisional di negara Prancis yang beranggotakan Pierre Baffus di basson, Jean Christophe Murer di clarinet, Violaine Dufes pada oboe, Antonin Bonan pada klakson, dan Yves Charpantier pada seruling.
Para musisi Prancis tersebut lebih banyak memainkan aransemen dari musik elektrik serta kombinasi bunyi-bunyian tradisional dari Prancis yang mengandung unsur sejarah dan dibawakan secara berbeda. Sedangkan Simpay Panaratas lebih banyak menampilkan instrument yang lebih variatif dan menarik khas Indonesia.
Advertisement
Dalam konser tersebut Simpay Panaratas mencoba menjalankan misi untuk melanggengkan hubungan diplomasi dari kedua budaya dan negara yang berbeda, yaitu Indonesia dan Prancis. Tak hanya itu, Simpay Panaratas juga mengemban misi untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia melalui musik tradisional yang kaya akan filosofi.
Simpay Panaratas akan kembali diundang oleh kedutaan Indonesia di Kota Paris, Prancis dalam gelaran konser musik gamelan Sunda yang akan diadakan pada Juni 2020. Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir yang hadir pada acara tersebut juga menjelaskan bahwa pertunjukan ini merupakan salah satu langkah strategis antara Indonesia dengan Prancis dalam menjalin hubungan bilateral yang lebih dalam lagi terutama melalui Sister City antara kota Sumedang dengan salah satu kota di Prancis.
Advertisement
Konser tersebut bukan hanya dihadiri oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Oliver Chambard, tetapi juga dihadiri oleh music director Stephen Tong dan beberapa diplomat ekspatriat dari negara negara di Eropa.