Suasana teduh langsung menyambut pengunjung saat memasuki kawasan pemukiman adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Keadaan asri di sana seakan menyiratkan kondisi alam yang masih terjaga dengan baik, dengan segenap aktivitas warga yang hidup berdampingan dengan alam. Tak ayal, untuk kebutuhan sehari-hari, mereka turut memanfaatkan apa yang sudah tersedia di hutan sekitar termasuk urusan kecantikan.
Melansir penelitian yang ditulis oleh Aisyah Silmi Kaffah dari UIN Malang, berjudul "Etnobotani tumbuhan bahan kosmetik suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar di kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak provinsi Banten" Selasa (02/11), disebutkan jika para perempuan adat Baduy Luar dan Baduy Dalam, turut memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan kosmetik alami.
Advertisement
Dari hasil temuannya di lapangan, Aisyah menyebut jika para perempuan Baduy kerap memanfaatkan puluhan jenis tumbuhan di sekitar lingkungannya untuk perawatan kecantikan, mulai dari daun hingga batang termasuk umbi-umbian.
Untuk perempuan Suku Baduy Dalam sendiri, mereka memanfaatkan 19 famili dari 25 jenis tumbuhan. Sedangkan Suku Baduy Luar kerap memanfaatkan 10 famili dari 13 jenis tumbuhan sebagai bahan kosmetik tradisional.
“Tumbuhan yang digunakan Baduy dalam terdiri dari 10 organ yaitu daun, buah, rimpang, ranting, bunga, batang, akar, umbi, dan biji. Sedangkan hasil di Baduy Luar organ yang digunakan ada 6 yaitu daun, batang, biji, rimpang, buah, dan ranting.” Tulis Aisyah pada penelitian yang terbit tahun 2019 itu.
Advertisement
Adapun sejumlah tanaman yang kerap digunakan sebagai bahan kosmetik alami bagi warga Baduy Dalam adalah tumbuhan sirih, kecombrang, kicaang (kitolod), aren, pegagan, padi, pacar kuku, kersen, belimbing wuluh, dan pandaan.
Kemudian untuk perempuan Baduy Luar sejumlah tanaman yang digunakan adalah kecombrang, padi, pacar kuku, kersen, dan belimbing wuluh.
Terkait sumber pengambilan, masyarakat baik Baduy Dalam dan Baduy Luar sama-sama memperolehnya dari dalam hutan, termasuk ladang dan lahan budidaya yang akan ditanami secara tunggal maupun tumpang sari.
"Sumber Baduy Dalam dan Baduy Luar sama-sama memperoleh dari hutan dan Ladang atau budidaya" kata dia
Advertisement
Dalam pemanfaatannya, terdapat enam perawatan kecantikan yang biasa dilakukan oleh para perempuan Baduy di Kanekes seperti rongga mulut, perawatan bibir, perawatan wajah, perawatan tubuh, mencerahkan tubuh dan pembersihan organ kewanitaan.
Untuk membersihkan rongga mulut biasanya akan digunakan tumbuhan yang kasar, seperti serabut kelapa atau daun untuk membersihkan dan menguatkan gigi. Untuk menghilangkan aroma biasanya digunakan daun sirih yang direbus lalu dikumurkan.
Terkait perawatan bibir, perempuan Baduy biasa memakai buah Galuga (Bixa Orellana) yang akan menghasilkan warna lipstick alami, juga berfungsi menghaluskan bibir.
Selanjutnya, perempuan Baduy juga akan merawat wajah dengan masker alami berbahan buah asam jawa serta beras yang konon bisa menghilangkan bekas jerawat, mencerahkan wajah termasuk menghilangkan flek hitam.
Sedangkan untuk perawatan tubuh, mereka akan menggunakan batang honje sebagai pengganti sabun yang dimemarkan hingga menjadi serabut, kemudian digosok ke bagian tubuh dan menghasilkan aroma harum yang khas.
Terakhir, beberapa perempuan Baduy juga memperhatikan aspek kecantikan lainnya seperti pada kuku mereka. Daun pacar kuku atau Lawsonia Inermis akan digunakan untuk menghasilkan warna kuku yang unik dan menambah kecantikan mereka.
Diwariskan Turun Temurun
Dalam membuat racikan perawatan tubuh tersebut, biasanya warga Baduy Luar dan Dalam memiliki cara yang berbeda.
Disebutkan Aisyah, cara pengolahan kosmetik alami oleh Suku Baduy Dalam terdapat 10 langkah seperti, dikunyah, diiris, diparut, dipecahkan, dibakar, ditumbuk, dikerik, direbus, dikunyah, diremas dan tanpa pengolahan.
Sedangkan oleh Baduy Luar terdapat 6 cara pengolahan yaitu dengan cara ditumbuk, diremas, dipecahkan, diparut, dimasak, dan dikunyah.
Terkait pengetahuan seputar perawatan kecantikan tersebut, perempuan Baduy biasa mendapatkannya dari proses turun temurun yang diinformasikan sebelumnya oleh pendahulu atau leluhur sebelumnya
Pelestarian tumbuhan tersebut, oleh warga Baduy Dalam biasanya dilakukan dengan cara budidaya, reboisasi, tebang pilih dan menaati pikukuh (aturan adat). Sedangkan bagi Baduy Luar, mereka kerap melakukan budidaya dan reboisasi.